ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Lockdown” dan Manajeman Stres Mengatasi Kecemasan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) pada Keluarga terhadap Penyakit Corona dan Mempererat Kepedulian antar sesama WBP

 

Oleh

Rr. Ayu Sri Widyarini

Psikolog Klinis Madya, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Malang-Jawa Timur

 

Lembaga Pemasyarakatan yang dihuni oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) merupakan suatu kelompok masyarakat tersendiri yang memiliki karakteristik hampir sama, yaitu individu yang dinyatakan bersalah oleh pihak yang berwenang mengadili karena melanggar norma dan undang-undang yang berlaku di Indonesia dan harus menjalani beberapa bagian atau bahkan lebih dari setengah usianya untuk menjalani masa hukuman dalam penjara. Terkurung selama waktu yang ditentukan atau bahkan tidak ditentukan untuk tetap stay dalam Lembaga Pemasyarakatan.

Tiap Individu memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi juga tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Dalam Lembaga Pemasyarakatan, WBP harus bisa berperan sebagai individu yang utuh, menjadi diri sendiri. Menghilangkan status sosialnya, menghilangkan fungsinya bahkan menghilangkan keegoisan pribadi yang mungkin di masyarakat sangat di akui. Mereka harus berkumpul dalam suatu tempat dengan aturan yang sudah ditetapkan dan harus dijalankan. Mereka tetap seorang individu yang berbeda satu dengan yang lain. Seyogyanya memang dengan keberagaman karakteristik tiap individu, membuat hidup menjadi bervariasi dan memiliki makna dalam hidup. Kenyataan di lapangan banyak terjadinya berselisihan, perbedaan pendapat yang berujung pada pertengkaran dan pertikaian. Keberagaman karakteristik tiap manusia ternyata juga membuat ketidakcocokan antara individu satu dengan yang lainnya. Hal ini pun juga bisa terjadi bukan hanya kalangan WBP tetapi juga di kalangan petugas lapas, serta interaksi petugas lapas dengan WBP.

WBP yang harus melepas semua status sosial, atribut dalam masyarakat dan juga fungsi dalam keluarga, ternyata juga tidak bisa benar benar terlepas dari dunia luar, dunia masyarakat bahkan dunia yang saat ini sedang bersedih melawan virus COVID 19. WBP yang harusnya aman karena terhindar dari dunia luar, masyarakat yang hiruk pikuk, cemas dengan penularannya virus COVID 19. Di dalam Lapas, WBP sangat terjaga, aman dengan sistem lockdown. Menurut Garjito dan Chyntia (dalam suara.com, 2020) Lockdown adalah situasi yang melarang warga untuk masuk ke suatu tempat karena kondisi darurat. Jika dalam lapas, bisa diartikan bahwa pihak lapas melarang pihak luar lapas untuk masuk kedalam lapas karena suatu hal yang dapat mengakibatkan dampak buruk pada kondisi dalam Lapas. Hal ini yang seharusnya membuat mereka, para WBP merasa sangat nyaman, aman dari penularan virus, tetapi yang dirasakan adalah cemas yang semakin tinggi. Kebiasaan didatangi keluarga dan kerabat dalam lapas merupakan bentuk kebutuhan setiap WBP. Kebutuhan rasa kasih sayang, perhatian dan pemenuhan kebutuhan penerimaan dari keluarga kepada WBP. Kebutuhan rasa kasih sayang ini merupakan kebutuhan mendasar yang harus terpenuhi menurut Abraham Maslow (dalam Lestari, 2009). Rasa sayang terhadap seseorang (keluarga) membuat beberapa WBP sangat mengkhawatirkan kondisi keluarga di luar lapas. Kondisi anak, suami/ istri, dan bagaimana kondisi orang tua. Terlebih lagi jika yang menjadi terpidana adalah seorang wanita. Kecemasan akan muncul setiap saat dan setiap waktu jika mengingat kondisi orang tua, anak dan suaminya. Hingga gejala itu terwujud dengan sulitnya tidur nyenyak, kepala pusing, dan mual. Untuk menyikapi ini, secara menyeluruh bisa dilakukan bersama-sama yaitu dengan :

1.    Memberikan informasi yang benar dan jelas tentang virus, serta cara penularannya, dan antisipasi supaya tidak menularkan, atau tidak ketularan. Hal ini dilakukan agar lebih mudah memahamkan secara kognisi (pola pikir) WBP serta menyamakan dengan apa yang kita maksud.

2.    Memberikan penguatan kepada WBP, bahwa meskipun Indonesia saat ini sedang darurat Corona, tetapi penanganan dan antisipasi yang dibuat penentu kebijakan di Indonesia  yaitu dengan isolasi serta larangan bergerombol sangat tegas, cepat dan sudah terbukti efektif menurunkan penularan virus corona di beberapa negara lain. Perlu penguatan dan beberapa contoh keberhasilan program pemerintah yang sudah dilakukan untuk penanganan Virus Corona. Hal ini menumbuhkan rasa percaya pada program pemerintah.

