ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 14 Juli 2019

 

Menghindari Kegagalan Berwirausaha

 

Oleh

Shafira Qonita Khairina dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo

Program Studi Psikologi, Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya

 

Startup saat ini sangat diminati oleh masyarakat Indonesia terutama generasi Milenial disamping  berkembangnya teknologi yang semakin memadai, juga memudahkan peluang bisnis semakin besar. Indonesia berhasil menempati urutan ke 5 di dunia dalam jumlah startup, sebesar 2.070 berdasarkan data dari startup ranking hingga Februari 2019 (Azzura, 2019). 17 startup yang telah sukes merupakan yang dirintis oleh generasi Milenial yaitu Men’s Republic, Reblood, Crowde, Taralite, Puyo Desserts, PayAccess, Kitabisa.com, Ruang Guru, Burgreens, Sale Stock, Karta.id, Qlapa, WeCare.id, Fabelio, AugMI, e-Fishery, dan Modalku (Pasha, 2018).

 

Pelaku startup menginginkan keberhasilan berpihak pada mereka, namun perkembangan startup di Indonesia cukup pesat, meningkatnya perkembangan jumlah startup juga sebanding dengan angka kegagalan yang menimpa startup. Faktanya angka kegagalan startup di seluruh dunia bisa mencapai 90% (Perdani, Widyawan, dan Santoso, 2018) dengan rata-rata sekitar 50% startups akan mati dalam kurun waktu 5 tahun (Headd dalam Baum, Frese, dan Baron, 2007). Karuni dan Soerjoatmodjo (2018) menyoroti bahwa kegagalan dalam berwirausaha secara umum disebabkan karena pelaku wirausaha belum paham betul pentingnya perencanaan, sehingga hasil yang dicapai menjadi kurang optimal.

 

Meskipun startup di Indonesia terbilang cukup banyak, tidak sedikit pelaku startup yang masih memiliki perasaan minder harus terjun ke dunia bisnis tapi tidak memiliki latar belakang pendidikan dibidang bisnis. Seorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia bisnis tak menutup kemungkinan dapat sukses dalam berwirausaha. Tentunya ada berbagai cara yang dapat mengantisipasi kegagalan startup  seperti membuat bisnis yang unik, memperbanyak koneksi atau jaringan, membuat tujuan yang jelas, mengikuti kursus entrepreneur serta bisa juga dengan cara mengikuti pelatihan yang disediakan oleh inkubator bisnis atau locational hybrids. Startup akan diberi pengarahan dan pembimbingan di dalam inkubator bisnis.

 

Sikula (dalam Irawati, 2018) menjelaskan bahwa pelatihan merupakan proses pendidikan yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, sehingga dapat mempelajari pengetahuan dan ketrampilan teknis untuk tujuan tertentu. Alhempi, Raden et al (dalam Irawati, 2018) pada penelitiannya yang membahas tentang pengaruh pelatihan dan pembinaan terhadap pengembangan usaha kecil pada program kemitraan Bina Lingkungan di Telkom Pekanbaru membuktikan bahwa pelatihan (training) dan pembinaan (coaching) baik secara individu ataupun bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan usaha kecil.

 

Pelatihan salah satu cara yang efektif untuk mengasah dan menambah keterampilan seorang calon entrepreneur, tak hanya itu di dalam pelatihan juga dapat menambah wawasan karena terdapat sharing antar pelaku startup dan juga coaching. Salah satu peserta yang mengikuti program pelatihan kewirausahaan seperti ini adalah Esti Ginting, sebelum terjun menjadi seorang entrepreneur, Esti menjabat sebagai manajer di salah satu perusahaan ekspedisi. Esti memulai usahanya di bulan September 2017 dengan modal Rp. 50.000,-. Omset awalnya 4 juta kemudian naik menjadi 13 juta diakhir Desember 2017.

 

Menurut Esti, banyak manfaat yang didapatkan dari program inkubator bisnis. Selain ilmu pengetahuan cara berbisnis yang didapatkannya, pendapatannya pun dirasa lebih besar ketimbang ketika dirinya masih bekerja di perusahaan ekspedisi. Tak hanya Esti, ada juga Dahlia peserta inkubator bisnis yang mulai berbisnis dengan modal Rp. 250,000,- kini omsetnya mencapai 50 hingga 60 juta per bulan  (Supriyatna, 2018).  

 

Jadi mana yang lebih penting, langsung terjun berbisnis atau berbisnis sambil terus memperkuat kemampuan lewat pelatihan dan inkubator bisnis? Startup yang telah mengikuti SBDC (Small Bussiness Development Centre) di Amerika telah membuktikan bahwa SBDC berpengaruh terhadap survival dan growth. sekitar 90,4% startup masih bertahan setelah 3 tahun dan 81,5% startup masih bertahan setelah 5 tahun (Baum, Frese, dan Baron, 2007). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa memulai itu penting, tetapi bertahan sendiri perlu proses – salah satunya lewat pelatihan dan inkubator bisnis agar bisnis bertahan dan tidak gagal.


Referensi
:

 

Azzura, S, N. (2019). Per Februari 2019, Jumlah Startup RI Capai 2.070 Perusahaan. Merdeka.com. Diakses pada tanggal 15 Maret 2019 melalui https://www.merdeka.com/uang/per-februari-2019-jumlah-startup-ri-capai-2070-perusahaan.html

 

Baum, J. R., Frese, M., & Baron, R. (2007). The psychology of entrepreneurship. New Jersey. Lawrence Erlbaum.

 

Irawati, R. (2018). Pengaruh Pelatihan dan Pembinaan Terhadap Pengembangan Usaha Kecil. Jurnal JIBEKA, 12(1). Diakses pada tanggal 15 Maret 2019 melalui https://lp2m.asia.ac.id/wp-content/uploads/2018/04/11.-JURNAL-RINA-VOL-12-NO-1-2018.pdf

 

Pasha, A, R. (2018). 17 Startup Sukses Milik Generasi Millenial Indonesia Ini Punya 5 Tips Yang Bisa Ditiru. Cermati.com. diakses pada tanggal 15 Maret 2019 melalui https://www.cermati.com/artikel/17-startup-sukses-milik-generasi-millenial-indonesia-ini-punya-5-tips-yang-bisa-ditiru

 

Perdani, M, D, K., Widyawan., & Santoso, P, I. (2018). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Starup Di Yogyakarta. Jurnal Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Diakses pada tanggal 15 Maret 2019 melalui https://fti.uajy.ac.id/sentika/publikasi/makalah/2018/41.pdf

 

Supriyatna, I. (2018). Cerita Mereka Yang Terbantu Program OK OCE. Kompas.com. Diakses pada tanggal 15 Maret 2019 melaui https://megapolitan.kompas.com/read/2018/01/13/06465861/cerita-mereka-yang-terbantu-program-ok-oce

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh