ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Serba Panik Karena Corona: Perubahan Perilaku Belanja

 

Oleh

Clara Moningka

Universitas Pembangunan Jaya

 

Virus corona telah menjadi pandemi. Berbagai perilaku individu juga berubah. Mulai dari perilaku menebar hoax, menyebarkan identitas penderita sakit, bahkan konflik antara rekan kerja karena tidak sependapat dengan regulasi yang dibuat sehubungan dengan virus ini. Hal lain yang menonjol adalah perilaku tidak empati terhadap sesama dimana terjadi perilaku menimbun masker dan hand sanitizer. Berbagai kepanikan terjadi, sumpah serapah juga keluar dari mulut masyarakat yang merasa dirugikan dengan harga masker dan perlengkapan lain yang meroket. 

Karena penyebaran virus ini, jelas terlihat perubahan perilaku belanja beberapa minggu belakangan ini di Indonesia. Ketakutan dan rasa cemas, membuat orang berbondong-bondong membeli produk yang biasanya hanya mereka lirik sekilas – ingat panic buying. Di suatu supermarket di Jakarta, orang berbondong-bondong membeli pemutih yang merupakan desinfektan dan berbagai pembersih lainnya. Jelas saja, karena fenomena corona, permintaan terhadap produk tersebut meningkat. Namun apakah perilaku ini akan bertahan? Terlebih ada issue lockdown, social distancing, dan lain sebagainya? Mengapa perilaku belanja ini berbeda dari perilaku belanja karena diskon, bahkan karena issue bencana seperti banjir?

Pada dasarnya musibah karena virus adalah sesuatu yang sulit kita pantau. Pada kasus ini, kita memang tidak dapat mengontrol apa yang terjadi pada kita. Terlebih gejala yang ditimbulkan adalah gejala serupa flu. Dalam kasus ini, membeli sesuatu untuk antisipasi pada dasarnya membuat orang merasa (mampu) mengontrol situasi tersebut. Kita harus menyadari bahwa mengkonsumsi dilakukan karena berbagai motif, pengaruh emosi (temasuk takut, cemas), dan bagaimana situasi sosial konsumen (Solomon, 2016).  Di sisi lain juga ada nilai, norma yang membuat orang memutuskan untuk menimbun tanpa memikirkan orang lain, atau mau berbagi dengan orang lain. Kecemasan karena virus ini yang bisa menyebar dengan cepat membuat orang membeli sesuatu yang membuat mereka merasa aman, termasuk memilih cara aman untuk berbelanja—seperti belanja daring. Orang juga menjadi cemas ketika memilih barang. Bisa saja mereka memilih produk yang lebih mahal karena karena merasa lebih ampuh dalam melindungi. Padahal apakah ada jaminannya?

Pada dasarnya setiap manusia akan mencari kenyamanan; keamanan dalam dunia yang tidak aman atau tidak nyaman. Proses membeli yang dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan. Jadi tidak heran orang akan membeli sabun antiseptik, masker, bahkan jahe atau rempah-rempah yang dikatakan dapat membantu mencegah penularan. Tidak heran, bila ada yang besedia membayar ratusan ribu untuk antiseptik cair dan lain sebagainya. Konsumen akan berusaha membuat dirinya nyaman dan merasa aman karena usaha yang telah ia lakukan. Adanya keadaan tidak nyaman seperti pandemik virus corona juga memungkinkan orang menjalani gaya hidup yang berbeda dan lebih sehat, seperti mencuci tangan, tidak memegang bagian wajah terlalu sering, bahkan mengkonsumsi vitamin, sayur dan buah dengan lebih rutin. Perubahan perilaku ini bisa saja bertahan, karena adanya trauma, atau perasaan tidak menyenangkan saat pandemi ini terjadi.

Kita boleh saja panik, bahkan perlu juga membeli sesuatu untuk antisipasi dan untuk kesehatan kita. Kita perlu juga merasa aman dan nyaman. Hal tersebut jelas tidak salah, namun di balik itu semua, kita juga perlu berempati dengan sesama. Tidak perlu melakukan penimbunan, apalagi dengan tujuan dijual dengan harga yang sangat tinggi. Tentu saja ada yang mau membeli karena penjelasan yang sudah saya jabarkan di atas, tapi jangan sampai fenomena ini menumpulkan kemanusiaan kita – stay healthy and be a good shopper.

Referensi:

Solomon, M.R. (2016). Consumer behavior: Buying, having, and being. New Jersey: Pearson.