ISSN 2477-1686  

 Vol. 10 No. 24 Desember 2024

Kognisi Sosial: Fenomena Boneka Viral Labubu Pop Mart 

Oleh:

Tjistriana & Istiqomah

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dalam cara berpikir, merasa, dan bertindak. Fenomena sosial di sosial media sering kali memicu reaksi dan respons emosional yang kuat dari masyarakat. Salah satu contoh menarik adalah fenomena viral boneka Labubu dari Pop Mart, yang mendadak menjadi tren di kalangan kolektor dan pecinta benda-benda unik. Labubu Pop Mart ini lebih dari sekadar mainan; boneka tersebut dianggap merepresentasikan karakter lucu yang mampu menyenangkan hati orang yang melihatnya. Namun, fenomena ini juga mencerminkan bagaimana kognisi sosial memengaruhi cara seseorang melihat, memaknai, dan berperilaku terhadap tren sosial.

Apa Itu Kognisi Sosial?

Kognisi sosial adalah proses mental yang digunakan manusia untuk memahami dunia sosial dan bagaimana mereka berinteraksi dengan orang lain. Kognisi sosial melibatkan pemahaman tentang diri sendiri dan orang lain, membentuk persepsi sosial, sikap, dan keyakinan yang berdampak pada bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Myers (2012) menjelaskan bahwa proses kognisi sosial ini sering melibatkan berbagai faktor seperti stereotype (pola pikir umum yang kadang bersifat berlebihan atau tidak akurat), atribusi (menyebabkan perilaku atau perasaan tertentu kepada faktor internal atau eksternal), dan heuristik (jalan pintas mental dalam mengambil keputusan cepat). Fenomena Labubu Pop Mart adalah contoh konkret bagaimana kognisi sosial ini bekerja.

Mengapa Labubu Pop Mart Bisa Viral?

Fenomena viral seperti Labubu Pop Mart biasanya dipicu oleh beberapa faktor kognisi sosial. Salah satunya adalah efek framing, yaitu cara bagaimana informasi mengenai boneka ini disajikan dan diterima oleh masyarakat. Media sosial sering kali menampilkan Labubu Pop Mart sebagai benda lucu, menggemaskan, dan unik, sehingga banyak orang terdorong untuk mengikuti tren ini. Selain itu, adanya aspek imitasi sosial turut berperan. Ketika melihat orang lain, terutama tokoh atau influencer, memiliki atau mengoleksi boneka ini, masyarakat cenderung merasa terdorong untuk melakukan hal yang sama. Labubu Pop Mart pun seakan menjadi simbol identitas dan gaya hidup bagi kelompok tertentu, sehingga orang ingin ikut memiliki dan merasakan kepemilikan yang sama.

Apakah Kognisi Sosial Membantu atau Justru Merugikan?

Kognisi sosial dapat memberikan manfaat sekaligus tantangan. Di satu sisi, kognisi sosial membantu individu dalam memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Misalnya, melalui kognisi sosial, seseorang dapat lebih mudah bergaul dengan mengikuti tren yang sama dengan lingkungannya, sehingga dapat memperkuat koneksi sosial dan rasa kebersamaan. Namun, sisi negatifnya adalah munculnya bias kognitif, seperti stereotip atau heuristik, yang dapat membuat seseorang mengikuti tren tanpa berpikir kritis. Dalam kasus Labubu Pop Mart, banyak orang mungkin membeli boneka ini hanya karena popularitasnya, tanpa benar-benar mempertimbangkan nilai atau kebutuhan pribadi mereka, yang pada akhirnya bisa menyebabkan pemborosan atau penyesalan.

Peran Berpikir Kritis dalam Menghadapi Tren Sosial

Berpikir kritis adalah kemampuan yang sangat penting dalam menghadapi fenomena sosial seperti viralnya Labubu Pop Mart. Berpikir kritis memungkinkan seseorang untuk tidak langsung terpengaruh oleh arus tren yang sedang populer dan mempertanyakan apakah tren tersebut benar-benar bermanfaat atau sekadar konsumsi impulsif. Menurut Eggen & Kauchak (1996), berpikir kritis melibatkan analisis mendalam, evaluasi informasi, dan pemahaman tentang perspektif yang berbeda, yang akan membantu individu untuk membuat keputusan yang lebih rasional dan bijak.

Fenomena Labubu Pop Mart adalah contoh bagaimana kognisi sosial memengaruhi perilaku manusia dalam konteks sosial dan budaya modern. Melalui konsep-konsep seperti framing, imitasi sosial, dan stereotip, kita dapat melihat bahwa cara berpikir sosial masyarakat turut membentuk pilihan dan preferensi mereka. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis agar tidak terjebak dalam pola pikir yang dangkal atau konsumsi impulsif yang hanya berdasarkan tren. Berpikir kritis membantu kita menjadi individu yang lebih sadar, reflektif, dan bijaksana dalam menghadapi fenomena sosial.

Referensi:

Myers, D.G. (2012). Social Psychology. New York: McGraw-Hill.

Eggen, P. & Kauchak, D. (1996). Educational Psychology: Windows on  Classrooms. New Jersey: Prentice Hall.