ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Mempertimbangkan Persepsi Masyarakat atas Risiko

Covid-19

 

Oleh

Abu Bakar Fahmi

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

 

Segera setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua warga yang terjangkit Covid-19, sejumlah masyarakat di Jakarta, Semarang, dan Surabaya melakukan aksi panic buying dengan memborong produk-produk kesehatan (masker, hand sanitizer, dan multivitamin) dan sejumlah bahan makanan pokok. Pada sisi lain, di tengah upaya pencegahan penularan Covid-19 warga dihimbau tidak bepergian ke luar negeri, sejumlah pejabat BUMD di Kabupaten Cianjur justru melakukan perjalanan ke Eropa dalam rangka cuti kerja. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat berbeda dalam memandang suatu keadaan yang berpotensi (atau tidak berpotensi) menimbulkan risiko bagi dirinya. Sejumlah warga membeli produk kesehatan dan bahan makanan pokok secara berlebihan karena panik terhadap dampak pandemi Covid-19 yang mungkin dapat mengancam dirinya dan menyebabkan kelangkaan barang kebutuhan pokok di kemudian hari. Saat pemerintah meminta masyarakat mengurangi aktivitas dengan bekerja di rumah untuk menekan penyebaran Covid-19, sejumlah pejabat di Kabupaten Cianjur justru jalan-jalan ke luar negeri, seakan tidak khawatir akan keselamatan dirinya.

 

Dua objek yang sama disikapi berbeda oleh orang yang berbeda. Cara pandang orang terhadap sesuatu apakah berisiko atau tidak berisiko ternyata dipengaruhi oleh bagaimana orang mempersepsinya. Dalam hal ini, menurut Slovic (2000), ilmuwan psikologi yang banyak mengkaji tentang risiko, cara orang memandang risiko bersifat subjektif. Menurutnya, risiko tidak terlepas dari pikiran dan budaya kita karena konsep tentang risiko, “membantu orang memahami dan mengatasi bahaya dan ketidakpastian dalam hidup. Meskipun bahaya-bahaya itu nyata, tetapi tidak ada yang namanya risiko nyata atau risiko objektif”. Sayangnya, subjektivitas dalam mempersepsi risiko membuat masalah yang kita hadapi bisa lebih sederhana pada satu sisi, tetapi lebih kompleks pada sisi lain. Pada saat pasien terjangkit Covid-19 semakin bertambah dengan cepat, pemerintah mempersepsi ada bahaya besar sehingga perlu dicegah kemungkinan penularannya dengan membatasi aktivitas masyarakat: sekolah libur 2 minggu, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah. Masalahnya, tidak semua orang punya persepsi yang sama dengan pemerintah dalam upaya menekan laju pertumbuhan pasien yang terjangkit. Padahal untuk menghadapi pandemi butuh persepsi yang sama terhadap risiko. Pemerintah dan masyarakat harus punya persepsi yang sama terhadap bahaya virus ini, sehingga butuh upaya pencegahan penularan. Pandemi tidak bisa dihentikan jika ada yang memandang virus ini berbahaya dan melakukan upaya pencegahan namun ada sebagian masyarakat yang tidak memandang berbahaya sehingga melakukan aktivitas yang justru menambah laju pandemi. Persepsi pemerintah yang tampak berbeda dalam memandang Covid-19 terasa pada saat belum ada warga yang terjangkit. Pada saat itu pemerintah seperti menyadari bahwa persepsi bersifat subjektif sehingga perlu mempengaruhi dan membentuk persepsi masyarakat bahwa virus ini tidak berbahaya. Virus ini bisa ditangkal dengan minum jamu, kata Presiden; virus ini biasa saja, tidak lebih berbahaya dari flu biasa, kata Menteri Kesehatan.

