ISSN 2477-1686

 

Vol.5 No. 18 September 2019

Bersyukur (Gratitude):

Di Tengah Gemerlap Kehidupan Dunia Maya

 

Oleh

Frida Medina Hayuputri

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Dunia maya (virtual) memungkinkan orang-orang untuk berinteraksi tanpa dibatasi jarak dan waktu. Kita bisa bercengkrama secara leluasa dengan orang lain yang  awalnya tidak kita kenal, bisa juga dengan teman lama yang sudah pindah ke tempat yang jauh, atau bahkan dengan artis idola yang belum pernah kita temui.

Biasanya dalam dunia maya, seseorang memiliki kecenderungan untuk berusaha menampilkan kesan-kesan tertentu yang dianggap “hebat” oleh khalayak (Hayuputri, 2018). Kehidupan di dunia maya yang penuh dengan gemerlap kemewahan, seringkali membuat kita terbawa suasana, dan tanpa sadar kita jadi sering membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, misalkan dengan kehidupan teman kita atau bahkan para artis yang penuh kemewahan. Seringkali kita menjadi merasa minder (rendah diri), tidak beruntung, tidak bahagia, dan tidak memiliki materi layaknya mereka yang selalu menampilkan kemewahan. Hingga muncul suatu slogan yang terkesan meremehkan diri kita sendiri, yang berbunyi “apalah aku ini yang hanya remah-remah rengginang”.

Salah satu contoh negatif dari pengaruh gemerlap kehidupan di dunia maya adalah Lissette Calveiro yang merupakan selebgram (selebriti instagram), pada setiap unggahannya Lissette menampilkan foto-foto dengan penampilan dan lokasi yang mewah, serta gaya yang hebat. Namun ternyata, semua kemewahan yang diunggah tersebut merupakan hasil dari uang pinjaman. Demi menjaga pamornya di Instagram, Lissette hampir jatuh miskin karena harus membayar hutang-hutangnya.

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa terhindar dari pengaruh negatif gemerlap kehidupan di dunia maya? Cara yang paling mudah dan bisa dimulai dari diri kita sendiri adalah bersyukur. Bersyukur (gratitude) adalah kemampuan seseorang untuk melihat berbagai kebaikan yang datang kepadanya. Pribadi yang penuh rasa syukur (grateful personality) senantiasa dipenuhi rasa bahagia atas segala hal yang diterima dari pihak lain, bukan berangan-angan terus mengenai sesuatu yang belum diperolehnya (Rahayu, 2018). Bersyukur selalu melibatkan pihak lain yang memberikan sesuatu yang bernilai kepada seseorang. Pihak lain itu bisa orang lain, Tuhan, atau alam semesta, tetapi bukan diri kita sendiri. Jadi bersyukur adalah emosi positif yang sifatnya sosial, yaitu terjadi dalam konteks kebersamaan dengan pihak lain.

Manfaat Bersyukur (Gratitude)

Berikut ini merupakan manfaat dari bersyukur (Emmons & McCullough, 2004) yaitu:

1.    Manfaat Fisik:

a.    Kekebalan tubuh yang lebih kuat

b.    Lebih dapat menahan rasa sakit

c.    Tekanan darah lebih rendah

d.    Lebih semangat berolahraga dan merawat kesehatan diri

e.    Tidur lebih nyenyak dan lama, serta lebih segar saat bangun

 

2.    Manfaat Psikologis

a.    Lebih tinggi tingkat emosi positif

b.    Lebih siaga dan bersemangat

c.    Lebih bersukacita dan gembira

d.    Lebih optimis dan bahagia

3.    Manfaat Sosial

a.    Lebih suka menolong, murah hati, dan berbelas kasih

b.    Mudah memaafkan

c.    Ramah dan mudah bersosialisasi

d.    Tidak merasa kesepian dan terisolasi

Dampak Transformatif Bersyukur (Gratitude)

Bersyukur dapat melipatgandakan dan menyebarluaskan kebaikan. Suatu kebaikan jika disyukuri sepenuh hati akan memicu dilakukannya kebaikan berikutnya, baik oleh diri penerima maupun si pemberi. Melalui bersyukur, kebaikan tidak akan terhenti di satu tangan, melainkan akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya.

Bersyukur sebagai emosi positif yang sifatnya sosial, berpotensi melahirkan emosi positif lain. Kebaikan yang direspon dengan bersyukur, berpotensi menimbulkan emosi positif yang dihayati bersama-sama dengan orang lain. Emosi positif yang dibagikan bersama orang lain berupa cinta. Salah satu dampak positif dari cinta adalah terbentuknya ikatan emosional berupa ikatan kasih, ikatan persahabatan, atau ikatan persaudaraan.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kita seringkali terobsesi dengan gemerlap kehidupan di dunia maya, sehingga terlalu keras untuk terlihat sukses di mata orang lain, sibuk menilai seberapa produktif dan berhasil di mata orang lain, dan terkadang hidup kita penuh dengan fantasi. Sehingga tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, kehidupan yang kita miliki pun tidak sempat dinikmati dan disyukuri.

Padahal jika kita mau menyadarinya, Tuhan sudah menganugerahkan kepada kita kesehatan jasmani dan rohani, keluarga dan sahabat yang baik serta menyayangi kita apa adanya, kehidupan yang layak, dan banyak hal baik lain yang mungkin tidak kita sadari. Mulai sekarang, bersyukurlah. Kehidupan kita ini indah, tidak perlu membandingkannya dengan kehidupan orang lain. Karena setiap orang punya kisah kebahagiaan, perjuangan, dan air matanya masing-masing.

Referensi:

 

Emmons, R. A. & McCullough, M. E. (2004). The psychology of gratitude. New York: Oxford University Press USA.

 

Hayuputri, Frida M. (Mei, 2018). Fenomena impression management pada media sosial. Buletin KPIN. Diunduh dari: http://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/276-fenomena-impression-management-pada-media-sosial

 

Rahayu, A. (2018). Diktat psikologi umum II. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh