ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 14 Juli 2019

 

Stop Membenci Diri Sendiri!

 

Oleh

Sandra Handayani Sutanto

Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan

 

Illustrasi

Dalam kehidupan sehari-hari G dikenal sebagai mahasiswa yang tekun, rajin dan berprestasi. Indeks Prestasi Kumulatif yang dihasilkan oleh G termasuk 3 yang terbaik di angkatannya, dengan IPK diatas 3,90. G juga aktif dalam berbagai kegiatan non akademis, seperti Unit Kegiatan Mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan.

 

Setiap harinya, G memiliki target yang harus dikerjakan dan biasanya target tersebut dapat dipenuhi, bahkan ketika mengharuskan G untuk bergadang dan kehilangan waktu tidurnya. G tidak pernah berhenti menuntut dirinya untuk terus berkarya dan menghasilkan prestasi. Jarang sekali bagi G untuk pergi berlibur dan bersenang-senang karena terus memfokuskan dirinya dengan tugas perkuliahan dan kegiatan organisasi. Ketika hasil yang diharapkan tidak terpenuhi, G akan menjadi sangat sedih dan mulai menyalahkan dirinya sendiri, dengan mengatai dirinya sebagai bodoh dan tidak berguna.

 

Self Hatred                                                                                       

Sekilas tidak ada yang salah dari fenomena G di atas. Fenomena tersebut merupakan hal yang biasa ditemui dalam keseharian. Namun apakah fenomena tersebut sehat secara mental? Horney (dalam Feist, Feist, & Roberts, 2013) menjelaskan mengenai dinamika self hatred. Self hatred merupakan produk kesenjangan antara kemampuan yang dimiliki dengan usaha untuk mencapai hal yang ideal (idealized self image). Pada kasus G, mungkin saja kemampuan G termasuk rata-rata, namun G menciptakan idealized self image berupa mahasiswa yang tekun, rajin dan memiliki prestasi yang tinggi yang kontinyu, sehingga menimbulkan self hatred jika hal yang tidak diusahakan belum/tidak berhasil.

 

Salah satu bentuk self hatred adalah dengan melakukan relentless demand on the self. Secara harafiah relentless demands on the self diartikan sebagai tuntutan yang tidak ada habisnya terhadap diri sendiri. Dalam kasus G, target yang terus menerus untuk dicapai dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri walaupun sudah mencapai hal yang sudah ditetapkan adalah contohnya. Selain itu, bentuk self-hatred yang lain adalah dengan self destructive action and impulses yang melibatkan kondisi fisik dan psikis, disadari atau tidak disadari, termasuk segala tindakan yang nyata atau dalam imajinasi untuk merusak diri sendiri. Untuk kasus G, kebiasaan kurang tidur, tidak pergi liburan dan bersenang-senang (lelah secara psikis) termasuk sebagai upaya merusak diri sendiri.

 

Bentuk self hatred yang berikutnya adalah dengan merciless self-accusation, dengan bentuk mencaci diri sendiri secara konstan. Setiap kali G gagal memenuhi target yang ditetapkan, ia akan mencaci diri sendiri sebagai orang yang bodoh dan tidak berguna.

 

 

 

Self-Compassion

Berangkat dari gambaran mengenai self hatred, lalu apa yang bisa dilakukan oleh G dan kita semua agar tidak terjebak dalam self hatred? Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan self-compassion. Neff (2003) mendefinisikan self compassion sebagai rasa belas kasihan yang diperluas untuk diri sendiri ketika penderitaan terjadi atau ketika lingkungan eskternal menjadi sulit untuk dihadapi. Neff (2003b) menambahkan bahwa belas kasihan merupakan kemampuan individu untuk peka dengan penderitaan yang sedang dialami,  tidak menghindar, serta adanya keinginan untuk mengurangi penderitaan yang dirasakan.

 

Neff (2003) membagi Self compassion memiliki tiga buah dimensi. Dimensi yang pertama adalah self kindness, yaitu upaya untuk memperlakukan diri dengan kebaikan dan mengurangi penderitaan yang dialami. Dimensi yang kedua adalah common humanity, mencoba melihat pengalaman yang dialami sebagai bagian pengalaman umat manusia dan menyadari bahwa hidup ini tidaklah sempurna. Dimensi yang ketiga adalah mindfulness, merasakan sakit sebagaimana apa adanya, tidak menekan atau melarikan diri dari perasaan sakit. Mindfulness juga berarti tidak melebih-lebihkan perasaan atau kegagalan yang dialami.

 

Cara Melakukan Self-Compassion

Terkait dengan kasus G, ia bisa memulai mempraktikan dimensi pertama dengan memperlakukan diri dengan lebih baik, misalnya dengan berhenti saat lelah dan tidak terus memaksakan diri. G juga perlu belajar mengenai common humanity bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dan kegagalan dalam hidup, dan hal tersebut adalah wajar. Untuk mempraktikan dimensi ketiga, G belajar untuk tidak melarikan diri dari kegagalan yang dialami. Setelah mengalami kegagalan, rasa sakit, belajarlah untuk membuat keputusan-keputusan yang terbaik atau melakukan respon terbaik sesuai dengan kondisi yang dialami.

 

Penutup

Mengasihi dan berelasi dengan orang lain menjadi hal yang krusial dalam kehidupan. Namun sebelum memberikan belas kasihan kepada orang lain, bagaimana jika kita berbelas kasihan terhadap diri sendiri terlebih dahulu?

 

When we give ourselves compassion, we are opening our hearts in a way that can transform our lives.

-Kristin Neff

 

Referensi:

 

Feist, J., Feist, G.J., & Roberts, T. (2013). Theories of personality (8th ed.). New York: McGraw-Hill.

 

Neff, K.D. (2003). Self-compassion : An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2, 85-101. Doi : 10.1080/15298860390129863.

 

Neff, K.D. (2003b). The development and validation of a scale to measure self compassion. Self and Identity, 2, 223-250. Doi : 10.1080/15298860390209035.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh