ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 16 Agustus 2019

Bagaimana Self-Compassion dapat Menurunkan Depresi Pada Remaja di Indonesia?

Oleh

Putu Yudi Suwetha Pratama dan Putu Nugrahaeni Widiasavitri

Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang umum dialami oleh seluruh orang di dunia (World Health Organization, 2015). Di Indonesia, terdapat kurang lebih 40 juta remaja termasuk 3,4 juta remaja dengan usia 10-19 tahun yang mengalami depresi sebagai gangguan mental paling umum di tahun 2013 (Badan Pusat Statistik 2014). Menurut penelitian crosssectional pada remaja SMA di Malang, Jawa Timur, menunjukkan bahwa sekitar 32,5% remaja mengalami depresi ringan, 28,2% mengalami depresi moderat dan sekitar 11,1% mengalami depresi berat (Asmika dkk, 2008). Namun, saat ini belum ada data statistik dan infografis secara nasional mengenai perkiraan jumlah remaja Indonesia yang mengalami depresi dan hal ini wajib menjadi perhatian pemerintah Indonesia.

Self-Compassion dalam psikologi positif telah dieksplorasi sebagai salah satu cara untuk menurunkan depresi pada remaja (Muris et al, 2016). Self-Compassion merupakan perilaku mengasihi diri sendiri. Hal ini terbukti pada beberapa penelitian yang dilakukan oleh Germer dan Neff (2013) mengungkapkan bahwa mengasihi diri sendiri atau self-compassion bisa mengurangi psikopatologi. Self-Compassion adalah suatu praktik di mana kita belajar untuk menjadi teman yang baik bagi diri kita sendiri ketika kita membutuhkannya. (Neff & Germer, 2018)

Self-compassion adalah prediktor yang kuat dari gejala rendahnya well being dan depresi pada individu. Self-compassion pada dasarnya akan meningkatkan keadaan pikiran positif. Sejumlah penelitian telah menemukan hubungan antara self-compassion dan quality of psychological well being, seperti kebahagiaan, optimisme, kebijaksanaan, keingintahuan, dan eksplorasi, serta inisiatif pribadi (Özyeşil et al, 2013). Manfaat dari self-compassion adalah munculnya kemampuan yang lebih besar untuk mengatasi emosi negatif. Dengan self-compassion individu cenderung merenungkan pikiran atau emosi negatif dan meredakan emosi mereka tersebut, hal ini membantu dalam menjelaskan mengapa self-compassion adalah prediktor negatif  dari depresi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa self-compassion adalah faktor resilience yang kuat ketika dihadapkan dengan perasaan tidak mampu atau self-criticism.

Self criticism adalah aspek perfeksionisme yang menimbulkan perasaan rendah diri, kegagalan, dan rasa bersalah. Hal ini disebabkan karena evaluasi diri yang keras, konstan dan takut akan kritikan dan penerimaan dari orang lain, yang mana ini merupakan simptom depresi yang biasa dialami oleh remaja (Neff & Gremer, 2018). Setelah dianggap berkaitan dengan depresi pada remaja, self-criticism menjadi faktor risiko terjadinya psikopatologi, termasuk pula dikaitkan dengan ide untuk bunuh diri dan upaya bunuh diri.

Self-compassion memiliki 3 elemen utama yang digunakan untuk mengaplikasikan self-compassion, pada kehidupan sehari hari. Elemen yang pertama adalah mindfulness. Mindfulness adalah cara pertama untuk memahami bahwa kita sedang mengalami penderitaan dan memungkinkan kita untuk menerima dan berpikir secara bijaksana dan memandang dengan perspektif objektif pada kehidupan kita. (Germer and Neff, 2018). Teknik mindfulness yang bisa dilakukan ketika depresi adalah mindfulness walking. Mindfulness walking adalah salah satu teknik yang paling mudah dilakukan, hanya dengan berjalan selama 10-30 menit. Namun teknik ini dilakukan dengan bernafas perlahan dan merasakan setiap sensasi yang muncul ketika berjalan seperti mengangkat kaki, melangkah dan nenempatkan kaki. Dengan teknik ini hasil yang diapat adalah individu akan merasa relaks serta menurunnya tingkat depresi.

Elemen kedua adalah common humanity. Dalam common humanity, menyadari bahwa wajar sebagai manusia pernah mengalami kegagalan dalam hidup. Teknik common humanity yang bisa dilakukan sehari hari adalah, mengingat bahwa semua orang mungkin mengalami hal yang sama. Ketika individu mengalami depresi, persepsi yang cenderung muncul adalah ”saya paling menderita”. Dengan common humanity, individu mampu membuka pikirannya dan mulai berpikir secara luas tentang masalah yang dialami. Common humanity berkaitan dengan acceptance, yaitu penerimaan bahwa semua orang pernah atau sedang mengalami hal yang sama, dalam konteks mengalami depresi.

Elemen ketiga adalah self-kindness. Self-kindness adalah tindakan mengurangi kecenderungan individu untuk mengritik diri sendiri hingga melawan diri sendiri sehingga timbul kepedulian individu terhadap dirinya sendiri. Salah satu teknik self kindness yang bisa dilakukan ketika remaja mengalami depresi adalah, melakukan kegiatan yang disukai seperti mendengarkan musik, pergi liburan bersama teman atau keluarga, menonton film, menulis, berolahraga mungkin adalah beberapa kegiatan yang umum disukai banyak orang. Melakukan kegiatan yang disukai sangat membantu dalam mengatasi depresi. Karena ketika mengalami depresi, individu akan membatasi melakukan aktivitas termasuk melakukan kegiatan yang disukai, dan jika individu mampu melakukan hal yang disukai, maka individu sudah melakukan langkah awal self kindness.

Referensi :

Asmika, H., & Handayani, N. (2008). Prevalensi depresi dan gambaran stressor psikososial pada remaja sekolah menengah umum di wilayah kotamadya Malang. Jurnal Kedokteran Brawijaya, XXIV, (1).

Germer, C. K., & Neff, K. D. (2013). Self-Compassion in Clinical Practice. Journal of Clinical Psychology,69(8), 856-867. doi:10.1002/jclp.22021

Germer, C. K. 2009. The Mindful Path To Self-Compassion :  Freeing Yourself  From Destructive Thoughts And Emotions. London: The Guilford Press.

Körner, A., Coroiu, A., Copeland, L., Gomez-Garibello, C., Albani, C., Zenger, M., & Brähler, E. (2015, October 02). The Role of Self-Compassion in Buffering Symptoms of Depression in the General Population. Retrieved June 10, 2019, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4591980/

López, A., Sanderman, R., & Schroevers, M. J. (2018). A Close Examination of the Relationship Between Self-Compassion and Depressive Symptoms. Retrieved June 10, 2019, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6153895/

Muris, P., Meesters, C., Pierik, A., & de Kock, B. D. (2016). Good for the self: Self-compassion and other self-related constructs in relation to symptoms of anxiety and depression in non-clinical youths. Journal of Child and Family Studies, 25(2), 607–617. doi:10.1007/s10826-015-0235-2

Neff, K., & Germer, C. (2018). The mindful self-compassion workbook : A proven way to accept yourself, build inner strength, and thrive. London: The Guilford Press.

Özyeşil, Zümra & Akbag, Müge. (2013). Self-Compassion as a Protective Factor for Depression, Anxiety and Stress: A Research on Turkish Sample. 36-43.

Warren, R., Smeets, E., & Neff, K. (2016, December). Self-Criticism and Self-Compassion. Current Psychiatry15(12), 19-32.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh