ISSN 2477-1686

 

Vol. 9 No. 13 Juli 2023

 

ART THERAPY

Solusi Kreatif Mengatasi Stress

 

Oleh

Dinda Sanjaya & Dina Nazriani

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara 

 

Lazarus dan Folkman (1984), mengemukakan bahwa stress adalah hubungan antara individu dengan lingkungannya yang dievaluasi oleh individu tersebut sebagai suatu tuntutan atau ketidakmampuan dalam menghadapi situasi atau keadaan yang mengancam. Tuntutan dan keadaan tersebut dapat menimbulkan ketegangan secara fisik dan psikis.Tentunya stress dapat terjadi pada setiap individu. Stress akan berdampak negatif jika tidak segera diatasi, seperti akan berdampak pada depresi.  Maka dari itu, penting untuk mengatasi stress. Namun, masih banyak individu yang salah dalam mengatasi stress, seperti menarik diri dari lingkungannya, menjauhkan diri dari masalah, dan melakukan hal negatif lainnya. Menurut Lazarus dan Folkman terdapat dua strategi dalam coping stress yaitu problem focused coping dan emotional focused coping.  Pada problem focused coping, individu mengatasi stress dengan mengatasi situasi yang menimbulkan stress, sedangkan emotional focused coping dilakukan dengan mengatur reaksi emotional dan mengubah pemahaman terkait stress. Salah satu cara pada emotional coping ialah dengan melakukan art therapy.

 

Nguyen (2015) mengungkapkan bahwa terapi seni merupakan proses terapi yang menggunakan kesadaran pribadi dan interaksi antara terapis dan klien,  yang mana selama proses materi seni akan terjadi perubahan dan individu dapat mempelajari sesuatu mengenai diri mereka melalui proses tersebut. Kramer (1980), juga berpendapat bahwa seni adalah terapi, atau dengan istilah art as a therapy, karena seni dianggap dapat menciptakan kembali perasaan yang membantu menyelesaikan konflik dan atau mengintegrasikan konflik. Art therapy juga dapat diartikan sebagai kegiatan membuat karya seni untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan emosional pada individu.

 

Dengan melakukan art therapy, individu dapat mengungkapkan perasaan yang dirasakannya dengan menuangkannya dalam bentuk seni sehingga art therapy menjadi transportasi keluarnya perasaan yang sulit untuk diungkapkan secara verbal. Selain itu, melalui art therapy, individu dapat melepaskan ketidaksadaran seperti ketakutan, tekanan, hal-hal yang tidak dapat diterima secara sadar, oleh diri  sendiri dan lingkungannya. Dengan kata lain, art therapy dapat menjadi alternatif seseorang untuk mengungkapkan atau mengekspresikan emosi-emosi yang ada dalam diri individu. Dengan mengeluarkan perasaan-perasaan yang tidak dapat diungkapkan tersebut, maka akan membuat tekanan-tekanan dalam diri berhasil dikeluarkan sehingga kecemasannya dapat menurun (Padan, dkk, 2013). Sejalan dengan hasil penelitian oleh Rosal (2016), yang menunjukkan bahwa art therapy dapat menciptakan gambaran dari ketakutan, kecemasan dan solusi yang dibayangkan dalam proses pembuatan karya seni. Solusi yang dibayangkan akan membantu individu untuk beradaptasi dengan situasi baru, membantu menyelesaikan masalah, meningkatkan koping, dan menghilangkan stres. Salah satu prinsip art therapy yaitu saat membuat seni dapat melemahkan pikiran sadar dan mengungkapkan dinamika psikologis tidak disadari (Gilory, 2006).

 

Macam-Macam Art Therapy

Dalam melaksanakan art therapy diperlukan berbagai macam bahan seni dalam membuat representasi visual dari pikiran serta perasaan individu. Art therapy bisa dengan cara individu dan juga bisa dilakukan secara berkelompok. Menurut March (2016), art therapy terbagi atas terapi menari, drama, bermain musik, dan seni visual.

