ISSN 2477-1686

 

Vol.5 No. 18 September 2019

Culture Shock: Tantangan Penyesuaian Diri

Mahasiswa Rantau

 

Oleh

Beni Ricky Trinanda dan Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Mahasiswa yang merantau pada umumnya bertujuan untuk meraih kesuksesan melalui kualitas pendidikan yang lebih baik pada bidang yang diinginkan. Menurut Desmita (2009) keberanian merantau perlu dimiliki sehingga dapat membentuk pribadi yang siap menghadapi lingkungan baru dengan banyak tantangan yang harus dihadapi. Mahasiswa rantau dalam proses menempuh pendidikan di perguruan tinggi juga tentunya memiliki tantangan yang berbeda dari mahasiswa yang bukan perantau karena harus tinggal di luar rumah dalam jangka waktu tertentu untuk menyelesaikan pendidikannya.

Mahasiswa yang berasal dari luar daerah bahkan dari negara yang berbeda memiliki tantangan untuk dapat beradaptasi dengan kebudayaan yang baru, menjalani proses pendidikan dan lingkungan sosial baru yang dapat menimbulkan tekanan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan pengalaman dan pergaulan dengan beberapa mahasiswa rantau, tantangan yang dihadapi antara lain sulit beradaptasi pada awal perkuliahan, sulit untuk mengatur keperluan sehari-hari karena hidup jauh dari keluarga, belum terbiasa dengan aturan yang berlaku di lingkungan setempat, belum terbiasa dengan makanan khas di tempat yang baru,  terlebih lagi masalah komunikasi karena faktor bahasa. Niam (2009) berpendapat bahwa pada umumnya mahasiswa yang merantau dihadapkan pada masalah-masalah seperti mengurus keperluan sehari-hari seorang diri, bertemu dengan teman-teman baru yang berbeda latar belakang dan lingkungan belajar yang baru. Dalam mengatasi situasi dan masalah-masalah tersebut, mahasiswa rantau perlu berusaha untuk dapat menyesuaikan diri.  Ghufron & Risnawita (2012) menyatakan bahwa penyesuaian diri adalah kemampuan individu dalam menghadapi tuntutan-tuntutan baik dalam diri maupun lingkungan, sehingga terdapat keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dengan tuntutan lingkungan dan tercipta keselarasan antara individu dengan realitas. Jadi, penyesuaian diri adalah kebutuhan untuk mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan dan juga dapat bertahan dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

Tantangan Penyesuaian Diri Bagi Mahasiswa Rantau

Ketidakmampuan menyesuaikan diri dapat menyebabkan berbagai masalah sosial seperti timbulnya konflik atau terganggunya hubungan komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya dalam suatu kawasan tempat tinggal. Bagi mahasiswa rantau, hal ini dapat membuatnya mengalami kesulitan untuk membawa dirinya di lingkungan baru sehingga diawal-awal kedatangannya merasa kurang bahagia, kurang nyaman dan aman di lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini membuat mahasiswa rantau tak jarang mengalami culture shock (keterkejutan budaya) karena harus menjalani hidup dengan budaya baru.

Ward (2001) mendefinisikan culture shock sebagai suatu proses aktif dalam menghadapi perubahan saat berada di lingkungan yang tidak familiar. Proses aktif tersebut terdiri dari affective, behavior, dan cognitive, yaitu reaksi individu dalam merasa, berperilaku, dan berpikir ketika menghadapi pengaruh budaya baru dari budaya asalnya, sehingga diperlukan adaptasi yang cukup mendalam agar rasa keterasingan yang dialami tidak berlangsung lama. Dalam hal ini, mahasiswa rantau yang mampu berinteraksi dengan individu lain membuka diri sebagai usaha mengenali berbagai orang dan menyesuaikan diri agar dapat terbentuk kesesuaian budaya sebagai realisasi hubungan yang harmonis.

Pengalaman Hidup yang Berharga Bagi Mahasiswa Rantau

Terlepas dari tantangan dalam menghadapi budaya dan lingkungan baru, mahasiswa rantau justru mendapatkan lebih banyak pengalaman hidup yang tidak dialami oleh mahasiswa lokal seperti kesempatan bergaul dengan mahasiswa dan dosen dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda, belajar untuk dapat hidup lebih mandiri dan tidak terpengaruh dengan pergaulan buruk, mempelajari bahasa setempat, bahkan menikmati makanan khas serta mengunjungi tempat-tempat hiburan daerah setempat, sehingga fase penyesuaian diri saat mengalami culture shock merupakan bagian dari pengenalan budaya baru yang meskipun membutuhkan waktu, namun bila dapat bertahan dan menjalani semua prosesnya dengan tekun, kelak menjadi pengalaman hidup yang sangat berharga dan bekal bagi kesuksesan di masa depan.

 

Referensi:

Desmita. (2009). Psikologi perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ghufron, N., & Risnawati, R. (2011). Teori-teori psikologi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Niam, E. K. (2009). Koping terhadap stres pada mahasiswa luar Jawa yang mengalami Culture Shock  di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi, 11(1), 69-77.

Ward, C. S. (2001). The psychology of culture shock. USA: Taylor & Francis.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh