ISSN 2477-1686

Vol.3. No.1, Januari 2017

 

Pentingnya Kelekatan Orang tua dengan Remaja

Selviana

FakultasPsikologi, UniversitasPersada Indonesia YAI

Gambaran Masa Remaja

Salah satu fase kehidupan yang di alami oleh setiap orang adalah masa remaja yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Banyak yang mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang indah karena pada masa ini, seseorang bisanya mulai memiliki pergaulan yang lebih dengan teman-temannya, mulai memiliki rasa ketertarikan dengan lawan jenis dan masa mencari jati diri.  Beberapa tokoh mengemukakan bahwa masa remaja sebagai “storm and stress” (badai dan tekanan) yang pada periode ini remaja mengalami konflik dan kontradiksi yang tidak terelakkan sehingga banyak mempengaruhi perilakunya(Gunarsa, 2012; Hurlock, 1999).  Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) yang mencetuskan istilah storm and stress (topan dan tekanan) mengemukakan bahwa remaja sebagai masa goncangan yang ditandai dengan konflik dan perubahan suasana hati. Menurut Hall, dalam masa ini pikiran, perasaan dan perilaku remaja berubah-ubah antara kesombongan dan kerendahan hati, baik dan godaan, kebahagiaan dan kesedihan. Pada suatu saat remaja mungkin bersikap buruk terhadap kawan, tetapi baik pada saat yang lain remaja ingin berada sendirian pada suatu waktu, tetapi beberapa waktu kemudian mencari teman.

Sementara itu, Barnet (dalam Gunarsa, 2009) mengungkapkan bahwa ada tiga elemen kunci pada masa badai dan tekanan yang terjadi pada remaja. Pertama, konflik dengan orang tua yang mencakup larangan-larangan, misalnya kesopanan dalam berpenampilan, kapan diperbolehkan untuk berpacaran, kemana saja boleh bepergian, serta jam berapa harus sampai di rumah. Kedua, gangguan suasana hati seperti perasaan aneh atau perasaan tidak nyaman, perasaan khawatir, gugup dan perasaan kurang diperhatikan. Ketiga, kecenderungan melakukan hal-hal yang beresiko yakni perilaku-perilaku yang secara potensial dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain misalnya menggunakan narkoba, melakukan hubungan seks di luar nikah, aborsi dan lain-lain.

Apa Pentingnya Kelekatan Orangtua dengan Remaja?

Collins dan Sprinthall (1995) menyatakan bahwa pengaruh orangtua secara signifikan mempengaruhi perkembangan selama remaja bahkan melampaui masa remaja. Orangtua memiliki implikasi yang luas bagi kehidupan remaja di luar keluarga dalam hubungannya dengan teman sebaya, guru dan orang dewasa lainnya; atmosfer emosional keluarga, cara orang tua melatih dan mengajarkan anak-anaknya dapat membentuk arah masa depan kehidupan remaja. Selanjutnya Singgih dan Susantoputri (dalam Gurnarsa, 2000) menyatakan bahwa kelekatan orang tua dengan anak remaja dapat mencegah timbulnya perilaku deliquen pada anak remaja. Pada keluarga yang harmonis terlihat adanya afeksi timbal balik yang hangat dan positif antara orang tua dengan anak remaja, sedangkan pada keluarga yang kurang harmonis akan memunculkan afeksi yang negatif yakni remaja tidak mendapatkan perhatian dan dukungan dari orang tua, bahkan penolakan dari orang tua.

Sifat-sifat Orangtua yang diinginkan Remaja

Singgih dan Susantoputri (dalam Gunarsa, 2009) menyebutkan sifat-sifat orang tua yang diinginkan remaja, yaitu:

1.    Perhatian Orang Tua dan Dukungannya

Salah satu cara remaja mengetahui bahwa orang tua menaruh perhatian  dan dukungan adalah dari cara orang tua memperhatikan, memberi waktu bersama dan kesediaan mendampingi.

2.    Mendengarkan dan Perhatian yang Empatik

Remaja mengungkapkan keinginannya agar orang tua mau berbincang-bincang bersama secara simpatik, pendengar yang penuh perhatian, orang tua yang merasakan bahwa anaknya mengatakan hal yang berarti.

3.    Kasih Sayang dan Afeksi Positif

Remaja mengharapkan agar orang tuanya sekali-kali mengatakan menyayangi dirinya. Remaja juga membutuhkan dukungan intrinsik seperti apresiasi dan rasa sayang dan dukungan ekstrinsik seperti memeluk, mengajak berlibur serta membeli kado khusus anak.

4.    Penerimaan dan Persetujuan

Suatu cara untuk menunjukkan kasih sayang kepada remaja adalah dengan mengenal dan menerima remaja sebagaimana adanya, termasuk kekurangan dan kelebihnnya. Remaja perlu tahu bahwa dirinya dihargai, diterima dan disayang oleh orang tuanya. Remaja ingin orang tuanya memperlihatkan toleransi terhadap individualitasnya, dan perbedaan antar pribadi dalam keluarga.

5.    Kepercayaan pada Remaja

Remaja merasa orang tua semestinya mempercayai sepenuhnya kecuali bila remaja sendiri yang memberi alasan/melakukan hal-hal yang membuatnya tidak bisa dipercayai.

6.    Pemisahan Individuasi dan Otonomi

Keinginan setiap remaja adalah diterima sebagai orang dewasa yang otonom. Hal ini dicapai melalui proses pemisahan-individuasi ketika ikatan orang tua-remaja diubah, tetapi hubungan dipertahankan. Remaja membentuk individualitas dan keterikatan dengan orang tua pada waktu yang sama. Remaja membentuk hubungan berdiferensiasi dengan orang tua, sedangkan komunikasi, afeksi, dan rasa peraya berlangsung terus. 

Pendekatan Orang tua dalam Mencegah Kenakalan Remaja

Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Bisa jadi ungkapan ini benar bahwa mencegah kenakalan remaja menjadi lebih baik dibanding menangani remaja yang sudah jatuh pada berbagai permasalahan/kenakalan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kelekatan secara psikologis dengan orang tua merupakan suatu hal yang penting bagi remaja. Remaja yang memiliki hubungan yang aman dengan orangtuanya akan memiliki kesejahteraan emosional yang lebih baik (Singgih & Susanto Putri dalam Gunarsa 2009). Remaja juga akan dapat memiliki hubungan yang positif dengan teman sebaya serta dapat membantu remaja untuk memiliki hubungan bermakna dan perasaan berharga pada masa dewasa awal.

Pendekatan lainnya adalah orang tua sangat perlu menjadi model bagi remaja. Dalam hal ini remaja ingin merasa bangga dengan orang tua yang dapat di hormati dan di kagumi, oleh karena itu orang tua harus mampu melakukan apa yang diajarkannya pada anak remaja. Dengan kata lain, orang tua harus menjadi contoh/teladan inspirasi bagi anak remaja sehingga anak remajanya mau mendengarkan nasihat dan segala sesuatu yang diajarkan orang tuanya.

Referensi:

Collins, W. A., & Sprinthall, N. A. (1995). Adolescent psychology a developmental view. New York: McGraw Hill.  

Gunarsa, Singgih. (2009). Dari anak sampai usia lanjut bunga rampai psikologi perkembangan. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Hurlock, E. (1999). Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Santrock, J. W. (2003). Adolescence 6th ed., Perkembangan remaja. Jakarta: Penerbit Erlangga.