ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Corona Virus :

Pertemuan Antara Dampak Psikologis, Kepemimpinan Dan Keyakinan

 

Oleh

Muhammad Hadras, M.Si

Fakultas Psikologi, Universitas Jendral Achmad Yani

 

Rekam digital dari WHO Covid 19

Data sebagaimana dilaporkan tgl 20 Januari 2020. Sorotan mulai 31 Desember 2019 hingga 20 Januari 2020. Pada tanggal 31 Desember 2019, Kantor Negara WHO diberitahu tentang kasus pneumonia etiologi tidak diketahui (penyebab tidak diketahui) terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei Cina. Dari 31 Desember 2019 hingga 3 Januari 2020, total 44 pasien kasus pneumonia etiologi yang tidak diketahui dilaporkan ke WHO oleh otoritas nasional di Cina. Selama periode tersebut dilaporkan agen penyebab tidak diidentifikasi. Pada tanggal 11 dan 12 Januari 2020, WHO menerima informasi lebih lanjut dari National Komisi Kesehatan China bahwa wabah itu terkait dengan paparan dalam satu makanan laut pasar di Kota Wuhan.

 

Selanjutnya pihak berwenang Cina mengidentifikasi jenis baru coronavirus, yang diisolasi pada 7 Januari 2020. Pada 12 Januari 2020, Cina berbagi urutan genetik dari coronavirus untuk negara yang akan digunakan dalam mengembangkan kit diagnostik khusus. Pada 15 Januari 2020, Kementerian Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan, Jepang (MHLW) melaporkan sebuah kasus impor coronavirus 2019 yang dikonfirmasi laboratorium (2019-nCoV) dari Wuhan.

 

Hingga yang terbaru terbaru 16 maret 2020 disorot terdapat empat negara/wilayah/wilayah baru (Wilayah Afrika [2], Wilayah Eropa [1] dan Wilayah Amerika [1]) telah melaporkan kasus COVID-19. Jumlah total kasus dan kematian di luar Tiongkok telah melampaui total jumlah kasus di Cina. Tim Manajemen Insiden COVID-19 WHO bekerja sama dengan erat bermitra di semua tingkatan untuk memberikan dukungan kepada negara-negara, memperkuat teknis dan jaringan operasional dan kolaborasi, dan mendukung operasional koordinasi respon global. (WHO, 2020)

 

Dampak Psikologis, Kepemimpinan dan Keyakinan

Kita tentu sepakat jika membahas Corona sebagai wabah yang menakutkan akan memunculkan dampak Psikologis bagi manusia, emosi secara otomatis mengalami gangguan.  Bukan hanya gangguan akan kematian dan sakit secara fisik melainkan menyerang mental manusia. Mengapa demikian? Karena secara periodik dan sistematis informasi yang diterima adalah informasi yang  mengerikan dan menakutkan kemudian melahirkan kepanikan dan memacu kecemasan. Nyaris tidak ada kabar baik dari Coronavirus.  Kecemasan adalah ketakutan yang samar-samar dan yang tidak jelas terarah pada suatu realisasi objektif yang didapat karena pengalaman atau melalui generalisasi rangsangan; seringkali terjadi sebagai akibat frustrasi/kekecewaan (Hassan, 1981).

 

Kecemasan ini akan terus berlanjut hingga masa recovery, persoalannya akan terjadi kepanikan baik yang sifatnya individu maupun umum sebab ada banyak hal yang tidak biasa dilakukan dengan begitu cepat tiap individu bereaksi menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut misalnya bekerja di rumah secara online, berkomunikasi, serta bertransaksi dengan orang lain pun dilakukan tanpa harus keluar rumah dan yang nanti akan memunculkan kecemasan baru sudah dapat dibayangkan kebiasaan ini akan memunculkan bentuk-bentuk lain dari kemudahan dan kenyamanan baru. Secara umum namanya kenyamanan sulit untuk ditinggalkan. Kita tetap produktif, kita tetap bekerja, bahkan kita tetap berkarya meski dimasa ini semuanya akan dilakukan dalam dunia digital. Bisa dibayangkan kompetisi dunia digital akan semakin bergejolak sehingga setiap lapisan menjadi pemain dalam dunia tersebut. Ini semua terjadi karena momentum yang tepat yakni bertepatan dengan kondisi yang mencekam akibat Corona virus kemudian memaksa semuanya harus dilakukan dengan meninggalkan kebiasaan lama beralih dengan membiasakan perilaku digital yang dijamin oleh platform tidak akan mengurangi nilai dan makna hidup yang menuntut produktivitas dan bermanfaat dalam kondisi apa pun.

