ISSN 2477-1686

 Vol.5 No. 1 Januari 2019 

 

Kembalikan Filosofi Menulis Artikel Ilmiah

 Oleh

Subhan El Hafiz

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

 

Makna dasar dari menulis adalah agar tulisan tersebut dibaca. Namun saat ini dunia tulis menulis, khususnya tulisan ilmiah, sudah kehilangan makna dari kegiatan menulis itu sendiri. Akibatnya penulis artikel ilmiah tidak lagi memiliki hasrat menulis yang sesuai. Setiap tindakan yang kehilangan dasar filosofisnya hanya akan menyebabkan tindakan tersebut hampa makna dan tidak lagi menarik dan berhasrat untuk dikerjakan. Nampaknya, banyak penulis dari tulisan ilmiah saat ini sudah melupakan filosofi menulis ini.

Saat ini banyak penulis tulisan ilmiah tidak lagi bertujuan agar tulisannya dibaca namun sudah bergeser menjadi: menulis untuk lulus, menulis untuk naik pangkat, menulis untuk mendapat insentif, menulis untuk sitasi, menulis untuk akreditasi, menulis untuk ranking, dsb. Para penulis tersebut tidak peduli apakah tulisannya dibaca orang atau tidak selama tujuan menulis yang lain (yang diluar esensi menulis) didapatkan. Akibatnya banyak “penulis robot” yang melakukan apapun agar tulisannya terbit tanpa peduli dengan etika menulis, seperti: plagiarisme, publikasi ganda, sitasi diri yang berlebihan, dll.

Hal ini bahkan diperparah dengan kebijakan institusi, baik kampus maupun dikti, yang hanya melihat tulisan dari sitasinya atau melihat tulisan dari kategori media publikasi, atau dari hal-hal lain yang tidak sesuai dengan filosofi menulis itu sendiri.  Wajar saja ketika ada penulis yang bersedia dicantumkan namanya sebagai penulis padahal bukan bidang ilmunya karena tulisan tersebut berdampak pada insentif. Begitu juga masalah munculnya sitasi yang banyak dari sebuah artikel padahal tulisan tersebut sama sekali tidak mendapatkan inspirasi dari artikel yang disitasi.

Berkaca pada Bloggers

Saat ini, mungkin, blogs dan para bloggers sajalah yang bisa dianggap sebagai komunitas yang peduli dengan filosofi menulis. Para bloggers tidak peduli dengan berbagai aturan tulisan, mereka hanya ingin menulis menyampaikan ide pikirannya dan berharap tulisannya akan dibaca. Orang-orang ini tidak peduli apakah tulisannya akan dikutip, juga tidak berharap tulisannya akan diakui untuk kelulusan atau kenaikan pangkat, mereka hanya ingin menulis dan menyampaikan ide.

Namun ternyata, banyak tulisan bloggers dibaca dan bahkan menginspirasi para pembaca. Bayangkan! Bukan disitasi tapi menginspirasi, mengubah hidup, mengubah perilaku seseorang. Hal ini sebenarnya jauh lebih bermakna bagi penulis daripada sekedar sitasi. Coba bandingkan dengan banyak tulisan ilmiah yang pembacanya terbatas dan tidak menginspirasi siapapun atau organisasi manapun.

Komunitas ilmiah harus malu pada kelompok ini yang tidak perlu banyak proses revisi dan reviu, tidak butuh proofread, semua mengalir saja dan kemudian dibaca, menginspirasi, dan mengubah hidup seseorang. Lalu adakah kelompok komunitas ilmiah merasa “sistem” ilmiah seperti: reviu, revisi, sitasi, menjadikan tulisan tersebut lebih baik? Pertanyaan penting buat komunitas ilmiah, apakah kebijakannya selama ini dapat membantu para ilmuan untuk menulis sesuatu yang menginspirasi? Baik menginspirasi individu, menginspirasi kebijakan, menginspirasi organisasi, atau menginspirasi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut?

Impact tulisan adalah inspirasi

Dampak dari tulisan adalah inspirasi, sementara tujuan dari menulis adalah dibaca. Dampak hanya bisa dicapai saat tujuan tercapai karena tidak ada tulisan yang menginspirasi namun tidak pernah dibaca. Oleh karena itu, tidak mungkin melihat dampak dari tulisan tanpa melihat bagaimana capaian dari tujuan tulisan tersebut. Bayangkan artikel ilmiah yang banyak dikutip, namun sedikit dibaca adakah anda dapat percaya bahwa tulisan tersebut berdampak besar?

Sebagai tulisan ilmiah, maka inspirasi yang muncul seharusnya dalam bentuk kebijakan atau penelitian lebih lanjut. Kebijakan tidak saja dari lembaga publik seperti pemerintah, tapi juga kebijakan dari lembaga industri, lembaga sosial, dsb. Inilah impact yang sebenarnya dari tulisan ilmiah bukan sekedar kemunculan nama penulis dan judul tulisannya dalam daftar pustaka penulis lain. Oleh karena itu, melihat impact dari tulisan menggunakan ukuran seberapa banyak artikel tersebut dikutip hanya mereduksi dampak sebenarnya dari tulisan.

Menulis untuk dibaca!

Oleh karena itu, tulisan lebih penting dari media publikasinya dan ide penulis lebih penting daripada tanggapan reviuwernya. Apapun media yang digunakan penulis untuk mempublikasikan tulisannya maka pastikan penulis mendapat haknya untuk diakui setara dengan tulisan dalam media lain yang dianggap lebih bergengsi. Silahkan mengapresiasi penulis dari tulisannya bukan dari media publikasinya dan jangan juga mengapresiasi penulis hanya karena medianya. Mengapresiasi penulis hanya karena media publikasinya justru “menghina” penulis dengan menganggap tulisannya tidak bermakna kalau tidak dipublikasikan di media yang dianggap bergengsi.

Begitu juga pengelola media publikasi, maka pastikan tanggapan reviewer harus sesuai dengan ide tulisannya. Reviuwer harus bisa memberi saran agar ide dalam tulisan tersampaikan secara baik dan bisa menginspirasi pembaca. Media yang sudah memiliki pembaca langganan tentunya punya modal jumlah pembaca (BUKAN bermodal index!) yang sangat dibutuhkan oleh penulis, oleh karena itu editor dan reviewer perlu memastikan bahwa ide dalam tulisan tersebut dapat menginspirasi pembaca regulernya.

Akhirnya, Kemenristek-Dikti sebagai pengelola kajian ilmiah dan pendidikan tinggi di Indonesia harus bisa memperbaiki kebijakannya terkait apresiasi terhadap penulis tulisan ilmiah. Apresiasi yang sesuai dengan filosofi dan makna menulis akan dapat melahirkan banyak penulis baru dengan semangat agar tulisannya dibaca dan menginspirasi. Sebaliknya, apresiasi yang tidak sesuai akan menyebabkan munculnya banyak “penulis robot”, yaitu penulis tanpa jiwa menulis.(*)

 

 

Comments   

+2 #1 Desvian 2019-01-13 13:10
Keren tulisannya
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh