ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 02 Januari 2020

Belajar Tahu Hal Tabu

 

Oleh

Galuh Crystal Suliandari dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Mahasiswa dan Dosen Program Studi Psikologi

Fakultas Humaniora dan Bisnis, Universitas Pembangunan Jaya

 

Masa remaja adalah masa paling membingungkan. Menurut Sarwono (dalam Apsari & Purnamasari, 2017), masa remaja ditandai dengan perubahan-perubahan fisik pubertas dan emosional yang kompleks, dramatis, serta penyesuaian sosial yang penting untuk menjadi dewasa. Di saat yang sama, individu remaja berusaha menemukan identitas diri dan belajar menjadi mandiri, akan tetapi di saat tersebut juga dirinya masih belum mampu untuk berdiri sendiri.

 

Selain itu juga masa remaja ini penuh dengan rasa penasaran, dimana mereka mencoba banyak hal baru hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka saja. Rasa penasaran ini wajar dirasakan remaja, mengingat mereka masih berusaha mencari jati diri mereka dan belum sepenuhnya yakin pada apa yang mereka mau. Menurut Erikson (dalam Papalia & Martorell, 2015), identitas diri remaja terbentuk saat mereka sudah mampu mengatasi tiga isu; apa tujuan mereka, nilai-nilai apa yang mereka miliki, dan bagaimana identitas seksual mereka.

 

Diantara 3 isu yang disebutkan Erikson, yang paling sering dianggap sebelah mata ataupun dianggap sebagai perkara yang tabu untuk dibicarakan adalah yang berhubungan dengan pengetahuan seksual. Rasa ingin tahu remaja mengenai hal-hal yang berbau seksual boleh jadi dimulai sejak mereka mengalami pubertas. Pubertas adalah saat laki-laki pertama kali mengalami mimpi basah dan perempuan mengalami menstruasi. Kedua hal ini yang kemudian menjadi tanda bahwa organ tubuh mereka sudah mampu melakukan reproduksi, meski belum matang sepenuhnya.

 

Pengetahuan-pengetahuan mengenai perubahan fisik yang mereka alami sedikit banyak sudah diberikan di sekolah melalui pelajaran-pelajaran mengenai anatomi manusia. Sweeney (dalam Sari, 2016) menjelaskan pendidikan seks adalah kewajiban yang harus kita berikan pada anak dan remaja, tanpa kecuali. Menurut Kartika (2019), kurangnya memberikan pengetahuan seksual adalah karena adanya anggapan bahwa justru dengan memberi pengetahuan ini akan menjadi pemicu anak melakukan kegiatan seksual. Padahal justru dengan tidak diberikannya pengetahuan secara baik oleh orang dewasa di sekitarnya (guru maupun orang tua) anak lebih mungkin melakukan kegiatan seksual dengan meniru sumber yang tidak pantas, seperti video-video yang beredar di berbagai situs pornografi.

 

Pertanyaan berikut: apakah pengetahuan tersebut sudah cukup lengkap dan disertai dengan memberi pemahaman yang sama mengenai perilaku seks serta konsekuensi dari perilaku seks tidak aman? Moffitt (dalam Wesche, Kreager, Feinberg, & Lefkowitz, 2019) berargumentasi bahwa boleh jadi alasan remaja melakukan hubungan seksual dapat di asosiasikan dengan penghargaan sosial peer groupnya. Kurangnya pembekalan pengetahuan dapat menyebabkan anak melakukan perilaku seksual tidak aman.

 

Selain itu, dilansir dari Virdhani (2019), masih banyak remaja yang merasa enggan membicarakan topik tersebut dengan orang tua mereka. Pada awalnya, mereka memang banyak bertanya pada orang tua. Akan tetapi lama kelamaan, mereka semakin enggan bertanya pada orang tua sehubungan dengan topik ini. Mereka merasa lebih nyaman membicarakan hal ini dengan teman-temannya. Hal ini terjadi karena remaja merasa takut bahwa orang tua mereka akan menghakimi mereka hanya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang mereka berikan. Padahal orang tua adalah sumber pertama yang seharusnya menjadi tempat terpercaya bagi anak untuk mempertanyakan hal-hal ini (Putri, 2019).

 

Memang baiknya sejak usia dini orang tua sudah memberikan pengetahuan seksual pada anak. Bisa dimulai dengan memperkenalkan anak pada tubuh mereka sendiri, tidak lupa juga menjelaskan mengenai organ-organ intim mereka. Setelah itu dilanjutkan dengan memberi tahu bahwa ada bagian-bagian dari tubuh mereka yang tidak boleh disentuh siapapun, memberi tahu apa jenis kelamin mereka serta apa perbedaannya dari masing-masing gender (Putri, 2019). Semua ini perlu dilakukan agar saat tumbuh remaja, anak tidak lagi merasa enggan ataupun risih ketika membicarakan hal ini dengan orang tua. Di saat ini, orang tua juga disarankan berperan sebagai pendengar yang baik dengan menunjukkan antusiasme saat mendengarkan serta menghindari sikap menilai (Yunisha & Soerjoatmodjo, 2018).

 

Seraya membahas hal-hal di atas, tidak lupa orang tua dapat memberi pengetahuan mengenai kekerasan—fisik maupun emosional—dalam hubungan, pelecehan seksual, serta berbagai orientasi seksual yang ada (Kirnandita, 2018). Anak harus diberi pengetahuan sejak dini juga mengenai hal-hal ini, agar saat remaja ataupun dewasa mereka tahu perbedaan hubungan yang sehat dan tidak, sadar akan berbagai orientasi seksual yang ada, serta tidak melakukan hal-hal yang dapat menjurus menjadi pelecehan seksual baik fisik maupun non-fisik.

 

Referensi:

 

Apsari, A. R., Purnamasari, S. E. (2017). Hubungan antara konformitas dengan perilaku seksual pranikah pada remaja. Jurnal Ilmiah Psikologi Insight, 19(1). Diakses melalui http://ejurnal.mercubuana-yogya.ac.id/index.php/psikologi/article/view/596/385

Kartika, U. (2019). Pendidikan seks untuk cegah perilaku seks bebas pada remaja. Kompas.com. diakses melalui https://lifestyle.kompas.com/read/2014/04/05/1036377/Pendidikan.Seks.untuk.Cegah.Perilaku.Seks.Bebas.pada.Remaja

Kirnandita, P. (2018). Pengetahuan seks adalah tabu: bikin malu sekaligus penasaran. Tirto.id. diakses melalui https://tirto.id/pengetahuan-seks-adalah-tabu-bikin-malu-sekaligus-penasaran-cEHw

Papalia, D.E., Martorell, G. (2015). Experience Human Development. 13th edition. New York: McGraw-Hill International Edition.

Putri, F.I. (2019). Biar tak gelagapan kalau ditanya, ortu perlu kenalkan sex education sejak dini. Health.detik.com. diakses melalui https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4629661/biar-tak-gelagapan-kalau-ditanya-ortu-perlu-kenalkan-sex-education-sejak-dini

Putri, F.I. (2019). Tahapan-tahapan orang tua ajarkan pendidikan seks pada anak. Health.detik.com. diakses melalui https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4630181/tahapan-tahapan-orang-tua-ajarkan-pendidikan-seks-pada-anak

Sari, E.K. (2017). Peranan orang tua terhadap Pendidikan seksual pada anak retardasi mental ringan usia 16-18 tahun. eJournal Psikologi, 5(1). diakses melalui http://ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2016/06/eJournal%20Erinda%20(ONLINE)%20(06-15-16-10-56-08).pdf

Virdhani, M.H. (2019). 61 persen remaja masih takut bicara edukasi seksual pada orang

tua. Jawapos.com. Diakses melalui

 https://www.jawapos.com/kesehatan/19/07/2019/61-persen-remaja-masih-takut-bicara-edukasi-seksual-pada-orang-tua/

Wesche, R., Kreager, D.A., Feinberg, M.E., Lefkowitz, E.S. (2019). Peer acceptance and social behaviors from adolescence to young adulthood. Journal of Youth and Adolescence. https://doi.org/10.1007/s10964-019-00991-7 diakses melalui http://sci-hub.tw/https://link.springer.com/article/10.1007/s10964-019-00991-7

Yunisha, E. & Soerjoatmodjo, G.W.L. (2019) Berteman degnan anak. Info Bintaro 24 September 2018. Diakses dari http://www.infobintaro.com/berteman-dengan-anak/