ISSN 2477-1686  

 

   Vol.5 No. 12 Juni 2019

Work-life Balance di Era Digital

 

Oleh

Novi dan Devi Jatmika

Program Studi Psikologi, Universitas Bunda Mulia

    

Batas antara jam bekerja dengan kehidupan pribadi di jaman modern saat ini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Penggunaan alat bantu seperti gawai, laptop dan internet seyogyanya membantu  seseorang dalam bekerja, namun saat ini pekerjaan-pekerjaan turut terlibat dalam jam-jam kehidupan pribadi kita. Terutama pada generasi milenial yang fasih dalam penggunaan internet. Berbagai aplikasi media sosial menjadi bagian dari kehidupan pekerjaan generasi milenial. Survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Inernet Indonesia (APJII) di tahun 2017, komposisi pengguna berdasarkan usia tertinggi di rentang usia 19- 34 tahun (49, 52%), 35- 54 tahun (29, 55%), 13-18 tahun (16, 68%) dan lebih dari 54 tahun (4, 24%). Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki (51, 43%) mendominasi perempuan (48, 57%). Sedangnkan untuk jenis layanan yang diakses pengguna terbanyak adalah aplikasi chatting (89,35%), media sosial (87,13%), mesin pencari (74,84%), lihat gambar/foto (72,79%), lihat video (69,64%), dan sisanya aktivitas berinternet lainnya. Aktivitas terkecil dari hasil survei adalah mengakses perbankan (7,39%).

 

Penggunaan teknologi internet di dunia pekerjaan memudahkan kita dalam mengirimkan pesan melalui email, berkomunikasi dengan klien kita menggunakan whatsapp ataupun melakukan koordinasi kapan saja dan dimana saja. Kita juga bisa membuat presentasi, menyelesaikan laporan kita di rumah ataupun melakukan survey sederhana via online, bahkan kita dapat mengontrol server dari rumah hanya dengan bermodalkan laptop dan internet bahkan saat ini smartphone juga mulai menjadi multifungsi.

 

Tidak jarang dapat kita temui, teman-teman sekitar kita yang menjadi seorang entrepreneur, startup ataupun staf kantor, hampir setiap saat mereka memegang ponsel/ smartphone miliknya kemanapun mereka pergi dan selalu mengecek jangan sampai ada info/ pesan yang terlewat.  Kenyataannya, tanpa diminta kita sudah menjadi available 24/7, 24 jam selama 7 hari secara sukarela. Banyak dari mereka mengeluh merasa stress dan kelelahan karena seakan-akan pekerjaan menghantui mereka dimanapun berada, bagaikan sebuah “harga yang harus dibayar” sebagai seorang pekerja ataupun pemimpin. Teknologi digital mempermudah kita menjadi lebih fleksibel, dapat melakukan pekerjaan di rumah,  mengawasi karyawan menggunakan CCTV tanpa harus sering kali kita ke lapangan langsung bahkan juga berkomunikasi sambil melakukan kegiatan lainnya. Bukankah waktu kita menjadi lebih banyak dan fleksibel, tetapi mengapa masih banyak pekerja yang mengalami stres?

 

 

Teknologi turut berkontribusi menciptakan stress dan kecemasan. Harrison dan Lucassen (2018) menyebutkan lima stressor yang diaibatkan oleh teknologi:

1.    Perpetual Distraction

Notifikasi, bunyi-bunyi dari telepon genggam yang terus menerus secara konsisten membuat distraksi yang dapat mengurangi fokus perhatian kita dan dulit untuk memusatkan ingatan.

2.    Jam tidur yang tidak teratur

Aakah Anda bagian dari orang-orang yang memantau handphone sebelum tidur dan begitu terbangun dari tempat tidur Anda? Melihat handphone sebelum tidur dapat mendorong stimulus pada otak yang akibatnya otak kita sulit untuk terlelap dan beristirahat. Penelitian menyatakan efek dari layar biru di monitor handphone dapat menurunkan produksi melatonin yang akhirnya mengganggu ritme sirkadian tubuh. Seseorang yang kurang tidur cenderung akan memiliki resiliensi yang lebih buruk dan level kecemasan dan stress yang lebih tinggi.