Terapi tari adalah terapi yang melibatkan penggunaan berbagai gerakan tarian, gaya, dan jenis tarian yang berbeda (Putri, dkk, 2021). Dengan menari, maka individu dapat meningkatkan konsentrasi atau tingkat fokus, kemampuan kinetik tubuh, kemampuan ritmik, kemampuan memproses suatu informasi, kemampuan mengikuti arahan, dan menambah kepercayaan diri (Sholihah, 2017).

 

Terapi drama dilakukan dengan memainkan peran tertentu dalam situasi tertentu, membuat suatu  gerakan untuk mengekspresikan diri, berpidato dengan suara khas, bertindak tanpa mengucapkan kata atau bermonolog, atau mengulangi perilaku yang berkaitan dengan masalahnya (Putri, dkk, 2021). Tujuan dari terapi ini adalah untuk memotivasi, menarik minat, dan perhatian individu, memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi situasi saat mengalami emosi, dan permasalahan dalam lingkungan sosial, mengembangkan kemampuan komunikasi, serta memberikan kesempatan untuk berperan aktif dalam kehidupan nyata (Sholihah, 2017).

 

Terapi bermain musik ialah terapi dimana individu dapat bermain instrumen, bernyanyi, dan mendengarkan musik, mengganti lirik, serta bermain alat musik (Putri, dkk, 2021). Terapi musik adalah terapi yang dapat diterima oleh semua orang karena dengan terapi musik tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasi alunan musik. Terapi musik juga sangat mudah diterima organ pendengaran, yang kemudian disalurkan ke sistem limbik dan dengan terapi musik dapat membuat suasana hati menjadi lebih positif (Sholihah, 2017).

 

Jenis art therapy yang terakhir adalah seni visual. Pada terapi ini, individu dapat mengambil objek atau foto, membentuk benda dari tanah liat, dan menggambar atau melukis dengan cat (Putri, D. R, dkk, 2021). Untuk art therapy menggambar sendiri harus menggunakan bahan menggambar dan teknik yang sesuai dengan usia dan kemampuan individu. Individu tersebut dapat mengambil manfaat dari art therapy menggambar melalui rangsangan indera yang dapat menimbulkan kesenangan dari hasil artistik tersebut. Terapi seni menggambar sendiri dapat mendorong individu untuk menemukan jati diri dan mendorong pertumbuhan emosional (Kurniasih dkk, 2021). Begitu pula dengan melukis yang dapat meningkatkan konsentrasi atau fokus, meningkatkan kemampuan visual/spatial, kemampuan kinetik tubuh, dapat mengekspresikan imajinasi dan emosi secara positif, dan membuat tubuh menjadi lebih rileks (Sholihah, 2017).

 

Referensi:

 

Gilory, A. (2006). Art Therapy, Research and Evidence-based Practice. London: Sage Publications.

Kramer, E. (1980). Art Therapy and art education : Overlapping functions. Art Education, 33(4), 16–17.

Kurniasih, U., Ali, M., Lestari, E. D., & Wahyuni, N. T. (2021). Pengaruh art therapy (Menggambar) Terhadap Stres Pada Lansia. Jurnal Kesehatan, 12(1), 26–32.

March, Catherine. (2016). Making Sense Of Arts Therapies. London: Mind

Nguyen, M. (2015). Art Therapy – A Review of Methodology. Dubna Psychological Journal, 3, 29-43.

Padan W. H., M. Y. Roswita, Lita W. Hastuti. (2013). Art Therapy Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Anak Yang Baru Memasuki Panti Asuhan. Kajian Ilmiah Psikologi, 1(2), 50-53.

Putri, D. R., Anindra D. C. F., & Jagad B.I. (2021). Implementasi Art Therapy untuk Meningkatkan Coping Stress Terkait Permasalahan Perkembangan di Usia Remaja. Jurnal Talenta Psikolog, 10(2), 35-43.

Rosal, M. L. (2016). Cognitive‐behavioral Art Therapy Revisited. The Wiley Handbook of Art Therapy. (1st ed.,). NY, New York: John Wiley & Sons, Inc.

Sholihah, I. N. (2017). Kajian teoritis penggunaan art therapy dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMK. Proceedings International Conference, 173-182.