ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 16 Agustus 2019

Bapak Ibu Guru, Siswanya Sudah Bahagia?

Oleh

Agus Mahendra Saputra dan Luh Kadek Pande Ary Susilawati

Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

 

Tugas guru bukan menjejalkan pelajaran, guru harus menghidupkan pengetahuan. Kebenaran guru bukan hal yang absolut karena murid bukan kerbau yang harus serba menurut. Kelas bukan untuk menyucilkan diktat penuh angka, pengetahuan bukan ayat-ayat penuh dogma. Ilmu jangan hanya objek hapalan, ilmu untuk memahami dan menuntaskan persoalan. Sekolah perlu terus membuka diri pada perubahan, guru jangan segan beradaptasi dengan kebaharuan. Agar belajar menjadi proses yang menyenangkan, agar kreatifitas terus ditumbuhkembangkan. Inilah pengajaran yang memanusiakan manusia, bukan mengerdilkan siswa

-Catatan Najwa

Sekolah Kini Menjadi Dilema Paradoksal

Seutas kalimat sarat akan makna tersebut membawa isyarat bahwa pendidikan bukan hanya untuk menjejali siswa dengan logaritma. Sekolah bukan hanya dikunjungi untuk mencetak nilai dan beradu prestasi. Tetapi esensi sekolah sepatutnya sebagai kebutuhan dalam meningkatkan kesejahteraan hidup, potensi, mengembangkan spiritualitas, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan. Kini tak sedikit siswa yang menganggap sekolah merupakan malapetaka. Hal ini tentu bukanlah sebuah hiperbola, sebab sekolah saat ini justru menjadi sumber tekanan yang besar bagi siswa. Fenomena ini sejatinya tidak terlepas dari sistem pendidikan dan kondisi sekolah tempat siswa bernaung. Padahal, suasana sekolah yang menyenangkan (school climate) dapat menumbuhkan semangat belajar bagi peserta didik dan berimbas pada prestasi akademik yang gemilang sebagaimana angan dari penyelenggara pendidikan dan orangtua (Agoes, 2017).

Fenomena yang terjadi di sekolah menunjukkan bahwa terdapat beberapa bentuk diskriminasi yang dialami siswa. Hal ini mencakup: 1) diskriminasi terhadap status orang tua, 2) diskriminasi terhadap disabilitas, 3) diskriminasi pada siswa yang mendapat nilai kecil, 4) diskriminasi gender, dan 5) diskirminasi terhadap agama (Meilisa, 2018). Pengalaman siswa yang kurang menyenangkan di sekolah rupanya menjadi sumber stres yang secara signifikan mengurangi kualitas diri dan motivasi berprestasi (Husnul, 2015). Hal ini senada dengan penelitian Anderman (dalam Agoes 2007) bahwa lingkungan sekolah memberikan pengaruh terhadap kondisi psikologis siswa. Kondisi siswa yang tertekan di sekolah tentu menjadi pemicu siswa enggan untuk beradaptasi dengan dinamika sekolah dan cenderung menjadi pembangkang. Fenomena ini menunjukkan adanya disparitas antara harapan penyelenggara pendidikan dengan kenyataan yang terjadi di sekolah.

 

 

Seperti apa Kebahagiaan Bagi Siswa?

Pentingnya kenyamanan di sekolah termanifestasi sebagai istilah school well being. Prinsip school well being sejatinya mengacu pada proses penciptaan suasana psikososial yang menyenangkan bagi semua pihak yang terlibat dalam kegiatan pendidikan suatu sekolah. Bagi siswa, school well being merupakan suatu kondisi sejahtera, menyenangkan, dan membahagiakan ketika berada di sekolah (Agoes, 2017). Konsep school well-being dibangun berdasarkan triparit model, yakni bagaimana tingkat kepuasaan siswa di sekolah (school satisfaction) berperan terhadap perasaan siswa (positive effect maupun negative effect) (Puspita, 2018). Mencapai school well being merupakan hal yang penting mengingat kenyamanan siswa di lingkungan sekolah mampu mendorong prestasi gemilang bagi peserta didik. Hal ini senada dengan hasil penelitian Muliani (dalam Salma & Dewi, 2017) bahwa school well being berhubungan erat dengan keterlibatan belajar siswa, sehingga school well being diperlukan siswa untuk perkembangan dan eksistensi siswa.

Menurut Husnul (2015), kebahagiaan diperlukan siswa untuk perkembangan dan eksistensinya yang mengacu pada 4 spektrum, yakni  having, loving, being, dan health yang mencakup:

1.    Kondisi sekolah (having) mencakup lingkungan fisik di sekitar sekolah dan lingkungan di dalam sekolah, lingkungan belajar, dan pelayanan siswa. Aspek lingkungan dalam sekolah meliputi lingkungan sekolah yang aman, kenyamanan, kebisingan, ventilasi, suhu udara, dan sebagainya. Aspek lingkungan belajar meliputi kurikulum, ukuran kelompok, jadwal dari pelajaran dan hukuman. Adapun aspek pelayanan siswa mengacu pada makan siang di sekolah, pelayanan kesehatan, wali kelas, serta bimbingan konseling (BK).

2.    Hubungan sosial (loving) yang merujuk pada lingkungan pembelajaran sosial, hubungan antara guru dan murid, hubungan antar teman sekelas, dinamika kelompok, bullying, kerjasama antar sekolah dan rumah, pengambilan keputusan di sekolah, aspek loving ini juga merujuk pada keseluruhan atmosfir di sekolah.

3.    Pemenuhan diri (being) yang dapat dilihat dari bagaimana cara sekolah memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pemenuhan diri.

4.    Status kesehatan (health) yang meliputi aspek fisik dan mental berupa sintom psikosomatis, penyakit kronis, penyakit ringan (seperti flu), dan penghayatan akan keadaan diri.

Renungan untuk Guru, Sudahkah Siswa Bahagia?

Sebagai pemegang kontrol di sekolah, sudah semestinya guru dapat lebih menyoroti school well being. Ketika sekolah hanya berambisi untuk menjejali segala ayat penuh dogma, tidak peka terhadap persoalan di lingkungan siswa, dan tidak menyediakan kesempatan yang memanusiakan siswa. Maka keberadaan sekolah hanya akan mengerdilkan keterlibatan siswa dalam akademik. Siswa akan semakin terlatih menjadi pembangkang yang kian membuat prestasi akademik terdegradasi. Bagi siswa, sekolah bukan lagi menjadi sebuah kebutuhan tetapi berbalik menjadi ancaman yang terus menikam. Kondisi pendidikan di Indonesia yang kerap menimbulkan paceklik selayaknya menjadi refleksi untuk berbenah diri. Ketika siswa tidak bahagia, bagaimana mungkin pendidikan bisa memanusiakan manusia?

Referensi:

Agoes, D. (2017). Peran school well being dan keterlibatan akademik dengan prestasi belajar pada siswa Sekolah Dasar. Psikogenesis, 5(1), 1 – 9.

Husnul, K. (2015). Gambaran school well being pada peserta didik program kelas akselerasi di SMA Negeri 8 Yogjakarta. Psikopedagogia, 4(1), 20 – 29.

Meilisa, PH. (2018). Relation of student-teacher trust with school well-being to high school students. Psikodimensia, 17(2), 162 – 167.

Puspita,  AKW., & Rezki, AS. (2018). Peer Relation sebagai Prediktor Utama School Well-Being Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Psikologi, 17(1), 56 - 67

Salma, A., & Dewi, R. (2017). The Correlation Between School Well-Being and Learning Motivation in Grade XI of MA X. Spesia, 3(2), 542 - 547

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh