ISSN 2477-1686

 

Vol. 7 No. 3  Februari 2021

 

Budaya, Kekuatan Karakter dan Kebahagiaan

 

Oleh

 

Nurdiani K. Dewi,

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

                                                                                                 

Indonesia saat ini banyak menghadapi berbagai bencana, mulai dari bencana kesehatan yang dimulai dengan masuknya virus Covid-19 pada tanggal 2 Maret 2020 Pemerintah mengumumkan adanya paparan virus corona pada 2 (dua) warga negara Indonesia (Pranita, 2020). Kemudian mulai adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang mengakibatkan kegiatan yang melibatkan orang banyak dibatasi. Saat ini, pada awal tahun 2021 dimulainya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang membatasi kegiatan interaksi antar manusia di daerah Jawa-Bali pada awal tahun 2021 ini dari tanggal 11 Januari 2021 sampai dengan 25 Januari 2021 dan masih diperpanjang kembali sampai tanggal 8 Februari 2021. Peraturan PPKM dibuat karena adanya lonjakan jumlah paparan virus corona, yang menyebabkan hampir lumpuhnya pelayanan kesehatan di berbagai unit rumah sakit di Jawa-Bali (Kompas, 2021). Di tengah pandemi yang belum juga usai, terjadi berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, dari mulai tanah longsor, banjir besar luapan lahar dingin. BNPB mencatat telah terjadi 185 bencana di Indonesia pada bulan Januari 2021 (Purnamasari, 2021).

 

Terjadinya berbagai bencana dan cuaca ekstrem, saudara-saudara kita kehilangan harta benda dan kehilangan kerabat dan keluarga. Bangsa Indonesia sedang mengalami ujian yang tertubi-tubi tidak hanya secara fisik, namun juga secara mental bangsa Indonesia ditempa dalam berbagai keadaan yang sulit. Berbagai perubahan secara sosial dan budaya terjadi akibat pandemi dan akibat kondisi negatif dari bencana, jika seseorang tidak memiliki ketahanan secara mental menjadikan seseorang tertekan bahkan depresi (Sulistyorini dan Sabarisman, 2017). Oleh karena itu, kajian mengenai kebahagiaan banyak sekali dilakukan dan diteliti. Kondisi bahagia begitu penting diketahui dan dipelajari untuk dapat hidup sejahtera dan sehat secara mental.

 

Kata kebahagiaan menurut Seligman (2011) sebenarnya tidak cukup. Meskipun kebahagiaan diartikan sebagai keadaan hati yang suka cita, namun kebahagiaan lebih dari itu yaitu, pertama, perasaan atau emosi positif dan kegiatan positif. Emosi positif terbagi menjadi kepuasan akan masa lalu (emosi masa lalu) dan optimisme terhadap masa depan (emosi masa depan). Emosi positif akan masa lalu mencakup emosi, seperti kepuasan hidup, kelegaan, dan kebanggaan. Sedangkan emosi positif masa depan meliputi keyakinan, optimisme, dan harapan. Kedua, kebahagiaan adalah keterlibatan, bahwa seseorang perlu larut di dalam suatu perasaan dan suatu kegiatan yang sedang dilakukan, misalnya bermain musik. Ketiga, adalah makna, seseorang perlu memiliki dan melayani sesuatu yang diyakini lebih besar dari dirinya, sehingga hidupnya lebih bermakna. Namun, Seligman telah mencari arti dari kebahagiaan lebih dari itu, yaitu prestasi yang diraih dan hubungan dengan orang lain. Prestasi yang diraih dapat saja menghalalkan segala secara, baik itu mendapatkan kesuksesan dengan cara yang baik ataupun dengan cara curang, bahwa sukses dengan segala cara mungkin saja tidak mengganggu emosi positif seseorang yang melakukannya. Memiliki relasi yang positif dengan orang lain adalah hak dan kepentingan seseorang. Keterhubungan dengan orang lain adalah kunci untuk merasa terhubung dengan kehidupan.

 

Peterson dan Seligman (2004) mengatakan bahwa kekuatan karakter mempengaruhi kebahagiaan, kekuatan karakter dipengaruhi oleh budaya. Pada suatu kelompok masyarakat tertentu, seperti dalam sebuah negara dapat ditemukan kekuatan-kekuatan karakter khas yang menonjol. Penelitian mengenai karakter suku Jawa dan kaitannya dengan kebahagiaan berdasarkan penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara kekuatan karakter dan kebahagiaan pada suku Jawa. Lima (5) kekuatan karakter utama pada suku Jawa yang ditemukan dalam penelitian ini ialah berterima kasih, kebaikan, kependudukan, keadilan, dan integritas, dan kekuatan karakter yang memberikan sumbangan bermakna terhadap kebahagiaan pada suku Jawa adalah kegigihan, kreativitas, perspektif, keadilan, vitalitas, keingintahuan, dan pengampunan (Wijayanti dan Nurwianti, 2010).

