ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Corona Merona: Pengalaman Meneliti saat COVID-19 Menjadi Pandemik

 

Oleh

Made Diah Lestari

Massey University New Zealand dan Program Studi Psikologi, Universitas Udayana

 

Awal Desember 2019, saya kembali ke Indonesia, Bali untuk memulai penelitian studi doktoral saya. Semua proses persiapan penelitian berjalan dengan lancar, mulai dari pengajuan ethical clearance, ijin penelitian dari daerah setempat, seluruh surat pegantar dari instansi tempat saya bekerja, dan termasuk surat pengantar dari institusi pendidikan tempat saya mengeyam pendidikan doktoral saya. Meski memproses ijin penelitian di rumah sakit lebih lama dari proses yang lain dan membutuhkan persyaratan yang lebih menantang, namun akhirnya ijin pun diberikan oleh pihak rumah sakit.

Proses pengambilan data dalam penelitian saya berlangsung di dua seting, di komunitas dan di rumah sakit. Jadi sembari menunggu ijin dari rumah sakit, penelitian di komunitas sudah mulai saya lakukan sejak Desember akhir, sedangkan pengambilan data di rumah sakit baru bisa dilakukan di akhir Februari saat ijin diberikan.

Penelitian kualitatif dengan kajian lansia dan keluarga menjadi minat saya selama ini. Salah satu hal yang saya pelajari dari proses penelitian kualitatif adalah reflexivity. Reflexivity didefinisikan sebagai proses yang berkelanjutan, dimana peneliti terlibat secara aktif dalam membangun kesadaran akan aksi, rasa, dan juga persepsinya dalam proses penelitian (Darawsheh, 2014; Mason-Bish, 2019). Finlay merangkumnya sebagai sebuah proses subjective self-awareness (Mason-Bish, 2019). Reflexivity memungkinkan peneliti dalam meningkatkan kepercayaan dan kredibilitas penelitian, serta transparasi dari peran peneliti (Darawsheh, 2014; Rettke et al., 2018). Dalam reflexivity, seorang peneliti perlu untuk menghindari peran ganda dan memahami posisinya dalam sebuah penelitian, termasuk di dalamnya konflik peran yang mungkin saja terjadi yang disebabkan oleh afiliasi peneliti pada kelompok tertentu, atau sebaliknya prasangka dan diskriminasi (Darawsheh, 2014; Eide & Kahn, 2008; Hohmann-Marriott, 2001; Larossa et al., 1981; Mason-Bish, 2019). 

Lalu apa kaitannya dengan COVID-19?

Saat saya memulai pengambilan data di rumah sakit, saat itu pula Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Harga masker yang melambung, kelangkaan hand sanitizer, panic buying sudah mulai terlihat di Indonesia. Saya sendiri tidak mengalaminya langsung sebab saya tidak menggunakan masker, lebih memilih untuk mencuci tangan dan membawa sabun kemana-mana dan tidak memiliki keinginan untuk menimbun bahan pokok. Saya hanya membacanya dari media, terlebih media sosial.

Di sisi lain, dari media sosial, saya juga belajar banyak hal-hal positif. Seperti apa itu COVID-19, bagaimana pencegahan, bagaimana penularannya, prevalensinya seperti apa, dan bagaimana negara-negara lain menghadapi pandemik ini. Dalam tulisan ini saya tidak akan banyak membahas tentang hal-hal medis dan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan COVID-19, namun saya akan berbagi terkait apa yang saya rasakan, bagaimana proses reflexivity saya sebagai peneliti pada rumah sakit dimana kasus kematian pertama COVID-19 terjadi.

Bohong jika saya tidak terpengaruh secara psikologis. Beberapa tenaga medis sempat berdiskusi dengan saya terkait kekhawatiran mereka dan terlebih lagi bagaimana media menyoroti kasus kematian tersebut dan juga rentetan peristiwa setelahnya. Sebagai contoh, sehari setelahnya headline sebuah media cetak secara gamblang menampilkan judul provokatif bahwa dua tenaga kesehatan ‘tumbang’ setelah merawat pasien COVID-19. Saya ingat betul di tahun 90an, hanya media-media cetak tertentu (yang biasanya meliput kasus-kasus kriminal) yang menggunakan judul-judul ‘nyeleneh’ seperti ini untuk menarik minat pembaca, tetapi sekarang sudah menjadi hal yang lumrah. Sangat disayangkan karena tugas media adalah mengedukasi, bukan menakut-nakuti, pun membesar-besarkan sebuah fakta.

Hal lainnya adalah prasangka dan diskriminasi yang rentan terjadi karena COVID-19. Seperti yang kita tahu kasus pertama terjadi di Wuhan dan kasus kematian pertama di Bali adalah warga negara asing (WNA). Terus terang ada perasaan khawatir yang saya rasakan saat berpapasan dengan WNA. Tetapi saat rasa khawatir itu ‘merona’ saya kembali teringat cara Selandia Baru menghadapi COVID-19, mereka mengatakan ada dua cara menghadapi COVID-19, 1. Wash your hand, 2. Don’t be racist and xenophobic (memperlihatkan rasa tidak suka dan prasangka kepada warga negara asing). Poin kedua menjadi hal yang penting bagi saya di masa-masa penelitian di rumah sakit. Sungguh proses reflexivity yang berharga. Terlebih lagi prevalensi COVID-19 juga terjadi pada lansia. The Washington Post bahkan mempublikasikan sebuah artikel dengan judul “Coronavirus is mysteriously sparing kids and killing the elderly. Understanding why may help defeat the virus” Sebagai gerontologist dan peneliti, ini meresahkan saya. Bagaimana jika interaksi dengan lansia membuat saya lebih rentan dan berisiko tinggi? Atau yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah, secara tidak sadar saya telah menularkan COVID-19 ke para lansia yang daya tahan tubuhnya lebih lemah dari saya. Tapi bukankah judul artikel tersebut tidak hanya berhenti sampai di sana? Justru poin utamanya adalah ‘understanding why will help you to defeat it’

Terima kasih juga kepada teman-teman kuliah S1 saya yang secara rutin berbagi informasi-informasi baru terkait penanganan COVID-19 oleh perusahaan tempat mereka bekerja dan juga negara tempat mereka berdomisili melalui group messenger. Luar biasa. Saya jadi paham penanganan yang dilakukan oleh Singapore (contoh: lebih efektif cuci tangan dibandingan dengan masker, masker dipriotitaskan untuk yang sakit dan merawat), dan juga langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia yang harus kita kawal, bukan dihujat, namun secara konstruktif mendampingi pemerintah dalam prosesnya.

Lah bagaimana mendampingi pemerintah? Apalagi secara konstruktif? Kita hanya rakyat kecil? Siapa kita?

Tentu saja jawabannya adalah Indonesia.

Masyarakat yang guyub, sehingga saat Corona Merona, tingkatkan keguyuban kita sebagai bangsa yang beradab. Guyub bukan berarti berkumpul, namun bersama-sama membentengi diri kita. Melalui edukasi paling tidak keluarga terdekat, tetangga, hindari prasangka dan diskriminasi, tingkatkan kebersihan dan juga mulai gaya hidup sehat. Jika sudah merasakan gejala, paling tidak cegah diri sendiri untuk tidak menularkan kepada orang-orang di sekeliling kita.

 

Referensi:

Darawsheh, W. (2014). Reflexivity in research: Promoting rigour, reliability and validity in qualitative research. International Journal of Therapy & Rehabilitation, 21(12), 560–568.

Eide, P., & Kahn, D. (2008). Ethical Issues in the Qualitative Researcher—Participant Relationship. Nursing Ethics, 15(2), 199–207. https://doi.org/10.1177/0969733007086018

Hohmann-Marriott, B. E. (2001). Marriage and Family Therapy Research: Ethical Issues and Guidelines. The American Journal of Family Therapy, 29(1), 1–11. https://doi.org/10.1080/01926180126081

Larossa, R., Bennett, L. A., & Gelles, R. J. (1981). Ethical Dilemmas in Qualitative Family Research. Journal of Marriage and Family, 43(2), 303–313. JSTOR. https://doi.org/10.2307/351382

Mason-Bish, H. (2019). The elite delusion: Reflexivity, identity and positionality in qualitative research. Qualitative Research, 19(3), 263–276. https://doi.org/10.1177/1468794118770078

Rettke, H., Pretto, M., Spichiger, E., Frei, I. A., & Spirig, R. (2018). Using reflexive thinking to establish rigor in qualitative research. Nursing Research, 67(6), 490–497. https://doi.org/10.1097/NNR.0000000000000307