3.    Work/ Life Balance

Batasan yang buruk antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi di rumah menjadi abu-abu. Para karyawan tetap membahas persoalan pekerjaan bahkan ketika mereka di rumah, dihubungi oleh rekan-rekan kerja, atasan daan memikirkan urusan pekerjaan. Hal ini membuat seseorang sulit untuk benar-benar rileks dan terlepas dari pekerjaan.

4.    F. O. M. O

Rasa cemas yag muncul dari rasa takut akan tertinggal dari suatu peristiwa, pekerjaan atau kesempatan sosial, komunikasi atau kehilangan kesempatan koneksi atau sesuatu yang keren yang seharunya kita menjadi bagian drinya. Semakin kita terkoneksi, semakin kita mengalami FOMO karena postingan-postingan di sosial media membuat kita berpikir bahwa kehidupan orang lain atau teman mendapat pengalaman yang lebih menyenangkan atau lebih menarik tanpa kehadiran kita.

5.    Social comparison

Media sosial mendorong seseorang secara aktif melakukan perbandingan sosial, kesuksesan orang lain menjadi parameter untuk kesuksesan diri kita. Akibatnya, kita mulai mengevaluasi kehidupan kita yang menjadi tidak menarik, tidak sempurna dibandingkan orang lain dan membuat kita menjadi merasa inferior. Padahal, dalam kenyatannya, setiap orang melalui proses naik dan turun hanya saja mereka tidak menceritakan di media sosial mereka.

Pengaruh perkembangan digital sangat mempengaruhi kehidupan pribadi seseorang dan “ Work Life Balance” menjadi sebuah hal yang berharga dan lambang kesuksesan di era digital ini. Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh web cosmo dikatakan bahwa 58,3% wanita milenial mengharapkan kehidupan karier dan personal yang seimbang (work-life balance) (Kusumapradja, 2018).

 

Lalu apa itu Work Life Balance?

Menurut Handayani (2013), work-life balance adalah suatu keadaan ketika seseorang mampu berbagi peran dan merasakan adanya kepuasan dalam peran-peranya tersebut yang ditunjukkan dengan rendahnya tingkat work family conflict dan tingginya tingkat work family facilitation atau work family enrichment.

Work life balance meningkatkan kualitas kehidupan individu, yang mana work-life balance berfungsi sebagai pelindung dari peristiwa atau pengalaman negative dalam hidup dan mempromosikan kesejahteraan hidup (Barnett & Hyde dalam Greenhaus, Collins, & Shaw, 2003). Greenhaus, Collins dan Shaw (2003) membagi work-life balance dalam tiga komponen:

1.    Time balance: jumlah waktu yang seimbang untuk peran dalam pekerjaan dan keluarga.

2.    Involvement balance: level keterlibatan psikologis yang seimbang antara peran dalam pekerjaan dan keluarga.

3.    Satisfaction balance: kepuasan yang seimbang antra peran pekerjaan dan keluarga.

Distribusi waktu, tenaga, komitmen terhadap suatu peran yang lebih besar ketimbang peran yang lainnya dapat menimbulkan ketidakpuasan.

 

Faktor yang mempengaruhi work life balance

Menurut Schabracq, Winnubst dan Cooper (2003), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi work-life balance seseorang, yaitu sebagai berikut:

1.    Karakteristik Kepribadian. Hal ini berpengaruh terhadap kehidupan kerja dan di luar kerja. Terdapat hubungan antara tipe attachment yang didapatkan individu ketika masih kecil dengan work-life balance. Individu yang memiliki secure attachment cenderung mengalami positive spillover dibandingkan individu yang memiliki insecure attachment.

2.    Karakteristik Keluarga. Menjadi salah satu aspek penting yang dapat menentukan ada tidaknya konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Misalnya konflik peran dan ambigiunitas peran dalam keluarga dapat mempengaruhi work-life balance.

3.    Karakteristik Pekerjaan. Meliputi pola kerja, beban kerja dan jumlah waktu yang digunakan untuk bekerja dapat memicu adanya konflik baik konflik dalam pekerjaaan maupun konflik dalam kehidupan pribadi.

4.    Sikap. Merupakan evaluasi terhadap berbagai aspek dalam dunia sosial. Dimana dalam dalam sikap terdapat komponen seperti pengetahuan, perasaan-perasaan dan kecenderungan untuk bertindak.

