ISSN 2477-1686

Vol. 7 No. 14 Juli 2021

Perlunya Growth Mindset untuk Skripsweet

 

Oleh:

Cindy Valencia & Sandra Handayani Sutanto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Di tahun 2018sebanyak 1.732.308 jiwa tercatat sebagai mahasiswa baru (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia [RISTEKDIKTI], 2018). Artinya pada tahun 2021, terdapat lebih dari 1 juta jiwa memasuki jenjang akhir sarjana dan menjadi pejuang skripsi. Skripsi dipandang sebagai sesuatu yang sulit, bahkan pada tahun 2020 terdapat 3 kasus bunuh diri pada mahasiswa tingkat akhir, diduga stressakibat skripsi (Ratri, 2020). Sidang yang tak kunjung lulusmelihat teman-teman yang sudah wisuda, makinmembuat individu merasa gagal.

 

Kegagalan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan. Hanya sajasulit bagi manusia menerima kegagalan.Mengapa? Karena kegagalan sering disertai dengan munculnya emosi negatif, misalnya ketakutan dan malu (Mcgregor & Elliot, 2005). Namun, ada juga individu yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan, contohnya pada seorang mahasiswa yang menyelesaikan studinya setelah gagal sebanyak 18 kali (Challil, 2019). Apa yang membuat individu berbeda dalam merespon kegagalan? 

 

Growth Mindset

Growth mindset didasari pada kepercayaan bahwa kualitas dalam diri dapat dikembangkan melalui usaha, sehingga meskipun semua orang memiliki asal-usul yang berbeda, manusia tetap dapat berubah dan tumbuh melalui pengalaman (Dweck, 2006). Memiliki growth mindset bukan berarti kita dapat menjadi apapun yang diinginkan, tetapi percaya bahwa potensi sesungguhnya ada dalam diri namun belum diketahui. Diperlukan usaha, latihan, dan passion selama bertahun-tahun untuk memunculkan potensi tersebut (Dweck, 2006). Growth mindset membantu mengembangkan optimisme saat menghadapi tantangan, sehingga memicu ketahanan yang akan membuat kita semakin kuat (Duckworth, 2016). Hal ini lah yang mendasari semangat individu untuk tetap berjuang. 

 

How To Develop Growth Mindset 

1.             Praise the process, dalam memberikan pujian, seringkali kita fokus pada ucapan seperti “Wah, pintarsekali!”. Padahal, hal ini dapat membuat individu merasa bahwa jika sudah pintar maka tidak perlu lagi berusaha. Baiknya pujian diberikan dengan cara yang menunjukkan bahwa kita menghargai usaha dan prosesnya misalnya, “Wah, kamu sudah sangat berusaha dan menunjukkan kemajuan ya!” (Dweck, 2006). Pemberian pujian juga boleh kita lakukan kepada diri sendiri sebagai bentuk apresiasi proses pertumbuhan kita. Take a moment and see how far you’ve come. Mungkin yang tadinya hanya seorang murid SMA, sekarang sudah menjadi mahasiswa semester akhir.

 

2.             The more you challenge, the stronger it gets, penelitian neuroscience menunjukkan bahwa otak kita dapat dibentuk melalui usaha dan strategi yang tepat. Semakin kamu mencoba, maka jaringan neuron dalam otak akan terhubung dan menjadi kuat (Dweck, 2006). Sama seperti otak, melalui usaha, strategi, dan nasehat yang tepat maka seorang individu akan semakin memiliki potensi untuk berkembang. Saat mengerjakan skripsi, sebagai peneliti seharusnya rajin membaca banyak sumber, mencari sumber yang tepat,menggunakan strategi seperti berdiskusi dengan teman dan meminta saran dosen pembimbing. Bagaimanapun nantinya, skripsi akan jadi hasil karya kita yang berisikan usaha dan kerja keras kita.

 

-If you think you’re going to crash, step on the pedal harder-

(SUGA)

 

Referensi:

 

Challil, M. (2019, October). Malaysian law student, who failed 18 times, finally graduates [Blog post]. Retrieved from.https://www.google.com/amp/s/sg.news.yahoo.com/amphtml/malaysian-law-student-failed-18-073717763.html 

 

Duckworth, A. (2016). Grit: The power of passion and perseverance. New York: Scribner.

 

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.

 

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. (2018). Statistik pendidikan tinggi tahun 2018. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Iptek Dikti. Retrieved from. https://pddikti.kemdikbud.go.id/asset/data/publikasi/Statistik Pendidikan Tinggi Indonesia 2018.pdf

 

Mcgregor, H. A. , & Elliot, A. J. (2005). The shame of failure: Examining the link between fear of failure and shame. Personality & Social Psychology Bulletin. 31(2), 218-31. doi:10.1177/0146167204271420.

 

Ratri, N. (2020, July). Januari-juli 2020, 3 nyawa mahasiswa melayang akibat depresi kerjakan skripsi [Blog post]. Retrieved from. https://jatimtimes.com/baca/219628/20200727/205300/januari-juli-2020-3-nyawa-mahasiswa-melayang-akibat-depresi-kerjakan-skripsi