ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 16 Agustus 2019

Tak Dapat Jauh dari Smartphone, Waspada Nomophobia

Oleh

Wenny Acnashinta Ciptadi dan Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Kecanggihan teknologi yang ada dalam smartphone, membuat banyak aplikasi yang memudahkan semua orang mengakses media sosial seperti google, youtube, intagram, whatsapp, facebook, twitter, game online, online shopping, dan sebagainya. Hal ini dapat memicu seseorang mengalami ketergantungan dalam penggunaan smartphone atau disebut nomophobia. Secara ilmiah, penelitian mengenai nomophobia ini menarik untuk diteliti karena kecenderungan nomophobia masih tergolong baru bahkan belum terdaftar di dalam DSM-V, meskipun pada tahun 2014 beberapa peneliti telah mencoba mendaftarkannya di DSM-V. Selain itu, kecenderungan nomophobia yang dialami oleh seseorang juga menimbulkan beberapa dampak negatif, seperti kurang memiliki kesadaran dan perhatian dalam penggunaan smartphone, yang dapat menyebabkan jarak antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Dampak lain dari kecenderungan nomophobia akan dirasakan oleh individu itu sendiri, seperti canggung ketika berbincang dengan orang lain yang akhirnya berdampak pada rasa apatis dan tidak mau tahu, kurangnya konsentrasi, dan merusak komunikasi secara langsung dengan orang lain (Yuwanto, 2010). Penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi kepada para pelajar tentang nomophobia menyatakan bahwa sekitar 72% dari hampir 1.000 pelajar sudah memiliki smartphone sendiri. Para pelajar tersebut biasanya menghabiskan waktu untuk bermain smartphone rata-rata 5-6 jam sehari. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 25% pelajar menunjukkan gejala nomophobia. (https://itjen.kemdikbud.go.id/nomophobia). Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa remaja merupakan usia rentan mengalami ketergantungan pada smartphone atau disebut kecenderungan nomophobia. Meskipun demikian, penggunaan smartphone yang kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, membuat kecenderungan nomophobia bisa saja terjadi pada siapapun yaitu pada semua pengguna smartphone.

Pengertian Nomophobia

Kecenderungan nomophobia merupakan rasa takut berada diluar kontak smartphone yang mengacu pada ketidaknyamanan, kegelisahan, gugup atau kesedihan yang disebabkan tidak terhubung dengan smartphone (Yildirim & Correia, 2015). Hal ini membuat seseorang merasa gelisah bila smartphonenya tertinggal dan tidak nyaman bila tidak berada dekat dengan smartphonenya. Lebih lanjut,  kecenderungan nomophobia dianggap sebagai fobia zaman modern yang diperkenalkan ke kehidupan sebagai produk sampingan dari interaksi antara manusia dan teknologi informasi, komunikasi seluler, terutama smartphone. Dua istilah lain yang diperkenalkan dan digunakan dalam sehari-hari untuk merujuk pada orang-orang dengan kecenderungan nomophobia yaitu nomophobe dan nomophobic. Nomophobe adalah kata benda dan mengacu pada seseorang yang mengalami nomophobia. Istilah nomophobic adalah kata sifat dan digunakan untuk menggambarkan karakteristik nomophobe atau perilaku terkait dengan nomophobia. (Yildirim & Correia, 2015)  

Definisi lainnya menurut King et al (2013) yaitu kecenderungan nomophobia sebagai gambaran dari ketidaknyamanan dan kecemasan yang disebabkan oleh tidak tersedianya smartphone, komputer atau semua komunikasi virtual lainnya yang biasanya digunakan individu. Kondisi kecemasan tersebut juga terlihat dari berbagai kasus, seperti tidak ada sinyal, kehabisan baterai, tidak ada jaringan internet, maupun kehilangan smartphone.

Berdasarkan uraian di atas, dapat di katakan bahwa nomophobia merupakan  perasaan takut atau cemas berada jauh dari smartphone yang mengacu pada rasa ketidaknyamanan, kegelisahan, gugup atau cemas karena tidak dapat terhubung dengan smartphone.

 Ciri-ciri Kecenderungan Nomophobia

 

Bragzzi dan Del Puente (2014) menjelaskan ciri-ciri individu yang mengidap kecenderungan nomophobia,  antara lain:

1.    Secara teratur dan menghabiskan banyak waktu mengunakan smartphone, mempunyai satu atau lebih smartphone dan selalu membawa charger.

2.    Merasa cemas dan gelisah ketika smartphone tidak tersedia dekat atau tidak pada tempatnya, merasa tidak nyaman ketika gangguan atau tidak ada jaringan serta baterai lemah, mencoba menghindari tempat yang mungkin melarang menggunakan smartphone (seperti bandara atau bioskop)

3.    Selalu melihat dan mengecek layar smartphone untuk mencari tahu pesan atau panggilan masuk.

4.    Tidak mematikan smartphone dan selalu sedia 24 jam, selain itu saat tidur smartphone di letakkan di kasur.

5.    Kurang nyaman berkomunikasi secara tatap muka dan lebih memilih berkomunikasi menggunakan media sosial.

6.    Bersedia mengeluarkan biaya yang besar agar selalu dapat menggunakan smartphone.

Melihat dari ciri-ciri kecenderungan nomophobia di atas, bisa saja banyak dari para pengguna smartphone saat ini mengalami satu-dua hal atau bahkan lebih dari ciri-ciri kecederungan nomophobia. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi membuat semua orang di seluruh dunia menggunakan smartphone untuk berbagai aktivitas hidupnya sehari-hari seperti, bisnis, media pertemanan, mencari lowongan pekerjaan maupun untuk urusan pendidikan. Hanya saja, para pengguna smartphone saat ini perlu belajar lebih bijaksana dalam menggunakan smartphone nya, sehingga tidak terjadi ketergantungan yang membuatnya dapat mengalami hambatan-hambatan tertentu dalam kehidupannya sehari-hari.

Referensi

Bragazzi, N, L., & Del Puente, G. (2014. A proposal for including Nomophobia in the new DSM-V. Psychological Research and Behavior Management, 155-160.

King, A. L, Velenca, A. M., Silva, A. C., Sancassiani, F., Machado, S., & Nardi, A. E. (2014) “Nomophobia: Impact of Cell Phone Use Interfering with Symptoms and Emotions of Individuals with Panic Disorder Compared with a Control Group. Clinical practice & Epidemology in Mental Health, 10, 28-35

Kemdikbud. (2019, Juni 10). Penelitian nomophobia. Diakses dari https://itjen.kemdikbud.go.id/nomophobia

Yildirim, C., & Correia, A. P. (2015). Exploring the dimensions of nomophobia: Development and validation of a self-reported questionnaire. Computers in Human Behavior, 49, 130-137

Yuwanto, L. (2010). Mobile phone Addict. Surabaya: Putra Media Nusantara

.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh