ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 12 Juni 2020

 

Mitos dan Wayang sebagai Modal Psikologi Ulayat

Oleh

Eko A Meinarno

Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Kembali film Star Wars menggugah pasar di akhir tahun. Penonton seperti biasa terbuai dan terpukau dengan efek visual yang bagus dan menawan ditambah dengan aksi dari para pemerannya yang juga patut diberi penghargaan. Namun artikel ini tidak akan membahas gejala keriuhannya, tapi bagian kecil yang mengingatkan penulis terhadap kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Sutradara J.J. Abrams membangun kisah Star Wars: The Rise of Skywalker dengan beberapa kejutan (setidaknya bagi penulis). Salah satu yang paling menarik adalah kembalinya tokoh Kaisar Palpatine atau yang dikenal juga sebagai Darth Sidious. Tokoh antagonis yang setidaknya muncul sejak film Star Wars episode I. Dia pernah dinyatakan tewas dalam salah satu episode Star Wars, tapi dalam episode terakhir ini ternyata dia masih hidup. Bagi penggemar film, tokoh antagonis hidup di sekuel film adalah wajar. Namun untuk Darth Sidious sedikit berbeda.

Dari sebagian adegan film Star Wars: The Rise of Skywalker, ada sedikit penjelasan bahwa ia dapat hidup lagi karena adanya pengklonaan. Hal yang menarik bahwa dalam film tadi, pengklonaan bukan hanya pada tubuh dari Kaisar Palpatine, tapi juga terhadap segala kemampuannya. Mulai dari kognitif sampai afeksi. Bahkan tetap mempunyai kekuatan sebagaimana dia dahulu sebelum dinyatakan tewas. Apakah mungkin? Bisa saja, tapi juga bisa juga tidak.

Bagi para milenial, mungkin sekali berpikir bahwa betapa hebatnya ide dasar film tersebut dan mampu menunjukkan pengklonaan yang sedemikian canggih. Namun dalam kebudayaan Jawa, khususnya tentang wayang ada satu dua bagian yang idenya sangat mirip. Begawan Sempani ayah Jayadrata mempunyai kemampuan untuk membangkitkan atau membuat ari-ari (selubung bayi) menjadi manusia. Dalam hal ini, ari-ari itu berasal dari Bima. Maka antara Bima dan Jayadrata secara fisik sama, tapi tidak dijelaskan dengan detail kemampuannya. Namun yang pasti mereka ada di posisi berseberangan, Bima di pihak kebenaran dan Jayadrata di pihak antagonis.

Kisah pengklonaan tidak sekali ditemukan dalam wayang. Kisah seratus Kurawa bersaudara juga demikian. Lahir dari segumpal daging yang dipecah menjadi 100 keping dan kemudian dimantrai oleh pendeta maka jadilah 100 bayi. Namun lagi-lagi tidak dijelaskan apakah karena ada materi genetika jahat sehingga keseratus Kurawa itu menjadi jahat semua. Hal yang pasti pengklonaan Palpatine yang sempurna mengingatkan pada pendapat bahwa gen-gen manusia menyimpan banyak hal seperti kecerdasan, naluri, kepribadian, ingatan, bahkan keabadian (Ridley, 2005). Sangat bisa jadi, ide Ridley ini yang digunakan dalam pembuatan kisah Star Wars episode terakhir ini.

Kisah wayang adalah mitos, yakni cerita yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh yang mempunyai cerita (masyarakatnya). Mitos ini di dalamnya terdapat tokoh dewa atau setengah dewa dengan kisah terjadi di dunia lain di masa lampau (Bascom, dalam Danandjaja, 2002). Kisah wayang jelas lebih tua daripada kisah Star Wars. Namun yang kemudian Star Wars seakan membangun ide ke-mitos-annya, yang perlahan menjadi mitos universal. Di sisi lain kisah wayang meredup kalah bersaing. Padahal banyak ide dasarnya sudah ada lebih dulu di wayang. Hanya saja, tim Hollywood lebih mampu menerjemahkan ide-ide lama menjadi lebih kekinian dan lebih dapat diterima kelompok milenial. Hollywood menjabarkan pengklonaan dengan gambar peralatan teknologi tinggi (tabung kimia, kabel, mesin eletronik, laboratorium) dan tambahan suasana mistis. Dengan gambaran itu maka mitos dibuat seakan lebih keren, canggih, dan tentu ilmiah. Dibanding kelahiran Jayadrata dan Kurawa, yang hanya dimantrai resi terasa jauh dari selera generasi gawai.

 

Keahlian Psikologi

Bagi penulis, penggalian dari mitos untuk menjadi produk baru di masa kini juga menjadi bagian dari psikologi ulayat. Psikologi ulayat yaitu cabang psikologi yang mempelajari perilaku dan mindai suatu kelompok budaya yang bukan diimpor dari luar, melainkan lahir dan berkembang dalam kelompok itu sendiri, merupakan hasil kesepakatan dari nenek moyang, para pendahulu, dan para sesepuh, diteruskan turun-temurun, dari generasi ke generasi secara getok-tular, tidak ada dokumen legal, dan tidak ada cetak birunya (Sarwono, 2012). Mitos juga bagian dari minda kelompok budaya. Dalam tulisan ini kisah wayang adalah bagian dari psikologi ulayat Indonesia.

Kembali pada kisah wayang bagian pengklonaan Jayadrata dan 100 Kurawa, apakah para ilmuwan Indonesia, khususnya ilmuwan psikologi dapat gali-olah yang mewujud seperti kisah Star Wars? Masih banyak bagian dari kisah wayang yang dapat membantu ilmuwan psikologi memahami orang Indonesia -setidaknya orang Jawa (lihat karya Neils Mulder dan Clifford Geertz untuk lebih jelas). Misalnya, mengapa poliandri diganti menjadi poligini dalam kisah Drupadi dan para Pandawa, mengapa istri ikut menutup mata dengan kain seumur hidupnya agar sama dengan suaminya yang buta, mengapa Kresna sering melakukan tipuan bagi Kurawa dan sebaliknya Sengkuni menipu para Pandawa?

Jawaban-jawaban dari gejala yang terekam dalam mitos wayang inilah yang dapat menjadi modal penggalian psikologi orang Indonesia. Sebagai contoh Jonason, Lyons, dan Bethell dapat membuat artikel berjudul The making of Darth Vader: Parent–child care and the Dark Triad (2014). Di Indonesia, juga ada Memahami Resi Durno (Meinarno, 2017) atau Asta Brata: Pemetaan Kompetensi Kepemimpinan Jawa untuk meningkatkan organizational wellness pada institusi pendidikan di Jawa Timur (Setiyowati, 2015).

Potongan kisah Star Wars dan wayang penulis ambil sebagai contoh untuk artikel ini. Masih sangat banyak kisah atau prosa rakyat Indonesia yang lain. Potensi untuk gali dan olahnya sangatlah terbuka lebar, sebagaimana definisi psikologi ulayat tadi. Hasil pengungkapan itu akan banyak membantu untuk memahami diri kita sebagai orang Indonesia, dengan cara pikir yang juga khas Indonesia dan akhirnya berkontribusi terhadap Indonesia. Jika ada judul film Attack of the Clones, kenapa tidak ada judul film Attack of the Kurawa’s?

 

Referensi:

Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: ilmu gosip, dongeng dan lain-lain. Grafiti Pers.

Geertz, C. (1983). Abangan, santri, priyayi: dalam masyarakat Jawa. Pustaka Jaya.

Jonason, P. K., Lyons, M., & Bethell, E. (2014). The making of Darth Vader: Parent–child care and the Dark Triad. Personality and Individual Differences, 67, 30-34.

Meinarno, EA. (2017). Memahami Resi Durno. Wayang Latihan Berbasis Neuroplastisitas dan Revolusi Mental. UI Press

Mulder, N. (2005). Mysticism in Java: ideology in Indonesia. LKiS. Yogyakarta.

Ridley, M. (2005). Genom Kisah Spesies Manusia dalam 23 Bab. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sarwono, S. W. (2012). Psikologi Ulayat. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology, 1(1).

Setiyowati, N. (2015). Asta Brata: Pemetaan Kompetensi Kepemimpinan Jawa untuk meningkatkan organizational wellness pada institusi pendidikan di Jawa Timur. Proceeding Psikologi Positif.