3.    Berpikir realistis, bahwa sebagai WBP hanya bisa berkomunikasi melalui telepon, berdoa dan memberikan semangat keluarga dalam menghadapi virus corona tersebut. Seperti yang dicantumkan dalam Pasal 1 Ayat 6 UU No.12 Tahun 1995, bahwa sebagai narapidana yaitu sebagai orang yang karena dijatuhi hukuman oleh hakim telah ditempatkan di Lapas / Rutan dalam jangka waktu tertentu, maka beberapa haknya akan dihilangkan (Lestari, 2009).

4.    Memberikan relaksasi melalui metode pernafasan yang bertujuan untuk merilekskan pikiran yang tiada berujung. Menurut Bare dan Smeltzer (2002), teknik pernafasan dalam  bertujuan untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegeh etelektasi paru, meningkatkan efisiensi batuk, mengurangi stres baik stres fisik maupun emosional yang menurunkan intensitas nyeri dan kecemasan.  

5.    Memberikan kesempatan untuk menghubungi keluarga dan menemani WBP saat berkomunikasi dengan keluarga. Hal ini dilakukan agar WBP tetap rileks. Menemani WBP dalam berkomunikasi dengan keluarganya adalah bentuk dukungan sosial yang menurut Rook dalam Smet (1994) merupakan salah satu fungsi dari ikatan sosial dan ikatan-ikatan sosial tersebut menggambarkan tingkat kualitas umum dari hubungan interpersonal. Dukungan sosial yang diterima dapat membuat individu merasa, tenang, diperhatikan, dicintai, timbul rasa percaya diri dan kompeten.

6.    Saling menguatkan diantara WBP, memberikan semangat, pikiran positif, dan selalu ada diantara mereka. Menurut Sarason (dalam Koentjoro, 2002) menyatakan tingkat kepuasan dalam akan dukungan sosial yang diterima berkaitan dengan persepsi individu bahwa kebutuhannya akan terpenuhi (pendekatan berdasarkan kualitas)

7.    Selalu berserah diri, tetap berdoa agar kejadian luar biasa karena penularan virus COVID 19 segera berakhir. Ajaran agama islam mengajarkan bahwa ketenangan psikospiritual menjadi kunci kesehatan fisik. Nabi Muhammad SAW menganjurkan seseorang untuk berdoa agar mendapatkan ketentraman dalam jiwa saat sedang mengalami suatu penyakit (dalam Vanela, 2016)

Stretegi Lockdown dalam Lembaga Pemasyarakatan menumbuhkan dukungan sosial yang antar sesama WBP. Menurut Rook (dalam Smet, 1994), Ikatan dan persahabatan dengan orang lain dianggap sebagai aspek yang memberikan kepuasan secara emosional dalam kehidupan individu. Dalam kondisi kenyataan, hasil observasi penulis memunculkan beberapa kondisi seperti dibawah ini,

1.    Semakin erat hubungan antara sesama WBP, karena merasa sama kedudukannya karena ada sebagian WBP yang tidak pernah dikunjungi keluarga

2.    Mengantisipasi penularan virus dari pihak luar terutama pengunjung (keluarga dan kerabat)

3.    Menumbuhkan kepedulian antar sesama WBP, selama strategi lockdown diberlakukan sedih, senang dan gembira hanya dirasakan bersama teman sesama WBP

4.    Meminimalisir kegelisahan yang muncul dari cerita atau keluh kesah keluarga tentang permasalahan yang terjadi di masyarakat.

5.    Melatih pikiran positif bahwa kebijakan yang dirasa kurang menyenangkan bisa berdampak lebih baik pada diri sendiri (WBP)

Dari semua yang sudah dipaparkan diatas, jelaslah bahwa strategi lockdown yang dikombinasi dengan manajemen stres mampu menurunkan kecemasan pada WBP saat menghadapi pandemic COVID 19 saat ini.

 

Referensi:

Bare & Smeltzer. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & Suddart (Alih bahasa Agung Waluyo) Edisi 8. Jakarta: EGC

Lestari, H. W. (2009). Upaya pemenuhan kebutuhan seksual Narapidana laki-laki di Rumah Tahanan Negara Klas 1 Jakarta Pusat. FISIP. Universitas Indonesia.

Kuntjoro, Z. (2002). Dukungan sosial pada Lansia.

Smet, B. (1994). Psikologi kesehatan. Jakarta: PT Grasindo.

Vanela, Y. (2016). Doa sebagai metode Psikoterapi Islam untuk kesehatan mental pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Hi. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi. Lampung: IAIN Raden Intan