ISSN 2477-1686

Vol. 6 No. 12 Juni 2020

 

 

Bias Optimisme ‘Berpikir Positif’ Di Masa Pandemi Covid-19

 

 

 

Oleh

 

Zahroh Rohmatussyifa & Mochammad Sa’id

 

Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang

 

 

 

 

 

Pendahuluan

 

Pandemi covid-19 telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan di Indonesia. Kondisi ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat di seluruh dunia termasuk masyarakat Indonesia. Dampak yang ditimbulkan meliputi bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Dampak kesehatan tak hanya terkait jumlah korban, namun juga kesehatan mental. Tak dapat dielakkan bahwa masyarakat juga terdampak secara psikologis akibat pandemi ini. Muncul perilaku panic buying karena takut kehabisan bahan pokok. Cemas, stres dan depresi karena takut tertular virus. Bahkan ada yang merasakan cabin fever yaitu gangguan emosi atau perasaan sedih yang muncul akibat terlalu lama terisolasi atau terkurung di suatu tempat dalam kurun waktu yang lama, dalam hal ini merasa terisolasi di rumah (Priscilla, 2020). Kondisi ketidakpastian ini tentu mendorong masyarakat untuk mencari sumber informasi untuk mengurangi efek negatif tersebut. Masyarakat yang berpendidikan, terutama ahli kesehatan ataupun kesehatan mental, ikut menyuarakan pendapat. Pada Januari lalu, saat kasus infeksi pertama telah diumumkan di Singapura, Malaysia, Thailand, dan Australia, kasus positif COVID-19 belum dinyatakan terdeteksi di Indonesia, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memberikan tips berpikir positif untuk menghindari terkena infeksi coronavirus (Zein, 2020). Ketua Aliansi Telemedis Indonesia, Dokter Pumawan, juga mengatakan bahwa yang terpenting saat ini yaitu tetap berpikir positif (Prasasti, 2020). Tak kalah, beberapa pakar kesehatan mental juga memberikan anjuran kepada masyarakat untuk berpikir positif karena mampu menjadi alternatif strategi dalam menghadapi pandemi yang berpengaruh terhadap daya tahan tubuh (Zein, 2020).

 

 

 

Masyarakat Indonesia banyak yang menerapkan strategi berpikir positif tersebut. Namun, ternyata hal tersebut menimbulkan dampak negatif. Berpikir positif ternyata memunculkan bias optimisme di masyarakat. Bias optimisme bisa disebut juga unrealistic optimism atau optimistic bias, yaitu probabilitas subjektif atau derajat kepercayaan yang mendorong individu untuk menafsirkan informasi yang ambigu atau situasi yang tidak pasti dalam arah untuk mementingkan diri sendiri (Rhee, Ryu, & Kim, 2005). Bias optimisme ini membuat masyarakat tidak patuh terhadap anjuran-anjuran dari para ahli kesehatan untuk mencegah penyebaran covid-19. Ketidakpatuhan tersebut seperti tidak menerapkan physical distancing, tetap nongkrong dengan teman-teman, bahkan banyak yang bepergian ke kampung halaman masing-masing yang justru meningkatkan potensi penyebaran virus. Bias optimisme ini muncul dalam tiga bentuk (Zein, 2020). Pertama, ilusi kontrol yaitu keyakinan berlebihan dapat mengendalikan situasi eksternal. Kedua, ilusi superioritas yaitu keyakinan bahwa seseorang memiliki kelebihan daripada orang kebanyakan. Dan ketiga, ilusi kemungkinan yaitu ketika seseorang merasa kecil kemungkinan dirinya akan mengalami hal negatif yang mana dalam konteks ini tertular atau menularkan penyakit. Perlu digarisbawahi bahwa bias optimisme ini tidak hanya pada masyarakat umum, namun juga pada para pengambil kebijakan seperti pemerintah yang membuat pemerintah mengabaikan peringatan dari para ahli kesehatan atau ilmuwan yang menganjurkan untuk melakukan pencegahan sejak dini.

 

 

 

Walaupun berpikir positif menimbulkan bias optimisme dalam merespon pandemi covid-19 ini, tidak dapat dipungkiri bahwa berpikir positif dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Hasil riset di Amerika Serikat menunjukkan bahwa berpikir positif dan kekebalan tubuh memang memiliki hubungan positif, namun hal ini tergantung pada karakteristik sumber stres yang dihadapi (Zein, 2020). Ketika menghadapi ancaman yang ringan (langsung, singkat, dan mudah dikontrol), optimisme memang memberikan efek positif pada kekebalan seluler. Namun bila yang dihadapi adalah ancaman yang lebih serius (kompleks, persisten, dan tak bisa dikontrol), maka yang terjadi justru sebaliknya. Hal ini diperkuat dengan hasil riset-riset perilaku pada kasus epidemi sebelumnya. Dalam kasus wabah flu babi (H1N1) di Italia dan Belanda, serta flu burung (H5N1) di Inggris, para responden dengan persepsi risiko yang lebih tinggi akan lebih patuh pada anjuran ahli untuk melakukan tindakan pencegahan. Oleh karena itu, penerapan berpikir positif pada kondisi pandemi covid-19 saat ini justru membahayakan dan dapat meningkatkan jumlah korban.

 

 

 

Bias Optimisme dan Pengaruh Sosial

 

Bias optimisme yang disebabkan anjuran berpikir positif merupakan sebuah proses pengaruh sosial yang mengalir dari mayoritas ke minoritas dan minoritas ke mayoritas. Pengaruh sosial adalah proses interpersonal yang mengubah pikiran, perasaan, atau perilaku orang lain (Forsyth, 2010). Dalam proses mayoritas ke minoritas, terdapat pihak yang melakukan konformitas dan tidak melakukan konformitas. Pihak yang melakukan konformitas yaitu masyarakat yang mengalami kecemasan, kekhawatiran, stres, ketakutan, bahkan sampai mengalami cabin fever. Mereka berusaha mencari solusi untuk mengurangi kondisi tidak menyenangkan yang mereka alami. Ketika tersebar pendapat bahwa berpikir positif merupakan hal yang tepat dalam kondisi saat ini, masyarakat –terutama yang mengalami kondisi tidak menyenangkan– mencoba menerapkan hal tersebut. Masyarakat yang awalnya dalam kondisi baik-baik saja juga menerapkan berpikir positif agar terhindar dari emosi negatif serta meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Anjuran berpikir positif mampu menarik perhatian masyarakat luas. Melihat kondisi tersebut, tentu bentuk respon sosial masyarakat yang melakukan konformitas atau mengikuti anjuran berpikir positif tersebut adalah penerimaan pribadi (conversion) (Forsyth, 2010). Masyarakat menginternalisasi anjuran berpikir positif tersebut dan ikut menyebarluaskannya. Namun, di sisi lain, ada pihak yang tidak melakukan konformitas, yaitu para ahli kesehatan mental yang menilai bahwa melakukan berpikir positif pada kondisi saat ini kurang tepat. Bentuk respon sosial yang diterapkan oleh para ahli kesehatan mental tersebut yaitu independence atau kemandirian (Forsyth, 2010). Mereka mencoba mengekspresikan pendapat mereka berupa ketidaksetujuan terhadap strategi berpikir positif.

 

 

 

Proses pengaruh sosial minoritas terhadap mayoritas dalam kasus anjuran berpikir positif untuk menghadapi pandemi covid-19 dapat dijelaskan melalui Teori Konversi dari Moscovici (Forsyth, 2010). Teori ini menyatakan bahwa ketidaksepakatan dalam kelompok mengakibatkan konflik, sehingga anggota kelompok termotivasi untuk mengurangi konflik itu yang terkadang dengan membuat orang lain berubah, termasuk mengubah pendapat mereka. Pengaruh minoritas dilakukan melalui proses validasi, yang mana nantinya akan mengarah pada penerimaan diri (konversi). Proses ini terjadi karena minoritas mengguncang kepercayaan mayoritas, sehingga mayoritas perlu melakukan validasi terkait suara minoritas. Proses pengaruh sosial dari minoritas ke mayoritas dalam kasus anjuran berpikir positif untuk menghadapi pandemi covid-19 terjadi ketika para ahli kesehatan mental yang tidak setuju dengan kampanye berpikir positif terus menyuarakan pendapatnya. Upaya menyuarakan pendapat ini yaitu dengan semakin banyaknya artikel yang membahas tentang bahaya dari berpikir positif di tengah pandemi. Proses validasi di sini terjadi karena dua hal. Pertama, pihak minoritas yang menyuarakan ketidaksetujuan adalah pihak yang memang pakar dalam bidang kesehatan mental dan telah terverifikasi. Karena pihak minoritas adalah pihak yang kompeten, maka suaranya mampu mempengaruhi mayoritas masyarakat yang telah lebih dulu setuju dengan kampanye berpikir positif. Kedua, pihak minoritas mampu membuktikan bahwa argumennya berkualitas. Hal tersebut ditunjukkan dengan menyertakan penelitian-penelitian terkait yang valid dan juga terdapat kasus-kasus dimana dengan menerapkan berpikir positif justru masyarakat banyak yang mengabaikan anjuran ahli kesehatan untuk physical distancing, stay at home, memakai masker, dan lain sebagainya. Adanya bukti-bukti tersebut semakin menguatkan argumen pihak minoritas dan memvalidasinya.

 

 

 

Apabila dicermati menggunakan teori dampak sosial dinamis (dynamic social impact theory), proses pengaruh sosial dari mayoritas ke minoritas ataupun sebaliknya di atas telah memenuhi kaidah Dampak = "f (SIN)", yaitu kekuatan (S), kedekatan (I), dan jumlah (N) sumber yang ada (Forsyth, 2010). Teori ini mengasumsikan bahwa pengaruh adalah fungsi dari kekuatan, kedekatan, dan jumlah sumber yang ada. Kedua proses tersebut –mayoritas ke minoritas dan sebaliknya– memiliki kekuatan masing-masing untuk saling mempengaruhi. Pada proses konformitas, kekuatannya yaitu kampanye berpikir positif tersebut sesuai dengan kondisi masyarakat sehingga mampu menarik perhatian dan ketertarikan mereka. Sedangkan pada proses penerimaan terhadap minoritas, kekuatannya berada pada bukti-bukti yang lebih empiris dan nyata. Kemudian terkait fungsi kedekatan, masyarakat Indonesia sedang berjuang bersama menghadapi pandemi covid-19, sehingga meningkatkan kedekatan antarmasyarakat. Terakhir, terkait jumlah sumber, pada proses konformitas, masyarakat yang menerapkan strategi berpikir positif semakin banyak sehingga “sumber” konformitas juga meningkat. Sedangkan pada proses penerimaan terhadap minoritas, artikel-artikel yang membahas tentang bahaya berpikir positif di tengah pandemi covid-19 semakin banyak, sehingga meningkatkan jumlah sumber penerimaan terhadap minoritas. Dua pandangan yang bertentangan ini menyebabkan apa yang disebut dengan “keberagaman berkelanjutan” (Forsyth, 2010). Kenyataan empiris menunjukkan bahwa meskipun banyak yang telah mengetahui bahaya berpikir positif di tengah pandemi, sebagian masyarakat masih tetap menerapkannya karena memang hal tersebut sedikit banyak mampu mengurangi kecemasan dan ketakutan selama pandemi.

 

 

 

Kesimpulan

 

Proses pengaruh sosial dalam permasalahan berpikir positif di tengah pandemi covid-19 ini memiliki dua proses: proses mayoritas ke minoritas dan proses minoritas ke mayoritas. Pada proses mayoritas ke minoritas terdapat pihak yang melakukan konformitas dan nonkonformitas. Bentuk respon sosial pada pihak yang melakukan konformitas yaitu konversi; menginternalisasi pendapat mayoritas menjadi pendapat pribadi. Sedangkan bentuk respon sosial pada pihak nonkonformitas yaitu kemandirian; mengekspresikan pendapat dan konsisten akan hal itu. Pada proses minoritas ke mayoritas terjadi proses validasi dengan menunjukkan bahwa pihak minoritas adalah pihak yang kompeten serta memiliki bukti-bukti empiris. Proses pengaruh sosial dalam masalah ini juga memenuhi kaidah Dampak = "f (SIN)" sesuai teori dampak sosial dinamis (dynamic social impact theory), yaitu kekuatan, kedekatan, dan jumlah sumber yang ada serta masih menimbulkan keberagaman berkelanjutan.

 

 

 

Saran

 

Kampanye berpikir positif bukan hal yang salah. Hanya saja berdasarkan fakta empiris, ada batasan yang perlu dipahami oleh masyarakat bahwa berpikir positif akan berdampak positif pada jenis stresor tertentu. Oleh karena itu, perlu sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait hal ini agar tidak menimbulkan bias optimisme kembali yang justru membahayakan nyawa mereka sendiri akibat mengabaikan anjuran para ahli kesehatan.

 

 

 

 

 

Referensi:

 

 

 

Forsyth, D.R. (2010). Group Dynamics (5th Ed). CA: Wadsworth Cengage Learning.

 

Prasasti, G.D. (2020). Cemas karena COVID-19? Hadapi dengan Berpikir Positif, Aktif, dan Tetap Produktif. Diakses 27 April 2020 dari https://www.liputan6.com/health/read/4214031/cemas-karena-covid-19-hadapi-dengan-berpikir-positif-aktif-dan-tetap-produktif.

 

Priscilla, T. (2020). Cegah Cabin Fever Selama Pandemi Covid-19 dengan Berpikir Positif. Diakses 27 April 2020 dari https://www.borneonews.co.id/berita/166768-cegah-cabin-fever-selama-pandemi-covid-19-dengan-berpikir-positif.

 

Rhee, H., Ryu, Y., & Kim, C. (2005). I Am Fine but You Are Not: Optimistic Bias and Illusion of Control on Information Security. International Conference on Information System (ICIS) 2005 Proceedings, 32, (http://aisel.aisnet.org/icis2005/32).

 

Zein, R.A. (2020). Mengapa Anjuran “Berpikir Positif” Saat Pandemi COVID-19 Justru Bahayakan Nyawa Banyak Orang. Diakses 27 April 2020 dari https://theconversation.com/mengapa-anjuran-berpikir-positif-saat-pandemi-covid-19-justru-bahayakan-nyawa-banyak-orang-135686.