ISSN 2477-1686 

Vol. 10 No. 03  Februari 2024

 

“Keringat merupakan tangisan lemakmu”:

Ketidakpuasan Tubuh pada Laki-laki Pengguna Pusat Kebugaran di Fase Dewasa Muda

 

Oleh:
Presley Reinhard & Nanda Rossalia

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

Pusat kebugaran, atau yang biasa disebut gym, adalah suatu tempat atau fasilitas yang menawarkan alat-alat ataupun sarana olahraga untuk melatih kebugaran dan kesehatan. Beberapa atau kebanyakan dari kita berpikir bahwa pusat kebugaran digambarkan sebagai suatu tempat yang menyehatkan fisik, mental, dan memenuhi kebutuhan sosial, tetapi sayangnya pusat kebugaran merupakan lingkungan sosial yang dipengaruhi kuat oleh standar tubuh ideal (Stapleton et al., 2014). Penelitian Stapleton et al. (2014) kemudian menemukan bahwa laki-laki yang menggunakan pusat kebugaran memiliki ketidakpuasan tubuh lebih tinggi dibanding laki-laki bukan pengguna pusat kebugaran.

 

Ketidakpuasan tubuh dalam pusat kebugaran pada laki-laki kemudian menjadi suatu isu yang perlu diwaspadai. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah standar tubuh ideal, tekanan lingkungan sekitar, dan budaya pusat kebugaran yang menyulitkan individu untuk merasa puas terhadap tubuhnya (Lamarche et al., 2018; Liu et al., 2018; Freire et al., 2020). Dampak dari ketidakpuasan tersebut dapat beragam pula. Body dissatisfaction disebut sebagai salah satu penyebab dalam perilaku berolahraga kompulsif (Ruelas et al, 2023; Palermo & Rancourt, 2023). Selain itu, lingkungan pusat kebugaran juga dapat menyebabkan penggunaan steroid anabolik-androgenik (Andreasson & Johansson, 2014 ; Christiansen, 2020). Kemudian, budaya pusat kebugaran mendorong pola makan yang dapat mengancam kesehatan (Andreasson & Johansson, 2014).

 

Laki-laki dewasa muda, yakni yang berusia 18-25 tahun, adalah kelompok yang rentan terhadap fenomena ini. Kok bisa? Ya, sebab ada beberapa hal. Pertama, laki-laki dewasa muda adalah fase yang sempurna bagi para laki-laki untuk mengeksplorasi identitas diri, mengingat pertanggungjawaban yang dimiliki belum sebesar masa dewasa penuh (Arnett, 2006). Kemudian, kebebasan bereksplorasi tersebut mendorong laki-laki dewasa muda untuk terlibat dalam aktivitas-aktivitas fisik seperti berolahraga dan menggunakan pusat kebugaran (Henchoz et al., 2014). Ditambah lagi, pada rentang usia ini, laki-laki memiliki potensi untuk mencapai kemampuan fisik tertinggi (Santrock, 2019). Bicara soal fisiologis, hormon testosteron setelah pubertas juga akan membantu laki-laki dalam membentuk otot melalui latihan mengangkat beban (Gavin, 2022).

 

Di Indonesia, Istianah (2019) mengatakan bahwa pelaku kebugaran secara prosentase didominasi oleh kalangan dewasa muda. Istianah (2019) kemudian menambahkan bahwa laki-laki dewasa muda mendominasi pusat kebugaran di lingkungan perkotaan besar Indonesia dengan persentase sebesar 82.5%. Sementara, populasi laki-laki dewasa muda di Indonesia berkisar kurang lebih 20% dari 138,45 juta laki-laki segala usia (Badan Pusat Statistik, 2022). Hal ini menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap kelompok laki-laki dewasa muda dalam pengguna pusat kebugaran.

 

Gambaran ketidakpuasan tubuh laki-laki dewasa muda pengguna pusat kebugaran

Ketidakpuasan tubuh terlihat dari empat aspek ketidakpuasan tubuh, di antaranya adalah perseptual, afektif, kognitif, dan perilaku.

 

     Pada aspek perseptual, seseorang bisa memandang tubuhnya tidak memuaskan dan terdapat bagian-bagian tubuh yang tidak disukai, seperti bagian tangan, lengan, perut, paha, postur punggung, dan lain-lain.

 

     Pada aspek afektif, seseorang dapat berperasaan negatif yang disebabkan ketidakpuasan terhadap tubuhnya. Contohnya seperti stres karena tidak terlihat kemajuan, tidak percaya diri, dan tidak senang.

 

     Pada aspek kognitif, seseorang bisa memiliki keyakinan yang tidak akurat terkait dengan tubuhnya dan ekspektasi tubuh ideal yang kurang realistis. Contohnya adalah mengasumsi orang lain menilai tubuhnya, dan memiliki tubuh besar yang macho seperti tokoh fiksi di film.

 

     Pada aspek perilaku, seseorang melakukan perubahan, tindakan, dan kebiasaan yang dipengaruhi oleh ketidakpuasan terhadap tubuh. Hal ini terwujud dalam berbagai hal, mulai dari yang ringan seperti sering menimbang berat badan, ke pola makan yang ‘ekstrim’, olahraga berlebihan, hingga menggunakan obat-obatan steroid.

