ISSN 2477-1686 

 

Vol. 10 No. 04  Februari 2024

 

Alexithymia: Telaah Karakter Sheldon Cooper

 

Oleh:

Nurul Adiningtyas

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Siapa yang tidak mengenal Dr. Sheldon Cooper? Tokoh fiksi dari serial The Big Bang Theory ini memiliki karakter eksentrik, seperti yang dijelaskan oleh Christine Winston dalam artikelnya yang dipublikasikan dalam jurnal Psychology of Popular Media Culture. Menurut Winston, Sheldon digambarkan sebagai seseorang dengan alexithymia yang cukup parah yang mengalami ketidaknyamanan yang signifikan dengan emosi. Responnya terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kondisi afektifnya biasanya dengan kalimat, “Maaf, saya tidak memahami pertanyaannya.” (Prady, et. Al dalam Winston, 2014). Ia juga mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaannya dan ia cenderung mengaitkan gangguan emosional dengan kondisi somatic, yang merupakan salah satu karakteristik dari alexithymia (Taylor, dkk dalam Winston 2014). Salah satu contoh, setiap kali ia berkonflik dengan sahabatnya, ia akan mengatakan bahwa ia mengalami masalah pencernaan akibat dari distress emosional.

 

Alexithymia adalah istilah untuk menggambarkan masalah emosi, yang jika diterjemahkan secara harfiah dari Bahasa Yunani berarti “tidak ada kata untuk emosi”. Alexithymia  merupakan sebuah sindrom klinis yang bukan merupakan diagnosa tersendiri, namun alexithymia sering muncul pada orang-orang yang didiagnosa dengan gangguan tertentu seperti spektrum autis ataupun depresi. Alexithymia juga sering dikaitkan dengan masalah somatic dan regulasi emosi (Taylor & Bagby, 2004).

 

Individu dengan alexithymia biasanya memiliki masalah dengan introspeksi dan mengalami kesulitan dalam mengamati proses mental dan emosional mereka sendiri. Perlu perjuangan yang keras bagi mereka untuk dapat mengomunikasikan emosi mereka pada orang lain. Mereka juga mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi dan memberikan respon yang sesuai terhadap ekspresi emosi dari orang lain. Pada kasus Sheldon Cooper, ia sering sekali menghadapi masalah karena ia tidak mampu untuk mengenali ketika seseorang merasa marah padanya.

 

Sheldon Cooper, yang diduga berada dalam spektrum autism, berusaha untuk mempelajari hubungan sebab-akibat dari berbagai peristiwa yang mungkin akan memicu munculnya emosi tertentu, yang tentu saja juga merupakan bagian dari alexithymia. Individu dengan alexithymia cenderung menggunakan logikanya dibandingkan berusaha untuk melakukan introspeksi diri dalam rangka upaya mereka untuk mengenali isyarat social dan emosional. Sayangnya hal ini terkadang membuat mereka salah mempersepsikan emosi yang diekspresikan oleh orang lain terutama dalam situasi ambigu seperti ujaran-ujaran yang bersifat sarkastik.

 

Hingga saat ini, belum diketahui penyebab pasti dari alexithymia. Penelitian yang pernah dilakukan pada saudara kembar menunjukkan bahwa alexithymia dapat disebabkan oleh factor genetic. Penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa factor lingkungan seperti trauma masa kecil dan kondisi sosioekonomi juga memiliki peran dalam munculnya alexithymia. Faktor penyebab lain yang pernah diteliti adalah adanya cedera pada otak.

Alexithymia terdeteksi pada pria hampir dua kali lebih banyak dibandingkan pada wanita. Individu dengan alexithymia biasanya memiliki status sosioekonomi rendah dan kecerdasan emosional yang rendah. Walaupun kebanyakan individu dengan alexithymia sudah memiliki sindrom ini hampir seumur hidup mereka, disebut juga sebagai alexithymia primer, trauma yang terjadi pada masa dewasa ternyata juga bisa menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk mendeskripsikan dan mengekspresikan emosi mereka, sesuatu yang disebut sebagai alexithymia sekunder. Berbeda dengan alexithymia primer, alexithymia sekunder biasanya bersifat sementara dan ketika seseorang berhasil mengatasi trauma yang mereka alami, alexithymia yang menjadi akibat dari trauma tersebut juga akan hilang.

 

Menelaah karakter Sheldon Cooper dari serial Young Sheldon, yang merupakan spin-off dari The Big Bang Theory, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Sheldon Cooper sudah mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan dan mengekspresikan emosinya sejak kecil. Memang cukup banyak trauma yang dialami oleh Sheldon pada masa kecilnya, seperti menyaksikan orang tuanya berhubungan intim, atau perundungan yang dilakukan oleh tetangganya, tetapi cerita seri ini menunjukkan bahwa kekakuan emosional Sheldon Cooper bukan merupakan akibat dari trauma.

 

Lalu apakah alexithymia ini tidak dapat disembuhkan? Sama seperti yang dilakukan oleh Sheldon Cooper, individu dengan alexithymia awalnya dapat mempelajari isyarat-isyarat social dan emosional dengan menggunakan logika mereka. Kemudian dengan memanfaatkan logika tadi, individu dengan alexithymia dapat diajarkan untuk mengeksplorasi perasaan mereka dimulai dari sensasi tubuh yang mereka rasakan ketika mereka mengalami suatu peristiwa yang dapat memicu munculnya emosi yang intens. Lama-kelamaan, mereka akan belajar untuk lebih sensitive dengan sensasi yang muncul sebagai respon dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka. Penulis sendiri biasanya memberikan tugas untuk membaca buku fiksi kepada klien yang terindikasi mengalami alexithymia agar mereka dapat membayangkan dan menggambarkan emosi yang dialami oleh tokoh dalam buku dan mulai dapat berempati dengan tokoh tersebut. Diharapkan, dengan terapi ini, individu dengan alexithymia mampu belajar untuk mengenali dan mengekspresikan emosi mereka, walaupun mungkin tidak akan bisa seluwes individu yang tidak mengalami alexithymia.

 

Referensi:

 

Taylor, G. J. & Bagby, R. M. (2004). New Trends in Alexithymia Research. Psychotherapy and Psychosomatic 2004;73:68–77 DOI: 10.1159/000075537

Winston, C. (2014). Evaluating Media's Portrayal of An Eccentric-Genius: Dr. Sheldon Cooper. Psychology of Popular Media Culture. 10.1037/ppm0000060. https://www.researchgate.net/publication/266141056_Evaluating_Media's_Portrayal_of_An_Eccentric-Genius_Dr_Sheldon_Cooper Dikutip pada 13 Februari 2024