Mengapa suatu realitas (benda, peristiwa) yang sama dipersepsi berbeda sehingga orang memandang realitas itu berisiko, atau sebaliknya, tidak berisiko bahkan bisa bermanfaat?  Apa yang ada pada pikiran kita dan orang-orang? Dunia dalam kepala kita bukan replika yang persis sama dengan realitas (Kahneman, 2011). Alih-alih mengandalkan pikiran yang cermat dan hati-hati, bagaimana kita memandang sesuatu itu berisiko atau tidak berisiko dipengaruhi oleh emosi kita. Paul Slovic menyebut bahwa orang menggunakan heuristic afek dalam menilai suatu risiko. Dalam hal ini, orang merujuk pada afeksi dirinya yang terdiri atas pandangan positif dan negatif yang diasosiasikan dengan objek atau peristiwa yang dinilai (Slovic, 2000). Jadi, rasa suka (atau tidak suka), rasa takut (atau tidak takut), dan berbagai emosi yang muncul pada seseorang mempengaruhi persepsi atas suatu risiko. Jika Anda suka terhadap rokok misalnya, Anda cenderung akan berargumen kalau merokok itu hanya terkandung sedikit risiko atau sama sekali tidak ada risiko atau bahkan bermanfaat bagi kesehatan tubuh Anda.

Jadi, menyamakan Covid-19 dengan flu biasa untuk mengurangi persepsi risiko terhadap virus ini sepertinya tidak berdasar. Mungkin upaya ini hanya ampuh bagi orang yang tidak tahu bahwa virus ini belum ada vaksinnya dan orang yang terjangkit bisa berisiko kematian jika tidak mendapat penanganan yang memadai. Kita tahu bahwa ini virus jenis baru dan belum ada vaksinnya dan kita bisa tertular hanya karena berbincang-bincang dekat dengan orang yang terjangkit yang tampaknya sehat-sehat saja. Rasa takut ini ada dan wajar sehingga kita mempersepsi kalau virus ini berbahaya. Jika kita merujuk pada dua sistem berpikir, heuristik afek merupakan wujud cara berpikir sistem 1 yang bersifat emosional dan intuitif. Sementara kita juga dibekali cara berpikir sistem 2 yang bersifat rasional dan penuh perhitungan (Kahneman, 2011). Dalam hal ini, emosi yang mempengaruhi persepsi atas risiko sebagai hasil kerja sistem 1 diberikan peneguhan dan persetujuan oleh sistem 2 dengan memberikan pertimbangan dan alasan logis yang mendukung bahwa suatu objek atau peristiwa tertentu berisiko. Masalahnya, hanya mengandalkan sistem 1 dalam mempersepsi sesuatu bisa tepat bisa juga keliru. Heuristik afek bisa membuat benda atau peristiwa yang sama dipersepsi sangat berisiko, atau sebaliknya, sangat tidak berisiko sebagaimana dialami orang-orang pada dua kasus di atas.

Terakhir, beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan terkait pemahaman bahwa persepsi atas risiko bersifat subjektif. Pertama, pembuat kebijakan lebih baik tidak memaksakan persepsinya, apalagi yang bertolak belakang dengan persepsi masyarakat terkait risiko virus ini. Kedua, pembuat kebijakan perlu berhati-hati dalam menentukan kebijakan karena masyarakat punya subjektivitas sendiri dalam mempersepsi sesuatu. Terhadap objek yang mengancam kesehatan bahkan berakibat kematian tentu membuat orang takut, sehingga pembuat kebijakan perlu memahami ini agar kebijakan yang diambil tidak dipandang meremehkan kondisi yang dirasakan masyarakat. Ketiga, pembuat kebijakan perlu melakukan langkah-langkah yang terencana, terukur, dan penuh pertimbangan yang membuat masyarakat yakin bahwa pemerintah menjalankan tugasnya, sehingga ini bisa mengurangi ketakutan dan kecemasan masyarakat tentang bahaya virus ini. Keempat, masyarakat perlu mendapat akses informasi dan pengetahuan yang memadai tentang virus ini sehingga, kalaupun tidak semua, sebagian besar masyarakat mempersepsi sama tentang risikonya.

 

Referensi:

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. UK: Penguin Books.

Slovic, P. (2000). The perception of risk. The University of Michigan: Earthscan Publications.