ISSN 2477-1686

 

Vol. 9 No. 08 April 2023

 

Mindful Shopping untuk Mengatasi Impulsive Buying

 

Oleh:

Yobella Yiska Pravu Charan & Maria Nugraheni Mardi Rahayu

Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Satya Wacana

 

 

Pandemi yang terjadi di Indonesia berdampak pada meningkatnya perilaku belanja online pada masyarakat. Kemenprin RI menyatakan bahwa transaksi belanja online produk kosmetik naik 80% pada masa pandemi (Kemenprin, 2020). Selain itu, Genie Indonesia mencatat telah memproses 52 juta pesanan selama pemberlakuan PSBB di awal tahun, dan jumlah pesanan tersebut 220 kali lebih banyak dibanding tahun 2019 (Saputra, 2021). Meningkatnya belanja online yang dilakukan masyarakat salah satunya disebabkan oleh banyaknya promo yang diberikan oleh e-commerce. Selain itu, masyarakat merasa dalam situasi pandemi ini belanja online menjadi pilihan yang tepat untuk berbelanja kebutuhan. Di balik mudahnya berbelanja online pada masa pandemi ini, ternyata hal tersebut dapat meningkatkan perilaku impulsive buying pada individu (Arifianti & Gunawan, 2020).

 

Impulsive buying secara umum diartikan sebagai perilaku berbelanja yang dilakukan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu, hal tersebut bersifat tiba-tiba, mendadak, dan kebetulan karena kondisi dan dan keadaan tempat individu berada. Verplanken dan Herabadi (2001) menjelaskan bahwa impulsive buying merupakan pembelian tidak rasional dan diasosiasikan sebagai pembelian yang cepat dan tidak direncanakan, diikuti oleh adanya konflik pikiran dan dorongan emosional. Menurut Rook dan Fisher (1995) terdapat 4 aspek impulsive buying yaitu pembelian yang tidak diharapkan dan konsumen termotivasi untuk membeli langsung sekarang (spontanitas), ada motivasi untuk mengesampingkan hal lain dan bertindak seketika (kekuatan, kompulsi, intensitas), adanya desakan yang mendadak disertai dengan emosi (kegairahan dan stimulasi), serta tidak memikirkan hal-hal negatif yang akan terjadi atas tindakan spontan yang dilakukan (ketidakpedulian akan akibat). Perilaku impulsive buying dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada diri individu. Menurut Tinarbuko (dalam Siregar & Rini, 2019), impulsive buying memiliki dampak negatif seperti pembengkakan pengeluaran individu, rasa penyesalan yang berhubungan dengan masalah keuangan, hasrat belanja dan rasa kecewa telah membeli produk secara berlebihan.

 

Lalu, apa faktor-faktor yang dapat menimbulkan perilaku impulsive buying? Verplanken dan Herabadi (dalam Henrietta, 2012) menjelaskan bahwa lingkungan pemasaran yaitu tampilan dan penawaran produk, variabel situasional yaitu ketersediaan waktu dan uang, variabel personal yaitu suasa hati, identitas diri, kepribadian, dan pengalaman pendidikan bisa menjadi pemicu munculnya impulsive buying. Selain itu, Zimmerman (2012) menjelaskan bahwa terdapat beberapa karakteristik individu yang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan impulsive buying. Pertama, individu yang lebih sosial, sadar akan status, dan mementingkan citra akan lebih cenderung melakukan pembelian impulsif. Selain itu, individu yang lebih pencemas dan kesulitan mengendalikan emosi mereka juga cenderung lebih sulit untuk menahan dorongan emosional untuk melakukan pembelanjaan secara impulsif. Lebih lanjut, Zimmerman (2012) menjelaskan bahwa orang yang kurang bahagia dan kurang mempertimbangkan konsekuensi pengeluaran mereka juga cenderung lebih melakukan pembelian impulsif.

 

Jika kita merupakan individu dengan karakteristik yang rentan melakukan impulsive buying, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya? Salah satu solusi yang bisa kita terapkan untuk menurunkan perilaku impulsive buying adalah dengan mindful shopping. Ketika kita melakukan mindful shopping, kita menjaga atensi dan kesadaran kita pada apa yang sedang kita lakukan saat itu. Hal ini berarti ketika kita sedang berbelanja, kita benar-benar menyadari barang apa saja yang ada di depan kita, apa yang kita butuhkan, dan apa yang akan kita beli. Dengan begitu kita akan bisa menghindari kebiasaan untuk membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan, atau kita beli tanpa pertimbangan yang rasional.

 

Bagaimana kita bisa menerapkan mindful shopping? Benson (2009) menjelaskan bahwa salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menerapkan mindful shopping adalah dengan membuat perencanaan untuk setiap pembelanjaan yang akan kita lakukan. Perencanaan ini bisa kita terapkan baik ketika kita sedang berbelanja langsung di toko atau secara online melalui smartphone kita. Untuk membuat perencanaan tersebut, pertama kita perlu membuat daftar barang-barang yang akan kita beli. Setelah daftar tersebut selesai kita susun, kita perlu mengevaluasi kembali apakah barang itu perlu kita beli. Kemudian, coretlah barang-barang yang sebenarnya tidak perlu kita beli. Selain itu, pertimbangkan juga berapa banyak uang yang bisa kita keluarkan untuk membeli barang-barang tersebut dan apakah kondisi finansial kita memungkinkan untuk melakukan pembelanjaan tersebut. Lalu, kita perlu membuat catatan di mana kita akan berbelanja, berapa lama kita akan berbelanja, dengan siapa kita akan berbelanja, atau untuk siapa kita akan berbelanja. Perencanaan akan memberikan gambaran yang jelas tentang kegiatan belanja yang akan kita lakukan.

 

Saat kita sedang berbelanja, ingat kembali daftar barang yang akan kita beli dan alasan kita membeli barang tersebut. Kemudian, sebelum kita benar-benar membeli barang, lakukan “mindful pause”. Mindful pause merupakan cara untuk memberi jeda antara keinginan untuk membeli dan perilaku membeli (Benson, 2009). Saat jeda ini, tanyakan kembali ke diri kita sendiri mengapa kita perlu membeli barang tersebut dan bagaimana kita akan membayar barang tersebut. Kita perlu mengingat untuk hanya membeli barang jika kita benar-benar yakin bahwa barang tersebut memang kita butuhkan dan kita mampu untuk membeli barang tersebut. Jika kita sudah selesai berbelanja, evaluasi kembali kegiatan mindful shopping yang telah kita lakukan.

 

Impulsive buying merupakan perilaku yang dapat berdampak serius jika terus dibiarkan. Salah satu cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi impulsive buying adalah dengan melakukan mindful shopping. Mindful shopping dapat membuat kita jadi lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian suatu barang sehingga kita tidak lagi membeli sesuatu karena dorongan yang impulsif dan tidak rasional.

 

Referensi:

 

Arifianti, R. & Gunawan, W. (2020). Perilaku Impulse Buying Dan Interaksi Sosial Dalam Pembelian Di Masa Pandemi. Sosioglobal : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Sosiologi, 5(2), 43–60. https://jurnal.unpad.ac.id/sosioglobal/article/view/30759/pdf

Benson, A. L. (2009). Mindful shopping: Turn mindless shopping into mindful shopping. Diakses dari: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/buy-or-not-buy/200902/mindful-shopping pada tanggal 2 April 2023.

Henrietta, P. (2012). Impulsive Buying Pada Dewasa Awal Di Yogyakarta. Jurnal Psikologi Undip, 11(2), 6. https://doi.org/10.14710/jpu.11.2.6

Kemenprin. (2020, November 24). Dampak Pandemi, Transaksi Belanja Online Produk Kosmetik Naik 80%. Kemenprin.Go.Id. https://kemenperin.go.id/artikel/22137/Dampak-Pandemi,-Transaksi-Belanja-Online-Produk-Kosmetik-Naik-80

Rook, D. W., & Fisher, R. J. (1995). Normative Influences on Impulsive Buying Behavior. Journal of Consumer Research, 22(3), 305. https://doi.org/10.1086/209452

Saputra, D. (2021, April 23). Genie Indonesia : Belanja Online Meningkat Drastis Selama pandemi. Bisnis.Com. https://ekonomi.bisnis.com/read/20210423/12/1385451/genie-indonesia-belanja-online-meningkat-drastis-selama-pandemi

Siregar, N. F., & Rini, Q. K. (2019). Regulasi Diri Dan Impulsive Buying Terhadap Produk Fashion Pada Remaja Perempuan Yang Berbelanja Online. Jurnal Psikologi, 12(2), 213–224. https://doi.org/10.35760/psi.2019.v12i2.2445

Verplanken, B., & Herabadi, A. (2001). Individual differences in impulse buying tendency: Feeling and no thinking. European Journal of Personality, 15(1 SUPPL.), 71–83. https://doi.org/10.1002/per.423

Zimmerman, I. (2012). What motivates impulse buying? Diakses dari: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/sold/201207/what-motivates-impulse-buying pada tanggal 2 April 2023.