ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 05 Maret 2020

 

 

Mengatasi Kecemasan atas Pandemik COVID-19:

Sebuah Pengalaman Naratif dari Wuhan

 

Oleh

Patmawaty Taibe

Universitas Bosowa dan Central China Normal University

 

 

"As long as the rate of increase is exponential, no linear solution to fight it will work."

 

Pernyataan ini penulis dapatkan di linimasa twitter yang disertai dengan sebuah surat terbuka dari Italia untuk komunitas scientist di seluruh dunia, yang meminta untuk dunia atau negara lain yang masih memiliki jumlah kasus corona minim untuk segera mengambil tindakan untuk melakukan isolasi (lockdown) kepada warganya yang dikarenakan proses penyebaran virus corona sangat cepat dan mematikan. Penggalan pernyataan tersebut mungkin dapat menggambarkan bagaimana Covid-19 dapat mempengaruhi kesehatan mental individu di masa-masa pendemik ini.

 

Walau pada prinsipnya virus ini dapat berhenti dengan sendirinya kala imunitas atau antibody individu kuat sehingga dapat menangkal virus mematikan ini. Sebagai orang yang pernah berada di masa-masa lockdown sebuah kota yang merupakan sumber virus (epicentrum COVID-19) yakni kota Wuhan, penulis menyadari betul bahwa kondisi yang dihadapi dunia saat ini sangatlah mencekam, kita dipaksa untuk menghindari kontak dengan manusia lainnya, menaruh curiga dengan orang-orang di sekitar kita sebagai pembawa virus.

 

Wuhan saat badai Corona menerpa terjadi diakhir musim dingin, dengan kondisi cuaca yang begitu dingin membuat semua orang menjadi wajar ketika mengalami batuk-batuk atau tiba-tiba demam, namun dengan adanya virus corona membuat gejala-gejala tersebut tiba-tiba menjadi menakutkan, kami yang dulunya saat terkena flu di musim dingin hanya minum tolak angin, tidur yang cukup dan minum air panas menjadi obat yang mujarab, namun kali ini tidak. Setiap hari mengukur suhu tubuh, mencuci tangan berkali-kali bahkan mencuci tangan setelah menyentuh benda apapun, tanpa kami sadari kami menjadi paranoid dengan penularan wabah COVID-19.

 

Kami tidak berani untuk keluar dari Apartemen, kami takut bertemu dengan manusia lainnya. Sebagai mahasiswa perantauan, kami mulai memikirkan keluarga yang jauh di sana, khawatir dikarenakan ada ketakutan terpapar virus dan akan berakhir di negeri nun jauh dari kampung halaman yang membuat beban psikologisnya lebih parah ketika memikirkan keluarga yang juga panik di Tanah Air.

 

Menghadapi pandemik COVID-19 memanglah menakutkan. Selain karena masa inkubasi yang cukup lama disertai dengan gejala-gejala yang identik dengan penyakit flu biasa, membuat virus ini sulit untuk dideteksi secara manual, satu-satunya yang membuat kita yakin adalah ketika gejala tersebut disertai demam tinggi dan sesak nafas atau ketika kita mendapatkan hasil uji lab yang menyatakan positif COVID-19.

 

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi lockdown di kota Wuhan, yang dialami sendiri oleh penulis hingga masa evakuasi dan karantina di Natuna. Saat tulisan ini dibuat, 243 WNI yang dievakuasi dan melalui prosedur karantina oleh pemerintah Indonesia semua dalam kondisi sehat.

 

Peran Pemerintah dalam Kejelasan Informasi.

Salah satu hal yang saya ingat betul adanya informasi yang jelas dari pemerintah Tiongkok saat kami mendapatkan pesan berantai yang dikirim melalui nomer ponsel masing-masing, mengenai himbauan untuk peningkatan perilaku bersih, pembagian thermometer, masker, dan sabun pencuci tangan, serta jurnal kondisi suhu tubuh setiap mahasiswa yang harus dilaporkan ke pihak otoritas kampus.

 

Informasi yang terpusat dari pemerintah Tiongkok melalui otoritas kampus dan koordinasi dengan KBRI secara tidak langsung membuat kami merasa aman. Saat itu kami harus menjawab wawancara media dan mengabarkan mengenai kondisi kami di Wuhan kepada TV di Tanah air. Hal ini kami lakukan untuk membantu memberikan gambaran mengenai kondisi lockdown yang seringkali dikatakan sebagai isolasi. Pada minggu pertama kami tidak merasakan isolasi tapi lebih kepada mengurangi aktivitas diluar rumah, saat itu saya masih bisa keluar masuk dormitory dan belanja kebutuhan pokok di beberapa toko yang masih buka. Lockdown yang penulis alami adalah tertutupnya transportasi publik, perkantoran, pabrik, sekolah dan universitas ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan.

 

Walau demikian dimasa-masa puncaknya endemik seluruh warga tidak dapat keluar dari tempat tinggalnya, demikian halnya mahasiswa yang tinggal di dormitory. Mahasiswa disediakan makanan tiga kali sehari dan untuk warga yang tinggal di apartemen secara bergiliran bertugas berbelanja kebutuhan pokok yang dikoordinir oleh pemeritah setempat, penggunaan cash money ditiadakan seluruh pembayaran menggunakan e-money.

 

Tampak jelas bahwa informasi satu pintu merupakan salah satu cara yang bisa dilaksanakan untuk mengurangi kepanikan masyarakat atas kesimpang-siuran berita yang ada. Peran pemerintah sangat diperlukan untuk mengatasi kepanikan yang bersifat massif di masyarakat.

 

Social Distancing dan Perilaku hidup bersih

Sejak merebaknya wabah COVID-19 social distancing hal ini diinstruksikan oleh pemerintah setempat untuk tidak mengadakan kegiatan yang melibatkan kumpulan massa dan menutup fasilitas public. HCoV-19 (SARS-2) menyebabkan lebih dari 120.000 jiwa terpapar virus tersebut (data per tanggal 16 Maret 2020) faktanya virus ini dapat bertahan di permukaan benda tertentu dalam wkatu tertentu sangat tergantung dengan jenis permukaan benda. Doremalen, dkk (2020) memaparkan hasil eksperimen kestabilan HCoV-19 pada permukaan memperlihatkan permukaan yang terbuat dari bahan plastic dan stainless steel akan bertahan selama 2 hingga 3 hari. Berdasarkan data tersebut penyebaran virus COVID-19 sangatlah memungkinkan terjadi ketika perilaku masyarakat tidak bersih.

 

Pembatasan interaksi antar manusia dengan manusia lainnya adalah salah satu cara terbaik untuk menghambat penyebaran wabah ini terjadi. Tidak berarti dengan dihentikannya segala aktivitas public yang melibatkan kerumunan orang, maka aktivitas harian tidak berjalan, walau demikian dampak dari pembatasan bertemunya individu dengan individu lainnya secara bersama-sama akan menyebabkan perubahan-perubahan pada kehidupan masyarakat, berdiam diri di rumah akan menyebabkan manusia menjadi bosan dan mengkhawatirkan kebutuhan-kebutuhan hidup selanjutnya (khususnya pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah). Namun perlu diingat bahwa ketika aktivitas publik dihentikan bukan berarti masa liburan telah tiba. Sangat perlu diperhatikan bahwa dengan membatasi aktivitas kita di ruang publik akan membantu orang lain, keluarga kita dan diri kita sendiri untuk terhindar dari virus COVID-19.

 

Menerapkan hidup bersih merupakan hal yang sulit untuk sebagian masyarakat kita, namun penulis berhipotesis dengan menyadari bahwa virus merupakan partikel kecil  yang tidak kasat mata dan bisa berada dimana saja akan membantu meningkatkan kesadaran akan resiko terpapar virus corona.

 

Tingkatkan Pengetahuan

Penulis mencoba untuk membagi beberapa tips untuk peningkatan kesehatan mental masyrakat yang harus berdiam diri di rumah. Sangatlah wajar jika mengalami kepanikan dan kondisi cemas, hingga saat ini beberapa WNI yang dari Wuhan masih mengalami trauma ketika mendengar ambulans, ataupun ketika merasakan suhu tubuhnya naik. Pemahaman akan virus COVID-19 akan membantu menurangi rasa cemas.

 

Mengurangi konsumsi informasi mengenai COVID-19.

Menjadi lebih bijak dalam memilih informasi merupakan hal yang penting saat ini, khususnya di masa-masa lockdown, penulis secara pribadi tidak membaca atau melihat berita-berita yang berada di sosial media. Kami memantau perkembangan wabah COVID-19 melalaui website terpercaya yakni yang disediakan WHO dan pemerintah Tiongkok sendiri (melalui account weChat atau alipay).

 

Menikmati hal-hal kecil saat berada di Rumah/ mengisolasi diri

Resilience adalah hal dibutuhkan untuk tetap sehat secara mental di tengah pandemic COVID-19. Resilience adalah kemampuan untuk seseorang menilai, mengatasi, meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan hidup (Grotberg, 2003). Saat masa lockdown di Wuhan penulis mencoba menikmati hal-hal kecil disetiap harinya, melakukan hobi-hobi yang disenangi seperti memasak, penulis menyibukkan diri dengan membuat video diary, dan membagi informasi melalui tulisan-tulisan singkat.

 

Proses-proses lainnya menuju resilience adalah mencoba tetap terkoneksi dengan keluarga dan teman-teman melalui media online, membicarakan hal-hal yang lucu serta berdoa. Sebagai orang yang bergelut dibidang psikologi penulis percaya bahwa saat-saat sulit mampu membuat individu dapat melihat keadaan menjadi sebuah pengalaman yang berharga di dalam hidup nanti dan menjadikan penulis menjadi pribadi yang lebih tawakkal dan bijaksana dalam melihat kehidupan.

 

Referensi:

 

Grotberg, E. H. (2003). Resilience for Today: Gaining Strength from Adversity. Greenwood, SC: Praeger Publishers.

 

Doremalen, N., Bushmaker, T., Morris, D., Holbrook, M., & Gamble, A. (2020). Aerosol and Surface stability of HCoV-19(SARS-CoV-2) compared to SARS-CoV-1. MedRxiv Preprint. doi: https://doi.org/10.1101/2020.03.09.20033217