ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 14 Juli 2019

 

Dampak Psikologis Bagi Remaja yang Hamil di luar Nikah

 

Oleh

Penti Patimatun

Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

 

Fenomena Remaja yang Hamil di luar Nikah

Masa remaja adalah masa terjadinya perubahan secara fisik maupun psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 2003) dan menurut Monks (2009) segala aspek perkembangan pada masa remaja secara universal terjadi antara umur 12 hingga 21 tahun. Erickson (1950, 1968) mengemukakan bahwa individu memiliki 8 tahapan psikososial, pada tahapan ke lima yaitu identity vs identity confusion yang terjadi saat masa remaja. Menurut Erickon (1950, 1968) pada tahapan tersebut, remaja mulai menghadapi permasalahan dalam memutuskan siapa dirinya, apa tujuan hidup mereka, dan apa yang akan mereka lakukan dalam hidupnya. Remaja melakukan banyak hal pada saat menghadapi masa pencarian jati dirinya. Namun, terkadang mereka tidak tahu apakah tindakan yang mereka lakukan benar atau malah menyimpang.

 

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (Bungin, 2001) menjelaskan, penyimpangan adalah setiap perilaku yang dikatakan sebagai sebuah pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat. Masyarakat Indonesia memiliki anggapan bahwa hamil di luar nikah merupakan salah satu wujud dari penyimpangan karena didukung oleh norma-norma maupun adat yang berlaku di masyarakat.

 

Anggapan hamil di luar nikah sangat tabu di kalangan masyarakat (Yanti, 2013) karena hamil di luar nikah merupakan hal yang bertentangan dengan adat dan norma yang berlaku di masyarakat. Salah satu penelitian berjudul “ Pengungkapan Rahasia Kehamilan Di Luar Nikah Oleh Remaja Putri Kepada Pihak Lain”  yang dilakukan oleh Sari (2013) berpendapat bahwa norma-norma ketimuran masih tetap beranggapan bahwa kehamilan di luar nikah merupakan aib bagi keluarga ataupun masyarakat, apapun awal penyebab dari kehamilan itu. Remaja yang hamil di luar nikah dicap sebagai keburukan, yang sekiranya terjadi mesti disembunyikan. Kehamilan pada remaja menjadi salah satu masalah kesehatan yang penting di seluruh dunia, diperkirakan 11% kelahiran di seluruh dunia berasal dari remaja yang berusia 15-19 tahun (Kirbas, A., dkk. 2016). Menurut Novianti (2017) 41 % atau hampir setengah dari 208 juta kehamilan di seluruh dunia merupakan kehamilan tidak terencana dan berdasarkan data dari WHO (World Health Organization) 11 persennya berasal dari remaja putri yang berarti dalam kurun waktu satu tahun terjadi 16 juta kehamilan pada remaja.

 

Tingginya angka kehamilan pada remaja di Indonesia sejalan dengan data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010 yang menunjukkan jika kehamilan remaja di Indonesia karena diperkosa sebanyak 3,2%, karena sama-sama mau sebanyak 12,9% dan tidak terduga sebanyak 45%. Free sex sendiri mencapai 22,6%. Berdasarkan persentase tersebut bila dibandingkan dengan data pada tahun 2006, kehamilan remaja di luar nikah meningkat sebanyak 11%.

Dampak Psikologis Remaja Hamil di Luar Nikah

Pada remaja yang hamil di luar nikah yaitu mereka rentan mengalami stres dan depresi karena timbulnya rasa malu, dikucilkan oleh lingkungan masyarakat maupun lingkungan pergaulan (Putri, 2019). Kehamilan pada remaja putri juga dapat menghambat jenjang pendidikan serta peraihan cita-cita mereka (Putri, 2019).  Menurut Sari (2013) perasaan bersalah yang dirasakan oleh remaja yang hamil di luar nikah membuat mereka tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya kepada orang lain. Oleh karena itu remaja putri perlu melakukan private disclosure. Pengertian private disclosure menurut Petronio dalam West dan Turner (2004), adalah suatu proses dalam mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia kepada orang lain. Private disclosure membutuhkan adanya acceptance (penerimaan) dan support (dukungan).

 

Hasil penelitian longitudinal di New Zealand yang dilakukan oleh Fergusson, dkk. (2006) mengatakan bahwa kehamilan pada remaja dapat dihubungkan dengan meningkatnya risiko pada masalah kesehatan mental. Empat puluh satu persen wanita pernah hamil setidaknya satu kali sebelum usia 25, dengan 14,6% dari mereka melakukan aborsi. Mereka yang melakukan aborsi telah meningkatkan masalah kesehatan mental termasuk depresi, kecemasan, perilaku bunuh diri dan gangguan penggunaan narkoba.

 

Faktor Penyebab Remaja yang Hamil DI Luar Nikah

Data analisa statistik dari penelitian Fergusson, dkk. (2006) menunjukkan bahwa depresi merupakan masalah utama yang muncul apabila remaja yang hamil melakukan tindakan aborsi. Persentase depresi paling besar dialami oleh para remaja yang hamil lalu melakukan aborsi dengan rentang usia 15-18 tahun sebesar 78,6%. Dengan rentang usia yang sama, remaja yang hamil namun tidak melakukan aborsi mengalami masalah depresi sebesar 35,7%. Pada remaja dengan rentang usia 18-21 tahun, masalah depresi muncul ketika sudah melakukan aborsi sebesar 45,1% dan masalah depresi pada remaja yang hamil namun tidak melakukan aborsi muncul sebesar 34,5%.  Dari data tersebut menunjukkan, rentang usia pada kehamilan remaja di luar nikah berpengaruh pada seberapa matang pengambilan keputusan mereka untuk melakukan aborsi. Faktor lain yang berpengaruh pada remaja yang mengambil keputusan untuk melakukan aborsi yaitu tingkat pendidikan yang rendah, keadaan ekonomi keluarga, kurangnya kedekatan hubungan antar anak dengan orang tua, pengalaman traumatik maupun kekerasan yang dialami saat masa kanak-kanak.

 

Faktor lain kehamilan di luar nikah pada remaja dapat terjadi yaitu karena kurangnya edukasi seks dan mendapat informasi yang salah tentang kesehatan seksual dan reproduksi (Lestari, 2019). Saat ini, kontroversi utama dalam pendidikan seks yaitu apakah sekolah harus memberikan abstinence-only program (program yang mendukung untuk tidak berhubungan seks sama sekali sampai waktunya) atau sekolah lebih menekankan pada pengetahuan kontrasepsi (Erkut, dkk. 2013; Kraft, dkk. 2012).

 

 

Menurut Novianti (2017) di Indonesia masih banyak orang tua yang mempunyai pola pikir ‘kolot’ dan tidak senang ketika anaknya diberi edukasi lebih dalam soal seks. Mereka salah menilai dan merasa anaknya justru didorong untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Padahal, hal ini jelas keliru. Selain itu, edukasi reproduksi dilakukan sebagai langkah awal untuk mencegah terjadinya kehamilan di luar nikah.

 

Permasalahan-Permasalahan Remaja yang Hamil Di Luar Nikah
Secara psikologis, menurut Putri (2019) remaja yang hamil di luar nikah belum siap untuk menjadi ibu. Kehamilan usia dini dapat memengaruhi perubahan kepribadian mereka. Jika nantinya dilanjutkan dengan pernikahan, dengan keadaan remaja yang masih memiliki emosi yang labil memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan terhadap anak, perselingkuhan, maupun perceraian.

Kehamilan pada remaja putri memiliki risiko yang lebih tinggi daripada kehamilan pada wanita dewasa (Kirbas, A., dkk, 2016). Kehamilan pada remaja menimbulkan risiko kesehatan bagi kedua pihak, baik ibunya maupun janin (Bartlett, dkk. 2014; Kappler & Farb, 2014). Menurut Putri (2019) remaja yang hamil di bawah umur 20 tahun rentan mengalami gangguan kehamilan, gangguan persalinan, dan adanya permasalahan sosial ekonomi.

 

Kehamilan remaja bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan sang ibu dan menyebabkan terjadinya anemia, kekurangan gizi, dan Kehamilan remaja dapat mengganggu tumbuh kembang sang ibu dan menyebabkan terjadinya anemia, kekurangan gizi, dan rendahnya daya imun tubuh (Putri, 2019). Lebih lanjut, Putri (2019) melanjutkan bahwa apabila kehamilan tidak direncanakan, ada kemungkinan remaja yang hamil tidak melakukan vaksinasi serta akses untuk mendapat layanan kesehatan pun terbatas. Hal ini berdampak pada bayi yang lahir dari ibu remaja, mereka cenderung memiliki gangguan kesehatan seperti berat badan bayi lahir rendah (BBLR)––faktor utama dalam kematian bayi––serta kelahiran prematur, masalah neurologis, maupun hambatan tumbuh kembang bayi (Khahsan, dkk. 2010; Putri, 2019).