 

Lantas, apa yang perlu dilakukan?

Ada beberapa hal yang perlu dicermati bagi dua pihak penting yang terkait isu ini. Pertama, bagi para laki-laki dewasa muda pengguna pusat kebugaran, disarankan untuk berhati-hati dalam mengakulturasi budaya pusat kebugaran pada diri, mengingat adanya pengaruh budaya pusat kebugaran terhadap ketidakpuasan tubuh. Selain itu, bagi para pemula dan pengguna lama dari pusat kebugaran, disarankan untuk menetapkan sebuah target spesifik, terukur, realistis, dapat diraih, dan dibatasi oleh waktu. Dengan target tersebut, diharapkan dapat meminimalisir ketidakpuasan yang tidak terhingga. Kemudian, bagi pihak pusat kebugaran, perlunya mempromosikan perlunya memiliki tubuh yang sehat dibanding mempromosikan pentingnya memiliki bentuk tubuh tertentu yang dianggap ideal. Hal ini untuk meminimalisir pengejaran bentuk tubuh ideal yang dapat berujung pada ketidakpuasan tubuh.

 

Kesimpulan

Pusat kebugaran, terlepas dari tujuan kesehatannya, dapat saja menimbulkan ketidakpuasan tubuh pada laki-laki dewasa muda. Hal ini kemudian mengarah pada perilaku-perilaku berisiko pada kesehatan yang jelas kurang baik. Dominasi laki-laki dewasa muda sebagai pengguna pusat kebugaran di Indonesia menunjukkan perlu adanya perhatian terhadap hal ini, karena mungkin saja dapat berdampak pada empat aspek ketidakpuasan tubuh, yang dimulai dari perseptual, afektif, kognitif, dan perilaku. Selanjutnya, pengguna pusat kebugaran kemudian disarankan untuk memahami pengaruh budaya pusat kebugaran dan menetapkan target yang realistis. Sementara, pihak pusat kebugaran perlu mempromosikan kesehatan sebagai fokus utama untuk meminimalisir ketidakpuasan tubuh.

 

Referensi:

 

Andreasson, J., & Johansson, T. (2014). The fitness revolution. Historical transformations in the global gym and fitness culture. Sport Science Review, 23(3–4). https://doi.org/10.2478/ssr-2014-0006

Arnett, J.J. (2006). Emerging adulthood: Understanding the new way of coming of age. In J.J. Arnett & J.L. Tanner (Eds.), Emerging adults in America. American Psychological Association.

Badan Pusat Statistik. (2022). Perempuan dan laki-laki di Indonesia 2022. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/publication/2022/12/16/a37fb493455d772274cc2314/perempuan-dan-laki-laki-di-indonesia-2022.html

Christiansen, A. V. (2020). Gym Culture, Identity and Performance-Enhancing Drugs. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781003018438

Freire, G. L. M., Da Silva Paulo, J. R., Da Silva, A. A., Batista, R. P. R., Alves, J. F. N., & Júnior, J. R. a. D. N. (2020). Body dissatisfaction, addiction to exercise and risk behaviour for eating disorders among exercise practitioners. Journal of Eating Disorders, 8(1). https://doi.org/10.1186/s40337-020-00300-9

Istianah, A. A. (2019). Mekanisme pendisiplinan tubuh laki-laki dan perempuan melalui wacana fitness di situs Reps ID [Master thesis, Universitas Diponegoro]. Diponegoro University Institutional Repository.

Henchoz, Y., Dupuis, M., Deline, S., Studer, J., Baggio, S., N’Goran, A. A., Daeppen, J., & Gmel, G. (2014). Associations of physical activity and sport and exercise with at-risk substance use in young men: A longitudinal study. Preventive Medicine, 64, 27–31. https://doi.org/10.1016/j.ypmed.2014.03.022

Lamarche, L., Gammage, K. L., & Ozimok, B. (2018). The gym as a culture of body achievement: Exploring negative and positive body image experiences in men attending university. SAGE Open, 8(2), 215824401877810. https://doi.org/10.1177/2158244018778103

Liu, H., Chang, C., Gill, D. L., Wu, S., & Lu, F. J. (2018). Male weight trainers’ body dissatisfaction and exercise dependence: Mediating role of muscularity drive. Psychological Reports, 122(6), 2137–2154. https://doi.org/10.1177/0033294118805010

Palermo, M., & Rancourt, D. (2023). Anxiety, body dissatisfaction, and exercise identity: Differentiating between adaptive and compulsive exercise. Eating Behaviors, 49, 101755. https://doi.org/10.1016/j.eatbeh.2023.101755

Ruelas, J. A., Kaczmar, K. S., Almaraz, E. L., & Livingston, J. (2022). Types of exercise and the relationship between body image dissatisfaction and compulsive exercise behaviors. Journal of Sports Medicine and Physical Fitness, 63(1). https://doi.org/10.23736/s0022-4707.22.13885-5

Santrock, J. (2019). Life-Span development. McGraw-Hill.

Stapleton, P., McIntyre, T., & Bannatyne, A. (2014). Body image avoidance, body dissatisfaction, and eating pathology. American Journal of Men’s Health, 10(2), 100–109. https://doi.org/10.1177/1557988314556673