ISSN 2477-1686

 

Vol. 9 No. 07 April 2023

 

Bersyukur Pada Remaja Dalam Mencapai Ketahanmalangan

 

Oleh:

Dian Jayantari Putri K. Hedo1 & Nicholas Simarmata2

 1Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana

2Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

 

Bersyukur merupakan hal yang menantang untuk dilakukan oleh remaja. Karena remaja berada dalam fase pencarian identitas diri dan cenderung mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat memicu remaja terjebak dalam upaya mencapai standar keadaan ideal yang palsu untuk memenuhi ekspektasi diri dan lingkungan sekitar. Akibatnya remaja cenderung mengalami kesulitan dalam bersyukur dan menerima keadaan diri karena adanya berbagai tuntutan dan paparan eksternal di sekitarnya. Fenomena ini disiratkan melalui salah satu karya seni berupa lagu yang beberapa waktu terakhir marak di kalangan remaja yaitu lagu yang dinyanyikan oleh Yura Yunita dengan judul “Tutur Batin”. Lagu ini menyiratkan pesan mengenai kebersyukuran yang dilakukan oleh penyanyi lagu tersebut dalam menghadapi keadaan sulit yang dialaminya. Kebersyukuran tersebut dilakukan saat penyanyi mengalami beberapa fase hidup menekan yaitu yang terkait dengan insecurity yang dimiliki oleh penulis terkait keadaan dirinya secara fisik. Setelah mengalami beberapa dinamika dalam perjalanan hidupnya penyanyi tersebut dapat menerima ketidaksempurnaan dan kekhasan diri sebagai suatu hal yang perlu disyukuri. Dengan penerimaan diri yang disyukurinya tersebut maka ia dapat memperoleh kedamaian dan merayakan proses kehidupan yang sebelumnya dirasa menekan. Pada akhirnya penyanyi tersebut dapat menerima diri dan berproses menjadi pribadi yang memiliki ketahanmalangan dengan mensyukuri keberadaan dan kondisi dirinya. Ia menemukan jalan untuk mengatasi insecurity yang dialaminya dan berjuang melanjutkan hidup dengan bersyukur atas kehidupan yang dialami dan keadaan diri yang dimiliki (Kompas, 2022).

 

Kualitas hidup seseorang akan baik apabila ia bersyukur dengan segala apa yang dimilikiny (Adhiningtyas & Utami, 2020; Putri et al., 2016). Melalui bersyukur maka individu dapat menemukan emosi positif (Emmons & Mccullough, 2004), meningkatkan harapan (Mccullough et al., 2004) serta dapat lebih tenang dan tidak panik ketika menghadapi masalah (Makhdlori, 2007). Salah satu keutamaan (virtues) yang dimiliki individu untuk bisa memandang hidup secara lebih positif adalah melalui bersyukur. Berdasarkan American Heritage Dictionary of the English Language (American Heritage Dictionary of the English Language, 2009), bersyukur (gratitude) berasal dari bahasa Latin yaitu gratus atau gratitude yang artinya berterima kasih (thankfulness) atau pujian (pleasing). Bersyukur yakni perasaan berterima kasih dan bahagia sebagai respon atas pemberian, entah pemberian tersebut merupakan keuntungan yang nyata dari orang tertentu ataupun momen kedamaian yang diperoleh dari keindahan alamiah. Bersyukur menyiratkan adanya perasaan positif baik itu puas, bahagia, damai, maupun berterima kasih karena suatu hal yang sedikit tetapi dinilainya positif atau menguntungkan. Adanya apresiasi yang tinggi terhadap suatu hal yang kecil maupun hal yang menyedihkan dapat menumbuhkan perasaan bersyukur dalam diri individu. Bersyukur membuat seseorang akan memiliki pandangan yang lebih positif dan perspektif secara lebih luas mengenai kehidupan yaitu pandangan bahwa hidup adalah suatu anugerah (Peterson & Seligman, 2004). Bersyukur akan menyebabkan seseorang mendapatkan keuntungan secara emosi dan interpersonal. Bersyukur dapat mencegah kondisi depresif dan patologis (Bono et al., 2004).