 

Remaja yang hamil terutama pada usia di bawah 17 tahun, meningkatkan risiko permasalahan medis seperti pendarahan pada saat melahirkan, begitu juga dengan proses aborsi yang tidak terjamin keselamatannya. Tidak hanya keselamatan hidup remaja yang terancam, kehamilan pada remaja juga meningkatkan risiko kematian bayi saat hari ataupun bayi lahir dengan sekarat (Putri, 2019). Kehamilan pada remaja juga bisa memicu permasalahan sosial ekonomi. Keluarga yang memiliki status ekonomi kurang mampu dapat berdampak pada pemenuhan kebutuhan selama kehamilan maupun kelahiran, dengan begitu remaja yang hamil di luar nikah cenderung memiliki ketergantungan ekonomi terhadap pasangan yang dapat berujung pada kekerasan rumah tangga (Putri, 2019).

 

Berdasarkan pemaran di atas, hal tersebut menunjukkan bahwa kehamilan remaja di luar nikah berdampak negatif baik dari sisi kesehatan mental maupun gangguan lainnya yang dapat dirasa saat kehamilan maupun setelah kehamilan. Oleh karena itu, beberapa hal perlu ditingkatkan dalam rangka mengurangi angka kehamilan pada remaja di luar nikah, seperti kedekatan antara orang tua dengan anak karena pada masa ini remaja melakukan eksplorasi mengenai berbagai hal, dengan begitu dukungan dari orang dewasa sangat penting sebagai panduan dan pelindung bagi mereka.

 

Hal lain yang bepengaruh pada fenomena kehamilan remaja di luar nikah yaitu tingkat keimanan dalam diri yang rendah maupun minimnya pendidikan agama yang didapat oleh remaja dalam keluarga lalu keakuratan informasi mengenai seks yang di dapat oleh remaja sangatlah penting (Santrock, 2015). Selain itu, remaja harus dapat memilah teman sepergaulan yang sehat di mana pun ia berada.

 

Referensi:

Fergusson, D. M., dkk. (2006). Abortion in young women and subsequent mental health. Journal of Child Psychology and Psychiatry47(1), 16-24.

 

Kirbas, A., Gulerman, dkk. (2016). Pregnancy in adolescence: Is it an obstetrical risk?. Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology29 (4), 367-371.

 

Novianti, A. (2019, April 9). 11 Persen remaja di seluruh dunia hamil di luar nikah setiap tahunnya. Kumparan. Diunduh dari https://kumparan.com/@kumparanstyle/11-persen-remaja-di-seluruh-dunia-hamil-di-luar-nikah-setiap-tahunnya

 

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. (2019, April 7). Macam - macam perilaku seksual. PKBI DIY. Diakses dari https://pkbi-diy.info/macam-macam-perilaku-seksual/

 

Putri, S. (2019, April 18). Dampak kehamilan remaja. Skalainfo. Diunduh dari https://skata.info/article/detail/90/dampak-kehamilan-remaja

 

Repository Universitas Sumatera Utara. ( 2019, April 9). Pengertian remaja. Repository USU. Diunduh dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/38038/Chapter%20II.pdf;jsessionid=3E51722304C5C6D20A099A10E2219A18?sequence=4

 

Sari, R. P. (2013). Pengungkapan rahasia kehamilan di luar nikah oleh remaja putri kepada pihak lain. (Disertasi Dipublikasikan). Universitas Airlangga, Surabaya. Diunduh  dari http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/comm767c8dd289full.pdf

 

Santrock, J. W., (2015). Life-span development. (15th Ed.). Penn Plaza, NY: McGraw-Hill Education

 

Sarnon, N., Mohamad,dkk. (2012). Hamil luar nikah: Memahami remaja sebagai asas intervensi keluarga. E-BANGI7(1), 121-130.

 

Sulaiman, M. R. (2019. April 18). Hamil di luar nikah jadi penyebab utama perkawinan anak. Suara. Diunduh dari https://www.suara.com/health/2019/02/13/104752/hamil-di-luar-nikah-jadi-penyebab-utama-perkawinan-anak