ISSN 2467-1868

Vol. 6 No. 12 Juni 2020

 

Sexuality In 4.0 Era

 

Oleh

Maharani Ardi Putri

Fakultas Psikologi, Universitas Pancasila

 

“The behavior of a human being in sexual matters is often a prototype for the whole of his other modes of reaction in life.”


-
Sigmund Freud -

 Sexuality and the Psychology of Love

 

Tabu atau tidak, seringkali masih menjadi perdebatan sampai dengan saat ini ketika kita bicara mengenai seksualitas. Walaupun pada banyak sekolah sudah diajarkan terkait pelajaran reproduksi, psikoedukasi seksualitas atau dalam beberapa sekolah pembahasan mengenai seksualitas dimasukkan pada sesi “keputrian” masih banyak guru, orang tua atau orang dewasa lainnya yang tidak siap untuk menjawab pertanyaan anak-anak SD yang sangat menakjubkan ragamnya.

 

Isu-isu mengenai menstruasi, mimpi basah, homoseksualitas, gender, transgender, sexual intercourse,  sudah menjadi bagian dari perbincangan anak-anak SD saat ini, mau diakui maupun tidak. Perkembangan internet, media sosial dan aplikasi chatting juga memberikan akses anak-anak untuk mendapatkan informasi mengenai seksualitas dengan sangat cepat, lebih cepat daripada kesiapan para orang tua. Seperti halnya di perusahaan yang sering sekali mengeluh bahwa kecepatan teknologi tidak diikuti oleh kesiapan sumber daya manusianya sehingga walaupun teknologi semakin canggih namun produktivitasnya tidak meningkat secara signifikan, begitu pula dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam ranah seksualitas.

 

Pada tahun 2010 terdapat artikel yang memberitakan bahwa Swiss akan mulai memproduksi kondom untuk anak usia 12-14 tahun, produksi kondom ini dilakukan setelah mereka melakukan wawancara kepada 1.480 responden berusia 10 hingga 20-an tahun, yang hasilnya  menunjukkan bahwa  hubungan seks di kalangan anak-anak usia 12 hingga 14 tahun ternyata sudah menjadi hal lumrah dibandingkan era 1990-an. (Acandra, 2010). Berita ini menarik perhatian, karena di Indonesia penelitian mengenai seksualitas masih lebih banyak dilakukan pada tingkat mahasiswa atau remaja (dan sebagian besar adalah pada anak SMA). Kita rupanya lambat menyadari atau mungkin menyangkal bahwa semakin lama usia aktif secara seksual akan menjadi semakin dini.

 

Perkembangan teknologi yang mempengaruhi perilaku seksual tidak hanya terjadi pada cepatnya informasi seksualitas pada anak-anak tetapi juga perilaku seksual orang dewasa. Semakin terkoneksinya kita melalui internet, berarti semakin tipis pula batasan waktu, wilayah, budaya, dan bahkan nilai yang kita yakini. Contoh adalah salah satu isu mengenai homoseksual, yang sampai dengan sekarang masih menjadi perdebatan kontroversial dari berbagai perspektif. Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki beberapa buku panduan diagnostik yang memungkinkan para psikolog bisa bicara dalam bahasa yang sama.

 

Salah satu buku panduannya adalah Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), yang menjadi acuan dalam menegakkan diagnosis gangguan psikologis pada seseorang. Sejak tahun 1980 ketika DSM III dikeluarkan, homoseksual tidak lagi digolongkan kepada gangguan psikologis seiring dengan ditemukan banyaknya orang dengan homoseksual yang dapat berfungsi baik secara sosial dan memiliki kesejahteraan mental yang baik. Hal ini tentunya sering memicu keributan dalam diskusi/ seminar dan bahkan di kalangan psikolog itu sendiri.

 

Hal yang menarik untuk diperhatikan terkait dengan isu ini adalah pada tanggal 26 Juni 2015  Amerika Serikat mensahkan pernikahan sesama jenis, sebuah keputusan yang diyakini dapat mempengaruhi keputusan-keputusan negara lain dalam memutuskan legal tidaknya homoseksual di negara masing-masing. Begitu pula dengan isu transgender dimana pada beberapa negara keberadaan mereka telah diakui, difasilitasi dengan kesempatan melakukan operasi rekonstruksi genital bagi individu dengan gender dysphoria –  yaitu suatu keadaan dimana seseorang merasa bahwa tubuhnya tidak sesuai dengan penghayatan gender yang dimilikinya, dan juga adanya tanda pengenal gender “X” atau gender ketiga. Perkembangan di bidang teknologi medis telah membuka kesempatan untuk menjalani operasi rekonstruksi genital dengan resiko yang minimal. Tentunya kedua kasus diatas masih akan mengalami perdebatan panjang beberapa tahun kedepan khususnya di Indonesia.

 

Sekali lagi perkembangan teknologi dapat mengubah baik perilaku maupun nilai-nilai yang diyakini seseorang, sebagai contoh  sederhana yaitu dengan hadirnya aplikasi untuk memesan tiket, orang jadi enggan untuk antri sehingga lama-lama kita tidak lagi membutuhkan counter pelayanan dan orang-orang tidak lagi punya kesabaran dalam menunggu. Begitu pula pada hal yang lebih kompleks, seperti misalnya reproduksi,  dimana dengan terbukanya akses dan fasilitas dapat mempengaruhi perilaku seksual. Sebagai contoh cyber sex – atau rangsangan seksual yang bisa didapatkan melalui peralatan virtual atau dengan bertukar pesan/video melalui internet.

 

Tentunya suatu perubahan selalu bisa dilihat dari 2 sisi, pada sisi positifnya cyber sex dapat membantu pasangan yang tinggal berjauhan sehingga mereka masih bisa saling berinteraksi secara seksual, atau untuk mereka yang bertugas jauh (misanya pelaut, prajurit dll) sehingga kebutuhan seksual mereka bisa terpenuhi tanpa adanya resiko penyakit menular seksual, kehamilan di luar nikah, konflik rumah tangga dan sebagainya. Di sisi lain, cyber sex disalahgunakan untuk melakukan harrassment karena identitas mereka yang kabur di dunia maya.

 

Beberapa mahasiswa psikologi Universitas Pancasila yang berada di bawah bimbingan penulis, melakukan beberapa penelitian yang terkait dengan seksualitas pada konteks Indonesia. Misalnya  mengenai hubungan antara citra tubuh (body image) dan perilaku bertukar pesan seksual melalui chatting  (sexting). Hasil penelitian pada 90 orang sampel menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara body image  dan  sexting behavior secara positif, yang artinya semakin seseorang menilai bahwa dirinya memiliki badan yang ideal semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk melakukan sexting (Wiraperdhana, 2018).

 

Hal ini tentunya menarik namun juga patut diwaspadai, mengingat sampel sebagian besar adalah di usia remaja. Di satu sisi kita mendorong remaja untuk lebih percaya diri, namun disisi lain semakin percaya diri remaja, maka kecenderungan melakukan sexting pun semakin tinggi. Oleh karenanya selain rasa percaya diri juga perlu dikembangkan self control, tanggung jawab, serta moral judgement yang baik. Selain itu pengaruh budaya di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari pembentukan perilaku seksual. Misalnya dalam kasus ini, dimana kita terbiasa untuk menampilkan sesuatu yang baik sehingga justru pada mereka yang memiliki body image yang baik, mereka bersedia untuk mengirimkan foto mereka tanpa pakaian dan lain sebagainya.  Pada beberapa wawancara tambahan ada yang memiliki perasaan tidak enak untuk menolak, sehingga ketika pasangannya yang meminta untuk mengirimkan gambar “vulgar” maka remaja-remaja ini cenderung memberikan karena rasa tidak enak dan keinginan untuk menyenangkan pasangannya tanpa berpikir resiko.

 

Berbagai penelitian mengenai sex juga dilakukan di berbagai negara, dalam Annual Review of Sex Research (ARSR) 2018, berbagai topik seksualitas dibahas, dan tiga diantaranya terkait dengan seksualitas dan hubungan intimasi jangka panjang, misalnya penelitian oleh Mark dan Lasslo (2018) yang membahas mengenai peran menjaga dorongan seksual/gairah dalam hubungan jangka panjang. 

 

Penelitian senada juga dilakukan di Indonesia oleh Nurul (2018) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan sebesar 14.9% antara komponen cinta (komitmen – gairah - intimasi) dengan kesiapan menikah. Hal ini menunjukkan bahwa pasangan yang merencanakan pernikahan perlu membicarakan berbagai kesepakatan terlebih dahulu dan tidak hanya mengandalkan “perasaan” cinta. Selain itu, dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa gairah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesiapan menikah. Banyaknya penelitian di ranah ini menunjukkan bahwa banyak permasalahan yang terjadi dalam relasi romantis, dan para ahli masih berusaha untuk mencari jawabannya. Salah satu hal ini bisa ditunjukkan dari penelitian diatas adalah bahwa pasangan perlu selalu menjaga gairahnya dalam mempertahankan hubungan romantis jangka panjang, oleh karena kehilangan gairah dapat berarti memunculkan permasalahan.

 

Penelitian lain juga dilakukan oleh Maranatha (2018) mengenai pengaruh pengabaian seseorang terhadap pasangannya karena perhatiannya teralihkan ke ponsel (partner phubbing) terhadap romantic relationship satisfaction pada dewasa muda yang sedang berpacaran. Hasilnya adalah penggunaan ponsel yang terus menerus dapat menurunkan kepuasaan dalam hubungan romantis.

 

Hal-hal seperti ini perlu untuk disadari karena memiliki konsekuensi jangka panjang. Menjaga gairah tentunya bukan hal yang mudah untuk dilakukan saat ini, mengingat kesibukan yang harus dilalui setiap hari. Begitu pula menjaga agar kita tidak terpaku pada ponsel/media sosial/ aplikasi chattng tentunya akan membutuhkan banyak sekali usaha dari kedua belah pihak. Oleh karena itu dengan semakin kompleksnya permasalahan dalam relasi,  tidak jarang pasangan membutuhkan bantuan profesional untuk membantu mengurai masalah mereka, salah satunya adalah dengan berkonsultasi ke Psikolog/Konselor. 

 

Isu lain yang akhir-akhir ini juga hangat dibicarakan adalah prostitusi online baik pada golongan artis maupun bukan. Banyak masyarakat yang tampaknya masih terkaget-kaget dengan kasus ini dan banyak pula yang berespon dengan penuh kebencian. Sedangkan prostitusi sendiri sudah banyak terjadi di sekitar kita, mulai dari lokalisasi yang diketahui oleh semua masyarakat di sekitarnya namun dibiarkan, maupun yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

 

Seperti halnya penelitian yang sedang dijalankan oleh Erlangga (2019) mengenai “ayam kampus” dimana pada penelitian ini difokuskan untuk memahami dasar keputusan seseorang mengambil keputusan sebagai “ayam kampus”, dan hasil wawancara sementara menunjukkan bahwa tidak selalu faktor ekonomi (dalam arti untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar) menjadi pemicu utama seseorang memutuskan untuk menjadi “ayam kampus”, namun terdapat pula motif  sosial, pencarian identitas, penghayatan pada orang tua dan moral.

 

Penelitian oleh Grubs (2018) menunjukkan bukti bahwa  banyak terjadi pertentangan moral terhadap internet pornography use (IPU). Oleh karenanya akan sulit memisahkan perilaku-perilaku seksual dengan fungsi moral, dimana topik ini adalah ranah bidang psikologi utamanya klinis untuk menjawab perdebatannya.

 

Kecenderungan masyarakat kita untuk tidak membahas masalah seksual secara lebih terbuka dan ilmiah memang seringkali membuat kita tidak berpikir solusi namun berhenti pada komentar dan hujatan, sehingga tidak ada permasalahan yang tuntas dibahas. Pada dasarnya isu-isu seksualitas memiliki akar yang sama, hanya dalam era 4.0 ini caranya yang berbeda. Apabila kita tidak menyiapkan diri akan perubahan/pergeseran perilaku seksual, maka kita akan tertinggal jauh dalam mengantisipasi perilaku-perilaku yang membahayakan masyarakat kita.

 

Terbuka pada seksualitas bukan berarti kita setuju terhadap semua perilaku seksual yang diterima oleh bangsa lain, melainkan kita mulai menyadari perkembangan isu-isu seksualitas, sehingga bisa menyikapinya dengan bijak sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Seperti halnya yang dikatakan Freud di awal tulisan ini, perilaku seorang manusia dalam masalah seksual sering kali merupakan prototipe/gambaran dari seluruh bentuk reaksi lainnya dalam kehidupan.

 

Oleh karenanya apabila kita tidak mulai bersikap terbuka pada masalah seksualitas bisa jadi kita juga tidak terbuka pada permasalahan lainnya, sehingga kita menjadi bangsa yang kaku karena perspektif yang tidak kaya. Hal ini justru akan menyesatkan generasi selanjutnya karena kita membatasi pengetahuan mereka. Pada dasarnya yang paling penting adalah bukan mencegah untuk tahu, tapi mengajarkan apa yang perlu dilakukan setelah tahu, kita perlu meletakkan tanggung jawab pada individu-individu dewasa untuk mengajarkan seksualitas yang sehat.

 

REFERENSI:

 

Acandra. (2010, 4 Maret.) Wow.... Kondom Mini Untuk Anak 12 Tahun. Ditemukan kembali dari: https://lifestyle.kompas.com/read/2010/03/04/09284639/wow.kondom.mini.untuk.anak.12.tahun

 

Maranatha, H. (2018). Pengaruh Partner Phubbing Terhadap Romantic Relationship Satisfaction Pada Dewasa Muda Yang Berpacaran. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.

 

Mark, K. P., & Lasslo, J. P. (2018). Maintaining sexual desire in long-term relationships: A systematic review and conceptual model. Journal of Sex Research, 55, (563–581). ISSN: 0022-4499.

 

Nurul, Ichwani. (2018). Pengaruh Cinta Terhadap Kesiapan Menikah Pada Dewasa Awal. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.

 

Wiraperdhana, Apatya. (2018). Hubungan Antara Citra Tubuh Dengan Sexting Behavior Pada Remaja Pengguna Aplikasi Chatting. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Pancasila.