ISSN 2477-1686

 

Vol. 9 No. 21 November 2023

 

Peran Bias Berpikir dalam Masalah Lingkungan di Indonesia

 

Oleh:

Made Syanesti Adishesa

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Pusat Studi Masyarakat Berkelanjutan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

Mengatasi masalah lingkungan di Indonesia bukanlah perkara yang mudah. Solusi yang diperlukan perlu melibatkan banyak pihak dan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan politik yang ada di Indonesia. Akan tetapi, tingkat pengetahuan, kesadaran, dan sikap masyarakat Indonesia terhadap masalah lingkungan amat beragam. Sebuah survei nasional tahun 2018 terhadap orang Indonesia (n = 2097) menemukan bahwa tingkat kesadaran orang Indonesia tentang masalah perubahan iklim dapat dibagi menjadi lima kategori: 1) orang yang memiliki pemahaman komprehensif tentang penyebab dan dampak perubahan iklim, 2) orang yang mengetahui penyebabnya namun tidak memahami dampaknya, 3) orang yang menyadari dampak perubahan iklim namun tidak tahu penyebabnya, 4) orang yang mengetahui keberadaan isu perubahan iklim namun tidak tahu penyebab maupun dampaknya, dan 5) orang yang sama sekali tidak mengetahui tentang perubahan iklim (USAID, 2018). Artinya, tidak semua orang Indonesia mengetahui bahwa perubahan iklim memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, dan bahwa penyebab utama dari masalah tersebut adalah manusia. Survei lain yang melibatkan 192 negara juga menemukan orang Indonesia (n = 1178) memiliki kemungkinan paling kecil dibanding negara lain untuk menyatakan bahwa perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia (Leiserowitz et al., 2022). Lantas, benarkah masalah lingkungan tidak penting bagi orang Indonesia?

 

Seberapa penting suatu masalah umumnya digambarkan dengan cara mengukur resiko. Semakin tinggi tingkat keparahan dan semakin besar kemungkinan resiko tersebut terjadi, maka suatu masalah akan dianggap ‘penting’. Akan tetapi, pembahasan tentang resiko yang ditimbulkan oleh masalah lingkungan memiliki keunikan dibanding resiko masalah lain. Pertama, hampir semua masalah lingkungan dapat muncul karena akumulasi perilaku dari banyak orang. Oleh karena itu, mitigasi resiko terkait masalah lingkungan umumnya juga perlu melibatkan tindakan dari berbagai pihak. Kedua, konsekuensi resiko yang mungkin terjadi dari masalah lingkungan juga umumnya terjadi jauh di masa depan atau terjadi di wilayah yang jauh secara geografis. Sebagai contoh, pembuangan limbah di hulu sungai suatu mungkin tidak berdampak langsung pada wilayah tersebut, tetapi merugikan bagi warga yang tinggal di daerah hilir sungai. Hal ini dapat mempengaruhi penilaian subjektif masyarakat tentang potensi resiko yang ditimbulkan dari perilaku yang merugikan lingkungan. Dalam contoh pembuangan limbah tadi, masyarakat yang tinggal di daerah hulu mungkin merasa perilaku pembuangan limbah tidak beresiko. Tentu saja masyarakat yang tinggal di daerah hilir mungkin memiliki pendapat berbeda. Ini pula yang membuat pembahasan mengenai resiko masalah lingkungan dapat mengangkat isu etika. Pada umumnya, perdebatan etis berkisar seputar kepada siapa tanggung jawab untuk memitigasi resiko masalah lingkungan perlu dibebankan.

 

Faktor-faktor di atas menyebabkan penilaian kita mengenai masalah menjadi rentan terhadap bias. Penilaian subjektif seseorang tentang tentang karakteristik dan tingkat keparahan resiko masalah lingkungan disebut sebagai environmental risk perception (Böhm & Tanner, 2018). Persepsi resiko menjadi hal yang penting dibahas dalam masalah lingkungan, karena bersifat subjektif terlepas dari kenyataan mengenai masalah yang ada. Persepsi resiko juga merupakan produk kognitif yang tidak terlepas dari bias berpikir. Sebagai contoh, resiko masalah lingkungan yang umumnya terjadi jauh di masa depan dapat membuat kita melakukan temporal discounting, yaitu menganggap dampak yang terjadi di masa depan tidak sesignifikan dampak jangka pendek. Bias ini dapat membuat kita menganggap remeh masalah lingkungan (karena dianggap akan terjadi jauh di masa depan) dan mengutamakan keuntungan jangka pendek dibandingkan kepentingan jangka panjang (sebagai contoh, membuang sampah sembarangan karena hemat waktu alih-alih memikirkan resiko masalah lingkungan dari tumpukan sampah). Seperti yang disebutkan oleh Slovic, “bahaya bersifat nyata, tetapi resiko adalah konstruk sosial” (Slovic, 1999).

 

Referensi:

 

Böhm, G., & Tanner, C. (2018). Environmental Risk Perception. In Environmental Psychology (pp. 13–25). Wiley. https://doi.org/10.1002/9781119241072.ch2

Leiserowitz, A., Carman, J., Buttermore, N., Neyens, L., Rosenthal, S., Marlon, J., Schneider, J., & Mulcahy, K. (2022). International Public Opinion on Climate Change.

Slovic, P. (1999). Trust, emotion, sex, politics, and science: surveying the risk-assessment  battlefield. Risk Analysis : An Official Publication of the Society for Risk Analysis, 19(4), 689–701. https://doi.org/10.1023/a:1007041821623

USAID. (2018). Indonesian Public Opinions on Environmental Issues a National Survey. https://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PA00TMNG.pdf