ISSN 2477-1686

 Vol. 7 No. 6 Maret 2021

Shinrin-Yoku dan Kesehatan Mental

 

Oleh

Suri Mutia Siregar 

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Selama berabad-abad lamanya, manusia telah mengetahui bahwa hutan memiliki manfaat terapiutik terhadap jiwa manusia. Saat seseorang masuk ke dalam hutan, ia mendengar suara serangga yang bersahut-sahutan, mencium aroma kayu dari pepohonan, melihat cahaya matahari yang menyinari daun-daun, dan menghirup udara yang bersih dan segar. Seluruh sensasi yang diberikan hutan kepada panca indera manusia mampu memunculkan rasa nyaman, menepikan stres dan cemas, serta membuat pikiran menjadi lebih jernih (Li, 2018).

 

Shinrin – yoku adalah istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang pada tahun 1982 (Park, Tsunetsugu, Kasetani, Kagawa, & Miyazaki, 2010). Shinrin dalam Bahasa Jepang berarti “hutan”, dan yoku berarti “mandi” (Li, 2018), dalam Bahasa Inggris, shinrin-yokusering disebut dengan istilah forest bathingShinrin-yoku dapat diartikan sebagai suatu kegiatan dimana manusia berkontak dengan hutan dan merasakan atmosfer hutan (Park, Tsunetsugu, Kasetani, Kagawa, & Miyazaki, 2010), atau menghayati hutan dengan segenap indera (Li, 2018).

            

Apa Manfaat Shinrin-yoku bagi Kesehatan Mental Manusia?

Going into the wood is going home. Sebuah kutipan anonim yang berarti manusia akan merasa sedang pulang ke rumah ketika ia berada di antara pepohonan. Xiang, dkk (2012,) menyebutkan bahwa selama 5 juta tahun pertama dalam sejarah, manusia sebenarnya hidup dalam lingkungan hutan. Baru beberapa ribu tahun belakangan manusia memulai kehidupan di lingkungan perkotaan. Secara alami, manusia akan menemukan “rumah” di dalam hutan, karena hutan merupakan habitat asalnya. Kenyamanan yang ditawarkan hutan sebagai “rumah” menyebabkan manusia memperoleh banyak manfaat, baik secara fisiologis maupun psikologis. Sejumlah sanatorium juga diketahui sering dibangun di dekat hutan atau pegunungan.

 

Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk membuktikan manfaat dari Shinrin-yoku terhadap kondisi psikologis manusia. Beberapa diantaranya adalah :

 

1.    Shinrin-yoku menurunkan respon stres pada manusia. Penelitian eksperimen yang dilakukan oleh Xiang, dkk (2012) menemukan bahwa level serum kortisol yang merupakan penanda hadirnya stres pada manusia terlihat lebih rendah pada kelompok subjek penelitian yang berjalan-jalan ke dalam hutan dibandingkan kelompok subjek yang berjalan-jalan di perkotaan.

 

2.    Shinrin-yoku memperbaiki kondisi mood pada manusia. Penelitian eksperimen yang dilakukan oleh Xiang, dkk (2012) menemukan bahwa kelompok subjek penelitian yang berjalan-jalan ke dalam hutan memiliki skor yang lebih rendah kondisi mood yang negatif seperti depresi, marah, lelah, dan bingung dibandingkan kelompok subjek yang berjalan-jalan di perkotaan.

 

3.    Shinrin-yoku membantu menurunkan anxietas pada perempuan dengan exhaustion disorder (ED) setelah diberikan forest intervention selama 3 bulan (Oh, Lee, Zaslawski, Yeung, Rosenthal, Larkey, & Back, 2017).

 

4.    Shinrin-yoku memberikan manfaat baik terhadap perkembangan anak. Penelitian yang dilakukan Brown (dalam Knott, 2019) terhadap 493 keluarga yang memiliki anak berusia 2-5 tahun menemukan bahwa anak yang memiliki koneksi yang lebih dekat terhadap alam mempunyai tingkat stres dan hiperaktivitas yang lebih rendah. 

 

Bagaimana Cara Melakukan Shinrin-yoku?

