ISSN 2477-1686

 Vol. 7 No. 6 Maret 2021

Mereka Muncul di Halaman Dalam Rumah Kita

 

Oleh

Eko A Meinarno1 & Arief  Budiarto2

1Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

2Fakultas Psikologi, Universitas Jenderal Achmad Yani

 

Beberapa bulan lalu diberitakan secara luas bahwa ditemukan adanya teknologi drone air atau disebut jugasea glider yang ditemukan oleh nelayan di pulau Selayar, Sulawesi Selatan (Pattisina, 2021). Mesin-mesin itu ada yang ditemukan di wilayah laut perbatasan paling depan sampai ada di lautan wilayah dalam Indonesia. Walau sampai saat ini tidak ada berita yang mengklaim mesin itu dari siapa, tapi mesin-mesin itu mempunyai ciri kepemilikan asing. 

 

Hal yang menarik adalah, respon masyarakat tidak seheboh ketika muncul viralnya video asusila atau upaya boikot produk asal Perancis. Kisah sea glider ini bukan masalah sepele. Dia ditemukan di berbagai tempat di Indonesia (yang diberitakan) secara tidak sengaja. Dapat dibayangkan jika tidak sengaja maka sea glideritu akan berlalu-lalang di bawah laut tanpa ada yang menyadarinya. Perlu ditambahkan bahwa mesin ini berfungsi memantau dan merekam data kelautan seperti kedalaman sampai salinitas laut. Rekaman data inilah yang kemudian dikaji oleh pemiliknya, sehingga halaman luar dan dalam “rumah” Indonesia ini akan terbuka tanpa kita sadari. Apakah itu bahaya? Sebagai analogi, sumber daya ikan Indonesia dicuri saja adalah kerugian, maka data kelautan Indonesia terlalu penting untuk dilepaskan. 

 

Respon dingin dari peristiwa ini menarik untuk diperhatikan. Masuknya sea glider ini menandakan ada pihak yang masuk ke “rumah” Indonesia tanpa izin. Patut dipahami bahwa wilayah Indonesia bukan hanya yang berupa tanah, tapi juga lautannya (ini yang kita kenal sebagai konsep negara kepulauan). Pemahaman daratan dan laut sebagai wilayah hidup bangsa Indonesia dikenal sebagai wawasan nusantara. Pemilik rumah atau masyarat Indonesia tidak menyadari kehadiran orang lain masuk ke dalam rumah. 

 

Kesadaran terhadap lingkungan laut dan daratan Indonesia telah dimulai sejak Sumpah Pemuda 1928. Pernyataan Sumpah Pemuda yang menggunakan frasa tanah air menunjukkan kesadaran kewilayahan Indonesia adalah semua pulau (tanah) dan air yang melingkupinya (lautan). Syair dalam lagu kebangsaan Indonesia juga menyebutkan ide tanah air ini (Sulistiyono, 2010). Dengan demikian ide kesadaran wilayah negara telah dibangun jauh hari sebelum kemerdekaan. 

 

Ide kesadaran wilayah ini berlanjut saat PM Djuanda pada tahun 1957 menegaskan konsep wilayah negara Indonesia sebagai negara kepulauan. Penegasan ini kemudian diakui dunia melalui hukum laut internasiobal (UNCLOS) pada tahun 1982. Hal ini berimplikasi pada pengakuan diri negara Indonesia atas 7,81 juta kilometer per segi yang lebih dari separuhnya berupa lautan (KKP diunduh medio Februari 2021). 

 

Upaya membangun ide kewilayahan sedari awal terbentuknya nation (bangsa) sudah dikaji sejak awal. Para peneliti kebangsaan menyatakan bahwa perlu adanya hal yang obyektif bagi kelompok agar dapat merasa sebagai bangsa, dan hal itu diantaranya adalah wilayah (Cox, 2021; Smith, 1991; Zajda, 2009). Wilayah adalah bagian dari identitas diri dari satu bangsa dan menjadi cikal bakal negara.

 

Bagi bangsa Indonesia ide kewilayahan ini bisa jadi tidak mudah dibangun, terlebih dengan melihat lautan sebagai wilayah jelajah manusia. Hal ini tidak lepas dari konsep wilayah yang umumnya merujuk pada tanah, bukan lautan. Dan cukup umum jika perbatasan fisik dari satu bangsa adalah sungai misalnya. 