 

Prinsip hidup orang Jawa disinyalir menjadi penyebab kebahagiaan orang Jawa yang relatif tinggi. Sebuah peribahasa “mangan ora mangan nek kumpul” yang mencerminkan budaya Jawa, selalu ingin kumpul dengan lingkungan sosialnya (Melalatoa, 1995). Suka hidup bergotong royong, dengan semboyan “saiyeg saekopraya gotong royong” dan “hapanjang-hapunjung hapasir-wukir loh-jinawi, tata tentrem kertaraharja”. Semboyan-semboyan itu mengajarkan hidup tolong-menolong sesama masyarakat atau keluarga. Masyarakat Jawa merasa dirinya bukanlah persekutuan individu-individu, melainkan suatu kesatuan bentuk “satu untuk semua dan semua untuk satu”. Prinsip hidup orang Jawa yang banyak pengaruhnya terhadap ketenteraman hati ialah ikhlas (nrima). Dengan prinsip ini, orang Jawa merasa puas dengan nasibnya. Apapun yang sudah terpegang di tangannya dikerjakan dengan senang hati. Nrima berarti tidak menginginkan milik orang lain serta tidak iri hati terhadap kebahagiaan orang lain. Mereka percaya bahwa hidup manusia di dunia ini diatur oleh Yang Maha Kuasa sedemikian rupa, sehingga tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. (Herusatoto, 2008).

 

Filosofi budaya Jawa ini sebenarnya mungkin bukan hanya milik suku Jawa, namun milik bangsa Indonesia. Setiap bangsa Indonesia dapat mengadopsinya mika hal ini bak, dapat menjadi regulasi dan kontrol diri untuk dapat merasakan kebahagiaan di tengah kondisi yang tidak menyenangkan akibat bencana dan pandemi. Semoga ini bisa mengingatkan kita semua bahwa kita memiliki karakter yang buat budaya yang saling mendukung dan saling menguatkan dan bertahan dalam kondisi sulit. 

 

 

Referensi:

 

Herusatoto, B. (2008). Simbolisme Jawa. Ombak.

 

Kemedagri. (2021)https://www.kemendagri.go.id/arsip/9/INSTRUKSI%20MENDAGRI. Akses: 26 Januari 2021, 15.00 WIB.

 

Kompas. (2021)RS Penuh, Jokowi batasi Jawa-Bali. https://jeo.kompas.com/rs-penuh-jokowi-batasi-jawa-bali. Akses: 26 Januari 2021, 15.30 WIB.

 

Melalatoa, M.J. (1995). Ensiklopedia suku bangsa di Indonesia (Jilid A-K) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Jakarta.

 

Peterson, C., and Seligman, M.E.P. (2004). Character strengths and virtues: A handbook and classification,Washington DC: APA.

 

Pranita, Ellyvon. (2020)Diumumkan Awal Maret, Ahli: Virus Corona Masuk Indonesia dari Januarihttps://www.kompas.com/sains/read/2020/05/11/130600623/diumumkan-awal-maret-ahli--virus-corona-masuk-indonesia-dari-januari. Akses : 26 Januari 2021, 15.00 WIB.

 

Purnamasari, Deti Mega. (2021)2021 Belum Sebulan, sudah 185 Bencana Terjadi di Tanah Air.https://nasional.kompas.com/read/2021/01/21/12343871/2021-belum-sebulan-sudah-185-bencana-terjadi-di-tanah-air?page=all. Akses: 26 Januari 2021, 15.30 WIB.

 

Sulistyorini, Wandasari, & Sabarisman, Muslim. (2017)Depresi: Suatu Tinjauan Psikologis. Sosio Informa Vol. 3, No. 02, Mei - Agustus, Tahun 2017. Kesejahteraan Sosial. file:///C:/Users/hp/Downloads/939-3331-1-PB.pdf

 

Seligman, Martin E.P. (2011)Flourish, A Visionary New Understanding of Happiness and Well Being. United States: Free Press (e-resource). URL: http://www.authentichappiness.sas.upenn.edu/resources.aspx

 

Wijayanti, Herlani & Nurwianti, Fivi. (2010)Kekuatan Karakter dan kebahagiaan Pada Suku Jawa. Jurnal Psikologi Volume 3, No. 2, Juni 2010. https://core.ac.uk/download/pdf/231280788.pdffile:///C:/Users/hp/Downloads/OishiGilbert2016CurrentOpinions.pdf. Akses : 26 Januari 2021, 15.00 WIB.