 

Adapun beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan work life balance yaitu  :

a)    Jam kerja yang fleksibel, menyediakan penyusunan waktu yang fleksibel dan dapat dikonsultasikan untuk seluruh karyawan.

b)    Kerja paruh waktu, menyediakan lebih banyak kerja paruh waktu dengan jam atau shift yang lebih sedikit atau penyusunan pembagian kerja untuk seluruh karyawan.

c)    Akses untuk penanganan anak, meningkatkan akses untuk penanganan anak dengan fasilitas penanganan anak di kantor bagi yang membutuhkan fasilitas tersebut.

d)    Penyusunan pekerjaan yang fleksibel, menyediakan fleksibilitas yang lebih baik dalam penyusunan pekerjaan untuk menyesuaikan kondisi personal karyawan, termasuk menyediakan waktu penuh untuk anggota keluarga.

e)    Cuti harian, mengizinkan karyawan untuk meminta dan mengambil cuti dalam waktu harian.

f)     Mobilitas pekerjaan, menyediakan mobilitas yang lebih baik untuk karyawan dapat berpindah dari rumah sakit, tempat kerja dan layanan kesehatan untuk menemukan penyusunan pekerjaan yang lebih sesuai.

g)    Keamanan dan kesejahteraan, meningkatkan keamanan, kesejahteraan dan rasa hormat untuk seluruh karyawan di tempat kerja.

h)   Akses telepon, memastikan seluruh karyawan dapat menerima telepon atau pesan mendesak dari keluarga mereka di tempat kerja, dan mendapat akses telepon untuk tetap dapat menghubungi keluarga mereka selama jam kerja.

 

Maka dari itu, dapat disimpulkan peran sebuah organisasi dalam menciptakan work-life balance berpengaruh cukup besar bagi karyawan. Karyawan yang sejahtera secara psikologis, akan memiliki kualitas hidup yang berarti dan fokus dalam kinerjanya baik dalam kehidupan pekerjaan, keluarga dan komunitasnya. Sebagai individu, work-life balance, dapat diupayakan dengan menentukan prioritas-prioritas dan membuat pilihan dari setiap tugas dalam peran. Kemampuan untuk membagi waktu, menetapkan batasan antara pekerjaan dan keluarga perlu dicermati dengan melakukan refleksi “alasan” dari suatu tindakan dan “sejauh mana” energi, waktu dan komitmen yang diberikan untuk tetap sejahtera secara psikologis. 

 

 

Referensi:

 

Greenhaus, J. H., Collins, K. M., Shaw, J. D. (2003). The relation between work-family balance and quality of life. Journal of Vocational Behavior, 63, 510-531.

 

Handayani, A., Afiati, T., & Adiyanti, M. G. (2015). Studi Eksplorasi Makna Keseimbangan Kerja Keluarga pada Ibu Bekerja. Semarang: Seminar Psikologi & Kemanusiaan diunduh dari http://mpsi.umm.ac.id/files/file/30-36%20Arri%20Handayani.pdf.

 

Harrison, G., & Lucassen, M. (2018). Stress and anxiety in the digital age: The dark side of technology. Diunduh dari https://www.open.edu/openlearn/health-sports-psychology/mental-health/managing-stress-and-anxiety-the-digital-age-the-dark-side-technology.

 

Nabila, M. (2018). APJII: Penetrasi pengguna internet Indonesia capai 143 juta orang. Diunduh dari https://dailysocial.id/post/apjii-survei-internet-indonesia-2017.

 

Schabracq, M. J., Winnubst, J. A. M., & Cooper, C. L. (2003). The handbook of work and health psychology. England: John Wiley & Sons. Diunduh dari http://www.al-edu.com/wp-content/uploads/2014/05/Handbook-of-Work-and-Health-Psychology-2Ed-2003.pdf.

 

Kusumapradja, A. (2018). Survei: Ini yang wanita milenial cari dalam karir. Diunduh dari http://www.cosmopolitan.co.id/article/read/8/2018/14557/survei-ini-yang-wanita-milenial-cari-dalam-karir.

 

Comments   

0 #2 dating sites 2019-07-23 15:10
I all the time emailed this blog post page to all my associates, because if like to read it after
that my links will too.
Quote
0 #1 dating sites 2019-07-18 21:47
I do consider all of the ideas you have introduced for your post.
They're really convincing and will definitel work.
Still, the posts are too brief for novices. May just you please lengthen them a little from next time?
Thank you for the post.
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh