ISSN 2477-1686

 

Vol. 9 No. 19 Oktober 2023

 

Ibu Pertama Kali Melahirkan dan Mengalami Baby Blues,

Mari Kita Beri Dukungan!

 

Oleh:

Vanessa Arieputri & Fransisca Rosa Mira Lentari

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

 

Ibu dan Pengalaman Melahirkan

Periode pasca kelahiran sering dianggap sebagai fase yang menantang bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan (Verbiest, McClain, Stuebe, & Menard, 2016). Periode ini ditandai dengan berbagai macam perubahan fisik dan emosional yang signifikan bagi seorang ibu. Dalam aspek fisik, tubuh wanita mengalami banyak transformasi dan adaptasi saat mengandung (Mattson & Smith dalam Santrock, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Ansara, Cohen, Gallop, Kung, dan Schei (2000) terhadap 200 wanita di Toronto mengungkapkan bahwa 96% ibu baru mengalami setidaknya satu masalah kesehatan fisik. Masalah ini ditandai dengan gejala seperti kelelahan ekstrim, migrain, ketidaknyamanan punggung bawah, dan lain-lain. Sedangkan, masalah emosional yang dialami oleh seorang ibu yang baru saja melahirkan cenderung disebabkan oleh perubahan hormon.  Perubahan hormon yang kurang stabil ini dapat menjadi salah satu aspek terjadinya perubahan emosional pada ibu baru (Kirana, 2015). Selain itu, istirahat yang tidak cukup akibat pola tidur bayi yang tidak dapat diprediksi juga dapat menyebabkan peningkatan stres, potensi konflik dalam pernikahan, kemampuan kognitif ibu yang terganggu, dan potensi timbulnya tantangan emosional pasca kelahiran, yang biasa disebut sebagai sindrom baby blues (Meerlo, Sgoifo, & Suchecki dalam Santrock, 2011).

 

Apa itu Baby Blues?

Sindrom baby blues mengacu pada perasaan sedih yang dialami ibu setelah melahirkan, yang merupakan penyesuaian alami setelah melahirkan. Sindrom ini biasanya terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan dan cenderung meningkat sekitar hari ketiga atau keempat pasca persalinan (Murtiningsih, 2011). Gejala-gejala emosional yang mungkin menunjukkan seorang ibu mengalami sindrom baby blues meliputi: 1) perasaan ibu yang diliputi oleh kesedihan, 2) air mata yang tidak dapat dijelaskan, 3) peningkatan lekas marah, 4) kegelisahan, 5) tingkat energi yang berkurang, 6) ketakutan, 7) menyalahkan diri sendiri, 8) rasa tidak mampu, 9) ketidaktertarikan pada bayinya atau protektif berlebihan, 10 ) kurang percaya diri, dan 11) manifestasi tambahan (Atus, 2011).

 

Asal usul sindrom baby blues dibentuk oleh kombinasi elemen internal dan eksternal. Faktor internal mencakup perubahan hormonal, aspek psikologis dan kepribadian, serta kesehatan secara keseluruhan. Di sisi lain, faktor eksternal terkait dengan adanya bantuan dari individu dalam lingkaran ibu dan dukungan emosional dari rekan terdekat (Henshaw, 2003). Baby blues dapat menyebabkan berkurangnya kesejahteraan psikologis ibu baru sehingga mempengaruhi tingkat stres dan depresi yang mereka hadapi, baik dalam waktu dekat maupun berkepanjangan, serta mempengaruhi ikatan antara ibu dan keturunannya. Dalam jangka pendek, terjadinya sindrom baby blues dapat dikaitkan dengan frekuensi ibu menyusui bayinya. Temuan penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa ibu yang mengalami sindrom ini cenderung berdampak pada praktik menyusui mereka (Henshaw, 2003). Sedangkan, dalam jangka waktu yang panjang, adanya baby blues dan depresi ibu dapat menyebabkan penurunan kemampuan anak. Beberapa aspek kemampuan anak yang dapat terpengaruh mencakup bakat mereka untuk perkembangan kognitif dan fisik, keterampilan emosional dan interpersonal, yang pada akhirnya menumbuhkan rasa tidak aman dan ketergantungan pada ibu mereka (Pradly & Kieman, 2012). Hal ini menggarisbawahi pentingnya mengatasi sindrom baby blues pada ibu untuk mencegah konsekuensi jangka panjang pada hubungan ibu-anak sepanjang fase pertumbuhan anak.

 

Dukungan Sosial

Setelah mengenali dampak jangka pendek dan panjang dari sindrom baby blues pada seorang ibu, perlu diketahui bahwa salah satu faktor yang dapat membantu seorang ibu dalam menghadapi baby blues adalah dukungan sosial dari orang-orang terdekat. Dukungan sosial ini dapat diterima dalam konteks kekeluargaan, pertemanan, antar tetangga, sampai dengan kelompok-kelompok kecil (Whittaker dalam Streeter & Franklin, 1992). Dukungan sosial ini diartikan sebagai dukungan yang memastikan kehadiran dan kecukupan bantuan yang diterima saat dibutuhkan, dan evaluasinya didasarkan pada interpretasi subjektif individu yang bervariasi sesuai dengan signifikansi pribadi yang dikaitkan dengan dukungan yang diterima (Barrera, 1986). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan tiga partisipan ibu yang baru memiliki anak pertama, ditemukan bahwa dukungan sosial dapat berupa:

1) Dukungan emosional merupakan bentuk dukungan yang paling penting. Dukungan ini dapat berupa empati dan dukungan emosional yang positif dari suami, orang tua, dan mertua.

2)   Dukungan nyata dari suami, orang tua, dan saudara berupa bantuan menjaga anak dan bantuan mengurus rumah tangga. Hal ini dikarenakan dengan dukungan menjalankan tugas yang ada, ibu dapat meluangkan waktu untuk beristirahat dan mencari ketenangan dengan melakukan hal-hal yang disukai.

3)    Dukungan informasi dalam bentuk saran dan petunjuk dari teman-teman dan keluarga yang sudah memiliki pengalaman dalam melahirkan, menyusui anak, dan pernah mengalami baby blues syndrome.

4) Dukungan berupa kehadiran suami dan orang tua dalam bentuk fisik. Dukungan ini dapat membantu partisipan dalam melewati masa-masa sulit dalam merasa kesepian dan tidak berharga selama mengalami baby blues syndrome.

 

Referensi:

 

Ansara, D., Cohen, M.M., Gallop, R., Kung, R., & Schei, B. (2005). Predictors of women's physical health problems after childbirth. Journal of Psychosomatic Obstetrics and Gynecology, 26(2), 115–125.

Atus. (2011). Faktor-faktor yang memengaruhi munculnya baby blues. Bandung: Alfabeta.

Barrera, M. (1986). Distinctions between social support concepts, measures, and models. American Journal of Community Psychology, 14, 413-445.

Henshaw, C. (2003). Mood disturbance in the early puerperium: a review. Archieves of Women’s Mental Health, 6(2), 33-42.

Kirana, Y. (2015). Hubungan tingkat kecemasan post-partum dengan kejadian post-partum blues di rumah sakit dustira Cimahi. Jurnal ilmu keperawatan, 3 (1), 25-37.

Murtiningsih, A. (2012). Mengenal baby blues dan pencegahannya. Jakarta: Niaga Swadaya.

Pradly, S.L., Kieman, K.E. (2012). The effect of post-natal: mental distress among Indian and Pakistani mothers living in England on children’s behavioral outcomes. Child Care Health Development, 39(4), 251- 258.

Santrock, J. W. (2011). Life-span development (13rd Ed.). McGraw-Hill: New York.

Smith, L. E., & Howard, K. S. (2008). Continuity of paternal social support and depressive symptoms among new mothers. Journal of Family Psychology, 22, 763–773.

Streeter, C.L. & Franklin, C. (1992). Defining and measuring social support: guidelines for social work practitioners. Research on Social Work Practice, 2(1), 81-98.

 

Verbiest, S., McClain E., Stuebe, A., Menard, M. K. (2016). postpartum health services requested by mothers with newborns receiving intensive care, Matern Child Health J., 20(1), 125-131.