ISSN 2477-1686

Vol. 8 No. 7 Apr 2022

Pantang Stress Saat Hamil Di Masa Pandemi

 

Oleh:

Angelina Gunawan, Febi Wiryawan, Ivena Chitiki Justus, Josephine Nathania Stephanie, Lusiana Dwi

Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta

 

Saat ini COVID-19 telah menjadi bencana status nasional yang ditetapkan pada tanggal 14 Maret 2020 menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Angka kasus aktif terus naik di Indonesia dan mencapai kasus aktif 1.566.995 per 12 April 2021. Kenaikan angka Covid-19 ini membuat indonesia menjadi negara dengan Case Fatality Rate pada urutan 19 tertinggi dalam lingkup global  (WHO Dashboard, Data Table, 12 April 2021). Oleh sebab itu, pemerintah mengeluarkan adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang kemudian berdampak pada terhentinya aktivitas karena banyak aktivitas serba di rumah (Work From Home).

 

Hal ini berdampak pada peningkatan angka kelahiran yang disebabkan karena banyaknya masyarakat yang WFH (work from home) sehingga kedekatan yang terjadi dalam rumah tidak dapat dihindari dan penggunaan alat kontrasepsi yang semakin berkurang. Selain itu, juga sulitnya akses kesehatan di masa Pandemi ini (Wardoyo, 2020). Meningkatnya angka kelahiran ini kemudian dikenal sebagai baby boom yang diduga semakin meningkat pada tahun 2021 (BKKBN, Hasto Wardoyo). Dampak berkelanjutannya adalah adanya kenaikan tingkat stress pada ibu hamil, dimana wanita hamil cenderung mengalami gejala stress, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi pada masa Pandemi ini (Berghella,2020).

 

Stress sendiri merupakan respon tubuh terhadap tekanan baik dari fisiologis maupun psikologis. Respon stress yang negatif disebut distress. Distress pada ibu hamil dapat berdampak kepada perkembangan sistem saraf pada janin. Stress pada ibu hamil biasanya mengkhawatirkan diri ibu sendiri dan juga kondisi janin yang ada di kandungan. Terutama pada masa pandemi ini tingkat kecemasan pada ibu hamil ini bertambah tinggi karena  fasilitas pelayanan kesehatan dihimbau untuk tidak memberikan pelayanan kesehatan kecuali bersifat gawat darurat, termasuk pelayanan obstetri pada ibu hamil maka dari itu ibu hamil diminta untuk memperhatikan waktu kunjungan kehamilannya kecuali ada tanda-tanda bahaya pada kehamilannya. Hal tersebut membuat kecemasan bertambah di kalangan ibu hamil. Hal tersebut membuat tingkat stress pada ibu hamil meningkat.

 

Dampak stress pada ibu hamil adalah dapat  meningkatkan resiko postpartum depresi, serta infeksi prenatal dan tingkat penyakit (Lim et al., 2020). Selain itu, stress bisa membuat perubahan aktivitas fisik, nutrisi, dan tidur, yang kemudian akan mempengaruhi suasana hati ibu dan perkembangan janin. Stress pada saat masa prenatal juga bisa meningkatkan resiko keguguran, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan menurunkan skor Apgar saat lahir (Corbett et al., 2020).

 

Selain berdampak pada ibu hamil, stress juga berdampak pada perkembangan janin. Janin kemungkinan memiliki gangguan metabolisme, reproduksi perkembangan dan pertumbuhannya serta akan menyebabkan kerusakan pada sistem saraf janin (Dunkel Schetter & Tanner, 2012). Ada studi tentang pemrograman janin ke anak usia dini, studi menunjukan bahwa stressantenatal atau kecemasan ini berkaitan dengan gangguan direspon HPA-aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal stress pada masa anak-anak hingga usia enam tahun (Grant et al, 2009;. Gutteling dkk., 2005; Gutteling dkk., 2004). Bayi dari wanita stress pada  masa kehamilan dapat meningkatkan resiko masalah emosional dan perilaku negatif, kesulitan eksternalisasi dan perilaku antisosial selama tahun-tahun pertama kehidupan dan memasuki masa remaja (Van Batenburg Eddes et al., 2013; Pawlby et al., 2009). Selain itu, bayi akan memiliki masalah dengan IQ verbal semasa kanak-kanan dan kinerja dalam mengerjakan ujian di sekolah (Pearson et al., 2016; Barker et al., 2011).

 

Salah satu cara meregulasi stress adalah dengan coping stress, merupakan suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh individu baik dari segi kognitif maupun dari segi perilaku yang berguna untuk mengatur tuntutan suatu individu baik dari faktor internal maupun faktor eksternal yang disebabkan oleh hubungan antara individu dengan lingkungannya yang dianggap mengganggu zona nyaman yang dimiliki oleh individu (Folkman,1984). Tujuan dari coping stress ini adalah mengurangi rasa tidak nyaman akibat lingkungan sekitar, bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, membuat emosi lebih stabil, menjadi individu yang positif dan hubungan dengan orang lain juga bisa berjalan dengan baik. Menurut Aldwin dan Revenson (1987) coping stress dibagi menjadi dua fokus dalam menghadapi setiap masalah. Bentuk coping stressyang pertama adalah problem-focused coping merupakan strategi coping untuk menyelesaikan permasalah dengan melakukan suatu tindakan secara langsung untuk menghilangkan sumber stress dan ini menjadi coping stress yang efektif (Gross, 2001) dan bentuk kedua dari coping stress adalah emotion-focused coping (EFC) yaitu mengelola emosi itu sendiri.

 

Dalam melakukan penanggulangan stress pada hamil melalui strategi coping stress, ibu hamil dapat melakukan beberapa hal di bawah ini yang terbukti dapat meringankan stress terlebih di masa pandemi ini demi kesehatan ibu dan janin:

 

a.    Ibu hamil perlu menjaga nutrisi sehat pada masa kehamilannya seperti mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium, protein, zat besi, mineral dan lainnya (Simkin,2008). 

 

b.    Ibu hamil membutuhkan tidur dan istirahat yang teratur demi menjaga stamina dan kesehatan. Kualitas tidur yang baik selama 6-8 jam agar ibu bisa merasa segar dan mendapat kualitas tidur yang baik  (Nurarif, 2013).

 

c.     Pengecekan yang rutin selama kehamilan seperti antenatal care dapat mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik dari ibu hamil dan memantau kesehatan bayi (Manuaba,2010).

 

d.    Aktivitas fisik seperti yoga dapat menurunkan gangguan prenatal, kelahiran prematur, rasa nyeri dan stress (Jiang et al, 2015) dan latihan senam hamil yang dilakukan rutin juga akan membuat ibu hamil memperoleh ketenangan dan relaksasi yang bisa mengurangi stress saat kehamilan berlangsung (Kushartanti, 2004; Mochtar, 1998).

 

e.    Melakukan pijat kehamilan dapat menurunkan ketegangan saraf dan otot, memperlancar peredaran daran dan meningkatkan daya tahan tubuh ibu hamil (Suarniti, 2019). 

 

f.      Dukungan sosial dapat berupa keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang menyayangi, menghargai dan dapat diandalkan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan psikologis ibu hamil (Sarason dalam Kuntjoro, 2002).

 

g.    Dukungan suami dapat dilakukan dengan mendukung sang ibu dalam menjaga kesehatan selama masa kehamilan, belajar memahami tentang masa kehamilan, memberi dukungan kepada ibu hamil, memastikan pemeriksaan kehamilan berjalan secara teratur dan memastikan ibu hamil mendapatkan gizi yang seimbang selama kehamilan (Ishak, Wiledjeng & Maimunah, 2005).

 

 

Referensi:

 

Aldwin, C.M. & Revenson, T.A. (1987). Does Coping Help? A Reexamination of the Relation Between Coping and Mental Health. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 53, No. 2, 337-348. 

 

Barker, E.D., Jaffee, S.R., Uher, R., Maughan, B. (2011) The contribution of prenatal and postnatal maternal anxiety and depression to child maladjustment. Depression & Anxiety, 28, 696-702.

 

Berghella, V. (2020). Coronavirus disease 2019 (COVID-19): Pregnancy issues’, UpToDate, pp. 1–22. Available at: https://www.uptodate.com/contents/coronavirus-disease-2019- covid-19-pregnancyissues/print?search=coronavirus&source=search_result&selectedTitle=3~150&usage_type=default&display_rank=3.

 

Corbett, G. A. et al. (2020). Health anxiety and behavioural changes of pregnant women during the COVID-19 pandemic’, European Journal of Obstetrics and Gynecology and Reproductive Biology, 249, pp. 96–97. doi: 0.1016/j.ejogrb.2020.04.022.

 

Dunkel Schetter, C. & Tanner, L. (2012) Anxiety, depression and stress in pregnancy: Implications for mothers, children, research, and practice. Current Opinion in Psychiatry, 25, 141-148.

 

Firdaus. (2020, Mei 6). antaranews. Retrieved from https://www.antaranews.com/berita/1470789/wfh-berpotensi-picu-baby-boom

 

Folkman, S. (1984). Personal control and stress and coping processes: A theoretical analysis. Journal of Personality and Social Psychology, 46(4), 839–852. https://doi.org/10.1037/0022-3514.46.4.839

 

Grant, K.A., McMahon, C., Austin, M.-P., Reilly, N., Leader, L. et al. (2009) Maternal prenatal anxiety, postnatal caregiving and infants’ cortisol responses to the Still-Face procedure. Developmental Psychobiology, 51, 625–637. 

 

Gutteling, B.M., De Weerth, C., Buitelaar, J.K. (2004) Maternal prenatal stress and 4-6 year old children’s salivary cortisol concentrations pre- and post-vaccination. Stress, 7, 257-260. 

 

Gutteling, B.M., De Weerth, C., Willemsen-Swinkels, S.H.N., Huizink, A.C., Mulder, E.J.H. et al. (2005) The effects of prenatal stress on temperament and problem behavior of 27-month-old toddlers. European Child and Adolescent Psychiatry, 14, 41-51.

 

Jiang, Q., Wu, Z., Zhou, L., Dunlop, J. & Chen, P. (2015) Effect of yoga intervention during pregnancy: a review for current status. Am J Perinatol, 32 (6): 503-14.

 

Kuntjoro, Z. (2002). Dukungan sosial pada lansia. http://www.e-psikologi.com/ usia/htm+dukungan+sosial. 

 

Kushartanti, et al. (2004). Senam Hamil menyamankan kehamilan dan mempermudah persalinan. Yogyakarta; Lingtang pustaka.

 

Lim, L. M. et al. (2020) ‘Special Report and pregnancy’, The American Journal of Obstetrics & Gynecology, 222(6), pp. 521– 531. doi: 10.1016/j.ajog.2020.03.021. López, M. et al. (2020) ‘Coronavirus Disease 2019 in Pregnancy: A Clinical Management Protocol and Considerations for Practice’, Fetal Diagnosis and Therapy, pp. 519–528. doi: 10.1159/000508487. 

 

Manuaba, IAC., I Bagus, dan IB Gde. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan. Edisi kedua. Jakarta: EGC.

 

Mochatar, R. (1998). Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi. Edisi 2. Jakarta: EGC

 

Pawlby, S., Hay, D. F., Sharp, D., Waters, C. S., O’Keane, V. (2009) Antenatal depression predicts depression in adolescent offspring: Prospective longitudinal community-based study. Journal of Affective Disorders, 113, 236-243.

 

Pearson, R.M., Bornstein, M.H., Cordero, M., Scerif, G., Mahedy, L. et al. (2016) Maternal perinatal mental health and offspring academic achievement at age 16: The mediating role of childhood executive function. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 57, 491-501.

 

Simkin, P. (2008) ‘Nutrisi pada Kehamilan’, in Panduan Lengkap Kehamilan, Melahirkan & Bayi. Jakarta: Arcan, p. 75.

 

Suarniti, N. L, K Cahyaningrum, L, P., & Wiryanatha, I, B. (2019). Terapi Pijat Ibu Hamil untuk Mengurangi Spasme Otot pada Masa Trimester Akhir Kehamilan. Jurnal Widya Kesehatan, 1(2), 11–19. DOI: https://doi.org/10.32795/widyakesehatan.v1i2.460

 

Van Batenburg-Eddes, T., Brion, M.J., Henrichs, J., Jaddoe, V.W.V., Hofman, A. et al. (2013) Parental depressive and anxiety symptoms during pregnancy and attention problems in children: A cross-cohort consistency study. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 54, 591-600.

 

Wardoyo, H. (2020, Juni 29). Kepala BKKBN Hasto Wardoyo: Peserta KB Menurun Selama Pandemi COVID-19. Liputan6, p. 3. Retrieved from https://www.liputan6.com/health/read/4291515/kepala-bkkbn-hasto-wardoyo-peserta-kb-menurun-selama-pandemi-covid-19

 

WHO (2021). Kasus COVID-19 di dunia. Diakses pada 15 Maret 2021. https://covid19.who.int/table