Smith (2014) mengemukakan bahwa seseorang tidak akan dapat menghargai sesuatu sebelum ia mengenalnya dengan baik. Seseorang dapat saja menghabiskan waktu di hutan, namun pikirannya dipenuhi oleh khayalan dan berbagai percakapan. Akibatnya, ia tidak pernah mendapatkan efek terapiutik yang mampu diberikan oleh hutan. Oleh karena itu, penting sekali bagi peminat shinrin-yoku  untuk mengetahui langkah-langkah melakukannya, yakni :

 

1.    Mematikan seluruh gadget yang dimiliki dan menikmati keheningan hutan. Hal ini akan memberikan ruang terhadap pikiran dan memberikan ketenangan. Apabila pada langkah pertama ini, seseorang tidak dapat berjalan menyusuri hutan, maka ia diperbolehkan mencari tempat untuk duduk. Waktu yang diperlukan pada bagian ini adalah 20 menit.

 

2.    Menghayati setiap perasaan yang muncul. Pada langkah ini, individu akan diminta untuk berjalan dan merasakan sensasi dari kakinya. Kaki dianggap sebagai jangkar dari tubuh dan tempat untuk memusatkan perhatian. Setiap kali individu mulai memikirkan hal-hal lain, maka ia akan disarankan untuk memusatkan perhatian hanya pada kakinya. Waktu yang diperlukan pada bagian ini adalah 10 menit.

 

3.    Individu diminta untuk mulai memperhatikan hal-hal yang ada di sekitarnya, seperti pohon, bunga, atau apapun yang ada di hutan. Individu disarankan untuk tidak “berpikir” mengenai apa yang ia lihat, seperti “ini bunga jenis apa?” atau “mengapa pohon ini tumbang?”. Individu diminta untuk berperilaku reseptif : menikmati pemandangan, menghirup aroma hutan, dan mendengar setiap suara yang hadir. Waktu yang diperlukan pada bagian ini adalah 10 menit.

 

4.    Individu diminta untuk memperhatikan apa yang dirasakannya setelah selesai menyusuri hutan dan melakukan langkah-langkah sebelumnya. Pada bagian ini, individu juga disarankan untuk menerima segala hal yang ia rasakan dan melakukan relaksasi. 

 

Penutup

Hutan memiliki manfaat terapiutik serta mempunyai peran terhadap pencegahan berbagai gangguan psikologis. Sebagai negara dengan hutan tropis yang luasnya terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire, masyarakat Indonesia tentu memiliki kesempatan untuk menjadikan hutan sebagai lokasi terapi, sebagaimana tradisi shinrin-yoku yang dilakukan di Jepang.

                        

Referensi:

 

Knott, K. (2019, Februari 5). Forest Bathing, Kids in Green Spaces – Health Benefits of Being Close to Nature Shown in Hong Kong Programmes. South China Morning Post. Diakses Dari: https://www.scmp.com/lifestyle/health-wellness/article/2184963/forest-bathing-kids-green-spaces-health-benefits-being

 

Li, Q. (2018, Mei 1). ‘Forest Bathing’ Is Great for Your Health. Here’s How to Do It’. Time. Diakses dari: https://time.com/5259602/japanese-forest-bathing/

 

Mao, G. X., Lan, X. G., Cao, Y. B., Chen, Z. M., He, Z. H., LV, Y. D., Wan, Y. Z., Hu, X. L., Wang, G. F., & Yan, J. (2012). Effects of Short-Term Forest Bathing on Human Health in a Broad-Leaved Evergreen Forest in Zhejiang Province, China. Biomedical and environmental Sciences, 23(3), 317-324. Doi: 10.3967/0895-3988.2012.03.010

 

Oh, B., Lee, K. J., Zaslawski, C., Yeung, A., Rosenthal, D., Larkey, L., & Back, M. (2017). Health and Well-Being Benefits of Spending Time in Forests: Systematic Review. Environmental Health and Preventive Medicine, 22 (71), 1-11. DOI: 10.1186/s12199-017-0677-9

 

Park, B. J., Tsunetsugu, Y., Kasetani, T., Kagawa, T., & Miyazaki, Y. (2010). The physiological effects of Shinrin – yoku (taking in the forest atmosphere or forest bathing) : evidence from field experiments in 24 forest across Japan. Enviromental Health and Preventive Medicine, 15(1),18-26. DOI: 10.1007/S12199-009-0086-9

 

Smith, C. (2014, September 29). Forest Bathing : Overwhelmed by Stress? Discover How to Relax and Heal Outside. Psychology Today. Diakses dari: https://www.psychologytoday.com/us/blog/shift/201409/forest-bathing