 

Terlepas dari pro kontra yang muncul rasanya kurang bijak jika kita terus menerus bekerja hanya untuk mencari-cari kesalahan bangsa misalnya, perusahaan, atau individu hingga pemimpin dengan berkilah bahwa kejadian ini adalah mega proyek, kapitalisme, senjata biologis pemusnah massal, skenario dll. Apa pun namanya yang jelas kejadian ini selanjutnya tetap menjadi masalah bersama dan mesti diselesaikan secara bersama-sama pula. Tidak bisa tidak kita harus berjuang bersama-sama untuk keluar dari pandemik Corona virus.

 

Kepemimpinan merupakan apa yang para pemimpin lakukan dalam hal ini proses memimpin kelompok dan mempengaruhi kelompok untuk mencapai suatu tujuan (Robbin, 2012). Pemimpin (leader) dalam situasi senang apalagi urgent mutlak hadir dengan kepemimpinan yang efektif. Kita memiliki tujuan yang sama yakni keluar dari masalah Corona virus dalam kondisi sehat walafiat. Dalam dinamika sejak munculnya Corona virus, kita bergerak plural dengan berbagai kepentingan sehingga konflik menjadi sebuah keniscayaan. Konflik baik dalam negara, lembaga, institusi atau dalam organisasi dan kelompok mana pun adalah keadaan yang tidak harus dihindari melainkan memerlukan pengelolaan yang baik, selanjutnya diarahkan dan diurai masalahnya untuk dipecahkan agar memiliki kontribusi yang baik dalam mencapai tujuan bersama. Agar efektif pemimpin harus senantiasa memanfaatkan kerja sama dengan bawahan, sehingga dengan begitu pemimpin akan banyak mendapatkan bantuan pikiran, semangat, dorongan dan rasa persatuan yang kuat hingga mampu memudahkan dalam penyelesaian masalah.

 

Memupuk keresahan, menyebarkan ketakutan, menyiarkan kepanikan sekali lagi jelas tidak akan menghasilkan kebaikan. Pengertian akan pengetahuan menjadi sangat penting, sebab dengan atau tanpa ilmu pengetahuan, bahkan secara psikologis seorang pemimpin mustahil dapat menyantap hidangan dengan tenang, kecuali mereka paham ilmu sejarah bahwa bila masyarakat sudah murka seorang raja sekalipun dapat terbuang dari istana. Bolehlah mengatakan bahwa seorang raja adalah penguasa dan memiliki banyak pasukan, hanya perlu sedikit lambaian tangan maka terhapuslah jejak para orang jahat bahkan mampu menghapus jejak orang baik sekaligus namun bukan itu yang kita harapkan sebab selalu ada harapan dalam kesulitan karena dalam kesulitan terdapat kemudahan (QS. Al Insyirah 94:5)

Yakinlah masyarakat tidak butuh teori atau sekolah khusus.

Kenapa? Karena dalam budaya Indonesia mengakar semangat psikologis tentang kesadaran dan keparatnya hidup yang telah menjelma menjadi sekolah dan guru setia yang akan menemani sepanjang hayat. Setiap kali ada pemimpin yang gagal atau gugur, maka selalu ada yang akan bangkit memerangi kebodohan untuk menggantinya dengan goresan perjuangan. Terakhir mari saling menguatkan dengan do’a sebab kita yakin semua kejadian berdasarkan ketentuan pencipta. Allah melihat kita semua, Allah melihat proses ikhtiar yang kita lakukan, malaikat menjadi saksi dan memohonlah hanya kepada-Nya. InshaAllah.

 

 

Referensi:

 

Hassan, F. (1981). Kamus Istilah Psikologi. Indonesia.

 

Robbin, S. P. (2012). Management. 11th edition. Pearson Education Limited.

 

WHO. (2020, 03 18). World Health Organizaton. Retrieved from Coronavirus disease (COVID-19)outbreak: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports/