ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 15 Agustus 2019

 

Bekerja dengan Bahagia

Oleh

Clara Moningka

Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

 

Seorang teman mengeluh tentang pekerjaannya. Ada saja hal yang ia keluhkan, mulai dari jam kerja, teman kerja, atasan, bahkan regulasi di kantor. Hal ini juga ternyata terjadi ketika ia pindah ke kantor baru. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah memang orang tersebut memang sulit untuk puas ataukah memang pekerjaan dengan segala tekanannya mempengaruhi kehidupannya? Di sisi lain, saya juga pernah menemui seorang bapak yang dapat bertahan bekerja di suatu perusahaan selama lebih dari 24 tahun. Ia mengemukakan bahwa ia pernah mengalami mutasi, rotasi, promosi dan mendapatkan berbagai perlakukan baik yang menyenangkan maupun tidak. Alasan bapak itu dapat bertahan adalah bahwa ia menghayati pekerjaan sebagai pengalaman hidup. Segala hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dianggapnya sebagai sesuatu yang biasa; tidak terlalu dimasukkan hati.  Dalam hal ini dapat dilihat bahwa pekerjaan boleh berat, namun kepribadian atau persepsi individu terhadap pekerjaan tersebut dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya.

 

Dalam kajian Psikologi Industri, hubungan individu dengan pekerjaan atau lingkungan kerja kerap mendapat perhatian. Bagaimana membuat karyawan merasa bahagia di tempat kerja? Merasa bahagia saat bekerja berkaitan dengan kepuasan kerja dan performansi individu. Karyawan atau pekerja yang bahagia berusaha untuk mengerjakan pekerjaan dengan baik dan dapat menghadapi keadaan di lingkungan kerja dengan lebih positif. Desmond (2019) mengemukakan bahwa gen manusia berkontribusi sekitar 50% terhadap kebahagiaan, sisanya dipengaruhi faktor lain seperti sikap dan perilaku. Kebahagiaan sendiri pada dasarnya bersifat subjektif. Dalam psikologi konsep kebahagiaan ini disebut kesejahteraan subjektif (subjective well-being). Seorang ahli psikologi positif, Diener mengemukakan bahwa kebahagiaan  merupakan proses memaknai dan merupakan suatu kecenderungan atau bersifat bawaan, dan cenderung bersifat stabil atau menetap; walaupun pada dasarnya bisa terjadi perubahan dalam kehidupan seseorang.

 

Konteks kesejahteraan secara subjektif atau kebahagiaan dalam hidup, pada dasarnya berpusat dari individu. Hal ini sangat berhubungan dengan bagaimana individu mampu memaknai apa yang terjadi dalam hidupnya. Proses memaknai ini merupakan sesuatu yang bersifat demokratis, dimana individu memiliki kewenangan untuk menentukan apakah hidup mereka cukup berharga (Diener, 2000). Ingelhart (dalam Diener, 2000) mengemukakan bahwa konsep kesejahteraan secara subjektif menjadi penting dalam kehidupan seseorang, dimana selain memenuhi kebutuhan material, individu akan sampai pada fase pemenuhan kebutuhan post-material, yaitu kebutuhan individu untuk merasa bahwa hidupnya berarti. Perasaan berarti ini merupakan penghayatan subjektif dari individu. 

Sama halnya dengan pekerjaan yang kita lakukan, pada dasarnya ada proses memaknai dalam proses bekerja. Apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah sesuai dengan hasrat kita? Apakah bekerja membuat kita berkembang dan membuat tujuan kita tercapai? Hal ini yang perlu diketahui oleh individu ketika ia memilih pekerjaan ataupun memasuki lingkungan kerja baru. Pada dasarnya tidak ada tempat bekerja yang sempurna. Selalu ada atasan yang kurang menyenangkan, selalu ada teman yang membuat kita kesal dan selalu ada pekerjaan yang berdatangan. Berbagai pilihan bisa kita lakukann. Kita bisa memilih untuk keluar dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Hal tersebut juga dapat membuat kita bahagia dengan resiko apakah pekerjaan baru sudah siap untuk kita, atau kita harus menunggu kesempatan lain yang mungkin jauh lebih baik. Hal lain yang dapat kita lakukan adalah memaknai pekerjaan atau profesi kita bekerja. Dalam hal ini kita belajar beradaptasi dan memotivasi diri untuk bekerja dengan lebih baik. Hidup adalah pilihan, dan pilihan anda untuk menyambut pekerjaan dengan santai ataupun dengan berat hati. Di lain pihak, perusahaan juga harus menciptakan iklim kerja yang positif untuk karyawan atau pekerja. Perusahaan perlu menghargai kompetensi dan hasil kerja individu. Bila tidak ada timbal-balik dari perusahaan, maka kepuasan karyawan juga dapat menurun. Perusahaan juga perlu mengingat bahwa karyawan adalah aset perusahaan yang perlu dijaga.

 

 

Referensi:

Desmond, B. (2019). Positive Psychology in the Workplace: Thank God it’s Monday. Diunduh dari https://positivepsychology.com/positive-psychology-workplace-labor-of-love/.

Diener, E. (2000). Subjective well-being: The science of happiness and a proposal for National Index. American Psychologist, 55(1), 34 -43. doi: 10.1037/0003-066X.55.1.34.