SSN 2477-1686

Vol.6 No. 10 Mei 2020

Melatih Disiplin Diri Saat Work From Home

 

Oleh

Devi Jatmika

Program Studi Psikologi, Universitas Bunda Mulia

 

Terhitung sejak Maret 2020, ketika pandemi Covid 19 mulai menyebar di Indonesia, kegiatan-kegiatan bekerja dengan jam kerja di kantor perlahan-lahan berubah menjadi kegiatan kerja di rumah atau dikenal dengan istilah work from home (WFH). Kegiatan yang terasa normal dijalani setiap hari kini berubah. Namun, kita sadari bahwa perubahan ini adalah untuk memperlambat penularan virus dan keselamatan orang banyak.

 

Sebagian orang senang dengan adanya WFH, sebagian orang merasa kesulitan untuk bekerja di rumah. Dampak positif dari WFH ini tentunya adalah berkurangnya stress di perjalanan antara rumah ke kantor, terhindar dari kemacetan luar biasa saat jam-jam sibuk. Penelitian Allen, Golden dan Shockley (2015) menyebutkan pekerja yang melakukan pekerjaan di rumah secara keseluruhan meningkatkan kepuasan, kinerha dan komitmen terhadap organisasi.

 

Bagi sebagian orang yang kesulitan untuk WFH banyak disebabkan oleh berbagai hal seperti pekerjaan rumah tangga, anak, anggota keluarga membuat kegiatan WFH menjadi tidak fokus. Hal lainnya adalah rasa bosan dan jenuh akibatnya individu menjadi mudah terdistraksi untuk melakukan kegiatan lainnya. Alih-alih menjadi produktif, yang terjadi adalah sebaliknya menjadi lebih letih dan stress. Batasan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi menjadi bercampur, isolasi dengan kehidupan sosial dan professional serta kesempatan-kesempatan untuk berbagi informasi menjadi kelemahan saat bekerja di rumah (Allen, Golden & Shockley, 2015). Pekerjaan rumah dengan tugas-tugas pekerjaan mengganggu waktu untuk keluarga (Eddleston & Murki, 2017). Akibatnya, waktu jam kerja menjadi lebih lama daripada jam kerja kantor, karena batasan jam menjadi tidak jelas ketika WFH.

 

Reaksi psikologis seseorang ketika WFH berbeda pada setiap orang. Penelitian oleh O’ Neill, Hambley dan Bercovich (2014) kepada karyawan-karyawan yang melakukan WFH ditemukan seseorang dengan skor tinggi pada kepribadian conscientiousness, jujur, dan kepuasan dengan WFH lebih tidak terlibat dengan cyberslacking, yaitu mengakses internet untuk aktivitas yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Seseorang dengan trait prokrastinasi cenderung melakukan cyberslacking dengan melakukan kegiatan yang lebih menarik bagi dirinya.

 

Kedisiplinan diri untuk dapat mengontrol aktivitas baru di rumah dan bekerja penting untuk dilakukan agar diri kita tetap bisa menjadi sehat mental. Setiap orang dapat merubah kehidupannya menjadi lebih baik dengan adanya disiplin diri atau kontrol diri yang bersumber dari willpower. Willpower atau tekad adalah energi untuk disiplin diri, membantu kita menahan hal-hal yang menggoda untuk mencapai tujuan, mendorong kita untuk melakukan kegiatan yang walaupun tidak kita ingin kerjakan (Association for Psychological Science, 2012).

 

Godaan-godaan untuk mencapai tujuan/ goal tentu tidak terhindari dan godaan yang menyenangkan lebih menarik ketimbang harus menyelesaikan tugas-tugas. Kita akan lebih tergoda untuk nonton film, bermain instagram daripada belajar atau bekerja. Kita mudah tergoda dengan gorengan di saat kita ingin hidup sehat. Akan tetapi, willpower diperoleh dengan latihan- latihan. Willpower tidak muncul begitu saja (Baumeister &Tierney dalam American Psychological Association, 2012).

 

Beberapa strategi untuk melatih disiplin diri dikemukakan oleh peneliti dalam risetnya mengenai kontrol diri (Amerian Psychological Association, 2012). Pertama, menghindari dari godaan. Prinsipnya adalah “jika tidak tampak di depan mata kita, maka tidak terpikirkan oleh kita.” Contohnya, ketika kita melihat langsung makanan enak di depan mata, maka keinginan untuk makan muncul padahal kita sedang dalam program diet. Begitupula, ketika sedang WFH, godaan untuk bermain HP pun bisa muncul untuk mengecek sosial media atau nonton youtube. Cara terbaik adalah dengan meletakkan HP di tempat kita tidak melihatnya langsung.

Kedua, taktik lainnya adalah ‘’implementation intention” dengan menggunakan pernyataan “jika- maka” untuk membantu seseorang membuat rencana dalam situasi-situasi yang akan menggagalkan tekad. Sebagai contoh, jika ada distraksi dari suara-suara bising dari orang rumah, maka saya akan memberitahukan kepada mereka agar memelankan suaranya.

Ketiga, Muraven (dalam American Psychological Associaton, 2012) menemukan bahwa individu akan berupaya untuk mengontrol dirinya dalam mengerjakan tugas ketika mendapatkan upah atau bermanfaat bagi orang banyak. Visualisasikan tujuan jangka panjang yang akan diperoleh dengan bisa melakukan disiplin diri.

 

Terakhir, fokus pada sebuah goal/ tujuan dan lakukan disiplin diri secara rutin. Melatih diri setiap hari secara berturut-turut dalam kurun waktu yang cukup panjang dapat menjadi sebuah kebiasaan. Sebagai contoh, membangun kebiasaan bangun lebih awal saat WFH. Hal ini cukup sulit karena otak mengasosiasikan rumah adalah tempat beristirahat, kantor tempat bekerja, maka ketika WFH kita mengasosiasikannya dengan beristirahat/ libur Maka, disiplin diri yang dapat dilakukan dengan melakukan bangun pagi rutin dan jam yang sama. Membiasakan diri disiplin di satu area akan berdampak pada area lainnya. Ketika kita fokus disiplin unutk pekerjaan kantor maka tugas-tugas lainnya di rumah seperti membersihkan rumah, menjaha anak juga terkontrol.

 

Dari beberapa strategi di atas diharapkan individu dapat memperkuat kemampuan untuk disiplin diri, meningkatkan tekad agar pekerjaan selesai dan tidak mengganggu waktu istirahat dan berkumpul dengan keluarga. Dengan disiplin diri kita juga mencegah stress dan burnout selama periode work form home.

 

 

Referensi:

 

Allen, T. D., Golden, T. D., & Shockley, K. M. (2015). How effective is telecommuting? Assessing the status of our scientific findings. Psychological Science in the Public Internet, 16(2), 40-68.

 

American Psychological Association. (2012). What you need to know about willpower: The psychological science of self control. Diunduh dari https://www.apa.org/helpcenter/willpower

 

Association for Psychological Science. (2012, February 15). Where does self-discipline come form?. Diunduh dari https://www.psychologicalscience.org/news/full-frontal-psychology/where-does-self-discipline-come-from.html

 

Eddleston, K. A., & Mulki, J. (2015) Toward understanding remote workers’ management of work-family boundaries: The complexity of workplace embeddedness. Group & Organization Management 42(3), 346-387.

 

O’Neill TA, Hambley LA, Bercovich A (2014) Prediction of cyberslacking when employees are working away from the office. Computer Human Behavior, 34, 291–298. doi: 10.1016/j.chb.2014.02.015