ISSN 2477-1686

 Vol. 6 No. 19 Oktober 2020

Manakala Positif Justru Negatif

 

Oleh

Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis

Universitas Pembangunan Jaya

 

Dalam situasi pandemi yang serba tak menentu ini, terkadang berbagai perubahan bertubi-tubi membawa kelelahan – fisik dan mental. Di tengah berusaha untuk tetap sehat dan waras, terkadang kita merasa lelah. Akan tetapi pada saat kita berbagi pada mereka yang akrab dengan kita, “Aku lelah,” lalu apa respon yang diberikan oleh orang-orang terdekat kita?

“Ayo semangat.”

“Semua pasti baik-baik saja.”

“Semua ini nanti pasti berlalu juga.”

“Ayo jangan lupa bersyukur.”

“Masih ada orang lain yang kurang beruntung.”

Hal inilah yang dikenal sebagai toxic positivity – sikap positif yang justru menjadi racun. Mengapa justru demikian?

Chiu (2020) dalam artikelnya di The Washington Post menyitir Natalie Datillo psikolog kesehatan asal Amerika Serikat yang menyodorkan pandangan bahwa ketika ucapan penyemangat disuapkan paksa kepada orang yang sebenarnya sedang tidak ingin menelan kata-kata tersebut, wajar jika yang mendengar kata-kata tersebut rasanya seperti mau muntah.

Ada kalanya kita tidak ingin jadi positif. Terkadang kita memang tidak ingin untuk bersemangat. Sewaktu-waktu kita sedang belum kepingin untuk menjadi bisa. Kita cuma ingin merasa lelah, itu saja.

Toxic positivity inilah yang membuat kita mual melihat berbagai kabar lewat media sosial, tentang mereka yang di masa pandemi ini berhasil untuk konsisten berolahraga, mengembangkan hobi baru, belajar Bahasa asing, menyelesaikan novel yang sudah sekian lama tertunda, melewatkan waktu senggang bersama orang-orang terkasih dan sebagainya. Pencapaian-pencapaian orang lain, yang sebenarnya tak punya dampak merugikan bagi kita, justru membuat kita jengkel.

Hal ini kita sebetulnya ingin merasa bahwa sebetulnya lelah itu tidak apa-apa. Kita ingin merasa bahwa tidak selalu bisa juga tidak masalah karena kita toh memang manusia biasa.

Dalam artikelnya di CNN, Smith (2020) mengutip Jamie Long, psikolog klinis asal Amerika Serikat yang berargumen bahwa merasa tidak oke pun bagian dari pengalaman otentik. Ketika hidup hanya dipandang dari satu lensa saja, yaitu lensa positif – yang meyakini bahwa kita bisa, kita kuat, kita akan bisa melalui semua tantangan ini – justru bagian dari kemanusiaan kita yang otentik ini menjadi terabaikan.

Tak hanya muak dengan segala hal yang serba positif, kita menjadi merasa bersalah karena tidak baik-baik saja. Maka perasaan yang muncul justru kita ingin menjadi mati rasa saja. Kelelahan fisik dan mental yang sebenarnya normal kini dimaknai sebagai hal yang keliru dan tidak boleh diperlihatkan.

Lukin (2019) menguraikan dampak-dampak yang mungkin terjadi ketika ungkapan negative tidak diberi ruang. Perasaan negatif tersebut justru bisa terus dan terus menjadi besar karena tidak kunjung terungkap dan diproses lebih jauh. Emosi, termasuk yang bersifat negatif, adalah informasi. Informasi ini merupakan potret dari apa yang terjadi saat ini. Jika emosi ini berhasil diidentifikasi, bukan dibungkam, maka individu bisa membuat keputusan yang lebih jernih.

Lebih lanjut, Chiu (2020) memetik pendapat Stephanie Preston, profesor di bidang Psikologi yang menjelaskan soal toxic positivity. “Ucapan serba positif membuat kita tidak melihat kenyataan yang sedang disodorkan. Kita seolah-olah menutup mata, tidak sudi melihat perasaan sedang lelah.” Ketika perasaan-perasaan tersebut disumbat, maka dampak buruk menjadi bisa terjadi.

Penyederhanaan yang kelewat batas, hal inilah yang dipetik oleh Wong (2020) dari pendapat Heather Monroe yang merupakan pakar pekerja sosial. Toxic positivity membuat emosi manusia yang sebenarnya kompleks direduksi, sehingga justru mengganggu kesehatan mental kita sendiri.”

‘Sialnya’, toxic positivity ini tidak hanya datang dari orang lain yang dekat dengan kita, tetapi muncul dalam bentuk percakapan dengan diri sendiri lewat self-talk.

Hal ini dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk tradisi budaya. Saya selalu menemui bahwa dalam situasi semalang apapun, sebagian orang Jawa yakin bahwa dirinya beruntung, karena masih banyak kemungkinan lebih buruk bisa terjadi. Pendapat ini bisa juga ditemukan di berbagai kelompok sosial lainnya. Akibatnya pada saat bicara pada diri sendiri pun, kita tidak mengizinkan diri sendiri untuk merasa lelah.

Alangkah lelahnya ini semua. Ketika kita merasa lelah, kita tidak mengizinkan diri kita lelah, lalu kita kemudian memaksakan diri jadi kuat, yang terjadi kita justru akan terus semakin lelah, bukan?

Thrope (2020) mengutip penelitian di Journal of Psychosomatic Research yang dipublikasikan pada tahun 2013. Jika dalam kurun waktu panjang seseorang terus menekan emosi negatif mereka, maka risiko kematian prematur menjadi lebih besar akibat berbagai sebab, termasuk oleh kanker. Maka tak mengizinkan diri merasakan apa adanya ternyata membuat tubuh kita terbebani.

Ford, Lam, John dan Mauss (2018) menyodorkan hasil penelitian bahwa dalam jangka panjang, penerimaan (acceptance) akan pengalaman-pengalaman negatif justru mendukung kesehatan psikologis. Apa artinya? Ketika kita bisa murni menerima perasaan negatif, tanpa perlu menghakimi, justru kita bisa meraih kesehatan psikologis yang lebih baik. Menerima apa adanya ternyata membantu kita untuk menangani stres.

Hal ini karena untuk bisa sepenuhnya sehat mental, kita pun perlu punya perangkat yang memadai untuk bisa mengungkapkan emosi – dengan seluruh keberagamannya, bukan hanya yang positif saja, tetapi termasuk yang negatif. Jika kita hanya bersedia mengakui hal-hal positif, maka kita menjadi ‘pincang’

Di sisi lain, bisa jadi sebetulnya kita sendiri… takut, takut akan perasaan negatif tersebut, kuatir kita tak bisa bangkit, waswas bahwa kita akan terkubur dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Maka Wong (2020) mengutip Jenny Maenpaa seorang psikoterapis, menyarankan kita untuk mencoba melakukan ini.

Pada saat kita bercakap pada diri sendiri, “Aku merasa lelah karena masa depanku tampak begitu suram.” Lalu coba lanjutkan, “Ya, lalu…” Dengan demikian, ungkapan negatif tetap diekspresikan, rasa lelah tetap diterima, kemudian kita memicu diri untuk berpikir lebih lanjut. “Ya, aku lelah, lalu artinya aku perlu istirahat teratur,” inilah contoh percakapan yang bisa terjadi begitu kita bercakap dengan penuh penerimaan.

Coba bandingkan jika percakapan tersebut berbunyi seperti ini. “Aku merasa lelah karena masa depanku tampak begitu suram.” “Ayo, tidak baik berpikir seperti itu, kamu harus kuat.” Maka penerimaan diri tidak akan tercapai, kelelahan justru semakin bertambah, yang terjadi pikiran menjadi buntu. Kesimpulan bahwa kita perlu istirahat teratur tidak akan berhasil kita raih. Apa yang terjadi? Kita akan terus lelah dan lelah dan lelah dan lelah.

Gelas yang terisi separuh terkadang tidak perlu dimaknai separuh penuh (half-full). Cukuplah memaknai gelas itu apa adanya.

Gelas tersebut terisi separuh. Ini pun sudah cukup.

 

Referensi:

Chiu, A. (2020). Time to ditch ‘toxic positivity,’ experts say: ‘It’s okay not to be okay. The Washington Post, 19 Agustus. 

Ford, B.Q.; Lam, P.; John, O.P. & Mauss, I. B. (2018). The psychological health benefits of accepting negative emotions and thoughts: Laboratory, diary, and longitudinal evidence. Journal of Personality and Social Psychology 115(6):1075-1092. DOI: 10.1037/pspp0000157

Lukin, K. (2019). Toxic positivity: Don’t always look on the bright side. Psychology Today, 1 Agustus.

Smith, J.R. (2020). When does a good attitude become toxic positivity. CNN, 17 September.

Thrope, J.R. (2020). Mental health experts explain what ‘toxic positivity’ is and how it can hurt your relationships. Bustle, 4 Agustus.

Wong, B. (2020). What is toxic positivity? Why it’s OK not to be OK right now. HuffPost, 24 Juli.