 

Kebutuhan untuk memahami kewilayahan oleh individu bukan semata masalah politik, ini juga masalah psikologis. Individu-individu dalam bangsa ini perlu kenal dan paham wilayahnya tidak hanya fisiknya. Pemahaman inilah yang menjadi cikal bakal dari rasa memiliki dan menjaga wilayahnya dari ancaman fisik dari luar, maupun ketika alam lingkungannya rusak akibat pengelolaan yang tidak tepat.

 

Untuk memahami konsep wilayah Indonesia dan keunikannya dikenalkanlah Wawasan Nusantara. Konsep ini masih dalam tataran politik kewaraganegaraan (lihat materi kuliah kewiraan atau kewaraganegaraan). Dalam perkembangannya, untuk kepentingan studi psikologi maka Wawasan Nusantara (Wanus) didefinisikan sebagai “cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai dirinya yang bhineka, dan lingkungan geografinya yang berwujud negara kepulauan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945” (Meinarno & Maharani, 2017 dalam Meinarno, Maharani, & Fairuziana. 2019). Riset wawasan nusantara justru dimulai dengan bagaimana individu secara subektif menggambarkan wujud (peta) negara Indonesia (Meinarno, Menaldi, dan Triyono, 2015). Hal ini didasari pemahaman bahwa konstruksi mental yang digunakan untuk memahami lingkungan melalui ingatan dan proses pengolahan informasi keruangan (Kitchin and Freundschuh 2000, dalam Troffa, Mura, Fornara, & Caddeo, 2009). Hasil dari menggambar peta Indonesia tidak menunjukkan pemahaman terhadap wilayah negaranya. Sebagai contoh besar pulau-pulau di Indonesia yang tidak proporsional. 

 

Merujuk pada konsep wanus dan penelitian mengenai peta Indonesia, yang menunjukkan kesenjangan menjadi bukti bahwa masuknya sea glider asing ke Indonesia tidak menjadi perhatian masyarakat. Kejadian di laut tadi tidak dianggap sebagai ancaman. Persepsi terhadap ruang hidup bangsa Indonesia belum sampai pada lautan-lautan yang ada. Hal yang berbeda ketika Indonesia kehilangan pulau Sipadan dan Ligitan. Persepsi terhadap wilayah fisiknya masih dapat dibayangkan, sebaliknya lautan dan kedalamannya belum dipahami utuh. 

Temuan sea glider asing tampaknya bukanlah temuan yang terakhir. Menanggapi temuan ini juga tidak sekedar masalah politik pertahanan saja. Sepinya respon atas temuan ini menandakan ciri pemahaman wilayah negara yang belum utuh. Psikologi berperan untuk menjadi bagian dari pemahaman wilayah ini, setidaknya penerjemahan wawasan nusantara yang lebih psikologis telah dimulai. Jika tidak mulai dari sekarang, kapan lagi. Jika bukan kita yang memahami wilayah kita, maka pihak lain akan melirik dan mengeksploitasinya tanpa kita sadari. 

 

Referensi:

 

Cox, L. (2021). Nationalism: Themes, Theories, and Controversies. Springer Nature.

 

https://kkp.go.id/djprl/artikel/21045-konservasi-perairan-sebagai-upaya-menjaga-potensi-kelautan-dan-perikanan-indonesia (diunduh medio Februari 2021). 

 

Meinarno, E. A., Meinaldi, A., & Triyono, P. 2015. Andai PM Djuanda Masih Hidup: Studi Persepsi Wilayah NKRI. Prosiding Kongres Pancasila VII, Mei 2015. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.. 

 

Meinarno, E. A., Putri, M. A., & Fairuziana. (2019). Isu-isu Kebangsaan dalam Ranah Psikologi Indonesia. Dalam Psikologi Indonesia. Penyunting Subhan El Hafiz dan Eko A Meinarno. KPIN Rajawali Pers.

 

Pattisina, E. C. (17 Januari 2021). Perang tanpa manusia. Kompas..

 

Smith, A. D. 1991. National identity. London. Penguin Books.

 

Troffa, R., Mura, M., Fornara, F., & Caddeo, P. (2009). Cognitive mapping analysis and regional identity. Cognitive processing10, 328-330.

 

Sulistiyono, S. T. (2010). Konsep Batas Wilayah Negara Di Nusantara: Kajian Historis. Citra Leka Dan Sabda.

 

Zajda, J. (2009). Nation-building, identity and citizenship education: Introduction. In Nation-Building, Identity and Citizenship Education (1-11). Springer, Dordrecht.