 

Pada fase usia remaja terjadi beberapa dinamika kehidupan di dalam diri remaja. Remaja cenderung menampilkan sikap dan perilaku khas sebagai seorang remaja dalam kehidupan sehari-harinya. Fase remaja merupakan suatu fase dalam kehidupan dimana individu cenderung menjadi rentan dan mengalami berbagai tantangan dalam hidup (Höltge et al., 2021). Remaja memiliki berbagai tugas perkembangan yang perlu dilakukan dan diselesaikan dengan baik dan tuntas. Remaja perlu melakukan proses pembentukan identitas diri yang stabil, memperoleh pemaknaan diri secara utuh, menjalin hubungan interpersonal dengan lingkungannya, belajar mengambil keputusan penting dalam hidup, dan mulai mengenal dan melakukan peran sebagai anggota masyarakat (Lally & Valentine-French, 2019; Santrock, 2004). Untuk dapat melakukan berbagai tugas perkembangan dan menjalani kehidupan reemaja dengan efektif, remaja perlu memiliki suatu kekuatan personal di dalam dirinya (inner personal strength) (Peterson & Seligman, 2004; Snyder et al., 2020). Ketahanmalangan merupakan salah satu atribut kekuatan personal yang dimiliki individu di dalam dirinya. Ketahanmalangan berperan penting bagi remaja dalam menyintas berbagai tantangan kehidupan (Singh et al., 2022). Kemampuan remaja dalam bersyukur dapat memicu munculnya ketahanmalangan pada diri remaja. Namun demikian, bersyukur merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan oleh remaja. Hal ini didasari oleh beberapa hal. Selain memiliki berbagai tugas perkembangan yang perlu dilakukan pada fase usianya, remaja juga cenderung mengalami berbagai konflik dengan diri maupun lingkungan sekitar. Remaja terpapar dengan berbagai pengaruh dan tuntutan dari lingkungan sekitar. Pada fase usia remaja, lingkungan sekitar memberikan pengaruh yang signifikan bagi remaja. Remaja cenderung berfokus pada tuntutan dan paparan yang ditampilkan oleh lingkungan sekitarnya, misalnya dari teman sebaya, figur signifikan lainnya, atau keluarga (Lally & Valentine-French, 2019). Remaja yang berada dalam keadaan belum stabil dan masih berada dalam fase mencari identitas diri, dapat tenggelam dalam obsesi memenuhi standar ‘kesempurnaan’ yang dituntut atau dicontohkan oleh lingkungan (Marsh et al., 2018). Hal ini dapat membuat remaja menjadi tertekan dan terlibat konflik dengan diri sendiri atau lingkungan. Remaja dapat merasa kurang atau tidak puas dengan diri dan keadaannya. Hal ini dapat menyebabkan remaja menjadi sulit bersyukur karena belum mencapai keadaan ideal yang sesuai dengan standar dirinya atau standar yang dituntut kepadanya. Remaja dapat berfokus pada berbagai tuntutan di sekitarnya dan mengalami ketidakpuasan dan ketidakmampuan mengapresiasi menerima keadaan diri dan kehidupannya. Hal ini ditambah dengan adanya berbagai perubahan terkait keadaan fisik remaja misalnya perubahan bentuk badan, hormon, dan berbagai perubahan fisik lainnya (Hurlock, 2001). Keadaan tersebut dapat memicu remaja menjadi sulit bersyukur atas apa yang dimiliki dan dialaminya.

 

Selain memberikan berbagai manfaat yang positif bagi kehidupan remaja, bersyukur juga dapat membantu remaja memiliki suatu ketahanmalangan dalam menghadapi perjalanan fase kehidupannya sebagai remaja. Ketahanmalangan menggambarkan bagaimana individu merespon dan mengatasi kesulitan kecil dan besar yang terjadi dalam kehidupan sehari-harinya (Mathur & Jain, 2021). Ketahanmalangan pada remaja dapat memberikan ketangguhan bagi remaja dalam menjalani berbagai pengalaman hidup. Selain itu dengan ketahanmalangan, remaja dapat memproses keterbatasan atau kesulitan menjadi tantangan untuk diatasi (Stoltz, 1997). Remaja yang memiliki ketahanmalangan cenderung memiliki produktivitas, vitalitas, kesehatan, pengetahuan, motivasi, dan pencapaian yang tinggi sebagai hasil dari adanya proses dan pengalaman dalam mengatasi masalah dan tantangan yang dihadapinya. Ketahanmalangan membantu remaja belajar mengatasi tantangan dan kesulitan dengan baik, serta membantu remaja beradaptasi lebih cepat dan lebih efektif dalam menghadapi suatu situasi menekan dalam hidupnya (Mathur & Jain, 2021).

 

Referensi:

 

Adhiningtyas, N. P., & Utami, M. S. (2020). Gratitude Cognitive Behavior Therapy untuk Meningkatkan Kualitas Hidup pada Perempuan dengan HIV/AIDS. Gadjah Mada Journal Of Professional Psychology, 6(1), 92–106. https://doi.org/10.22146/gamajpp.54234. ISSN 2407-7801

American Heritage Dictionary of the English Language. (2009). Hoghton Mifflin Company.

Bono, G., Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2004). Gratitude in Practice and the Practice of Gratitude. In P. A. Linley & S. Joseph (Eds.), Positive psychology in practice (pp. 464–481). John Wiley & Sons, Inc. https://psycnet.apa.org/record/2004-21028-032

Emmons, R. A., & Mccullough, M. . (2004). The psychology of gratitude. Oxford University Press.

Höltge, J., Theron, L., Cowden, R. G., Govender, K., Maximo, S. I., Carranza, J. S., Kapoor, B., Tomar, A., Rensburg, A. Van, Lu, S., Hu, H., Cavioni, V., Agliati, A., Grazzani, I., Smedema, Y., Kaur, G., Hurlington, K. G., Sanders, J., Munford, R., … Ungar, M. (2021). A Cross-Country Network Analysis of Adolescent Resilience. Journal of Adolescent Health, 68(3), 580–588. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2020.07.010

Hurlock, E. B. (2001). Developmental Psychology. McGraw-Hill Education.

Kompas. (2022, March 7). Rilis Video Musik “Tutur Batin”, Yura Yunita Ajak Perempuan Merayakan Diri. Kompas. https://www.kompas.com/hype/read/2022/03/07/135130166/rilis-video-musik-tutur-batin-yura-yunita-ajak-perempuan-merayakan-diri?page=all

Lally, M., & Valentine-French, S. (2019). Lifespan Development (2nd Editio). College of Lake County. https://doi.org/10.1146/annurev.ps.35.020184.001521

Makhdlori, M. (2007). Bersyukurlah maka engkau akan kaya. Diva Press.

Marsh, I. C., Chan, S. W. Y., & Macbeth, A. (2018). Self-compassion and Psychological Distress in Adolescents — a Meta-analysis. Mindfulness, 9, 1011–1027. https://link.springer.com/article/10.1007/s12671-017-0850-7

Mathur, M., & Jain, S. (2021). Adversity Quotient and Resilience: The Predictors of Prosocial Behaviour in Young Adults. Indian Journal of Positive Psychology, 12(4), 397–402. https://search.proquest.com/openview/d381278d2da6241f99d307fc93a0e89d/1.pdf?pq-origsite=gscholar&cbl=2032133

Mccullough, M. E., Tsang, J., & Emmons, R. A. (2004). Gratitude in intermediate affective terrain: Links of grateful moods to individual differences and daily emotional experience. Journal of Personality and Social Psychology, 86(2), 295–309. https://doi.org/10.1037/0022-3514.86.2.295.

Peterson, C., & Seligman, M. E. P. (2004). Character Strengths and Virtues. Oxford University Press.

Putri, D. A., Sukarti, & Rachmawati, M. . (2016). Pelatihan kebersyukuran untuk meningkatkan kualitas hidup guru sekolah inklusi. 8(1), 21–40. https://doi.org/10.20885/intervensipsikologi.vol8.iss1.art2

Santrock, J. (2004). Life Span Development. Erlangga.

Singh, A., Sharmila, K., Agarwal, S., & Prajapati, G. (2022). A study on level of adversity quotient of adolescents across age and gender. Asian Pacific Journal of Health Sciences, 9(4), 4–6. https://doi.org/10.21276/apjhs.2022.9.4S.33

Snyder, C. R., Lopez, S. J., Edwards, L. M., & Marques, S. C. (2020). The Oxford Handbook of Positive Psychology. Oxford University Press.

Stoltz, P. G. (1997). Adversity Quotient: Turning Obstacles into Opportunities. John Wiley & Sons Inc.