ISSN 2477-1686

                                                                                       Vol.4. No.21 November 2018

Pendidikan Karakter untuk Usia Dini*

Oleh

Suprapti S Markam

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa kecerdasan perlu dikembangkan sejak dini. Pandangan ini tidak salah, namun sering dilupakan bahwa yang sebaiknya ditanamkan pada usia dini adalah komponen afektif, mendidik anak agar ia berbudi dan berperilaku baik.

Anak pada usia ini sangat banyak menyerap mentah-mentah apa yang ditangkapnya dari lingkungan. Bila orang tua ingin menanamkan perilaku sopan, salah satu cara terbaik adalah memberi contoh (panutan/role model) (lihat modeling dalam Newman & Newman, 2017; Rahmawati, 2017; Selviana, 2017), seperti mengatakan “terima kasih” bila menerima hadiah dari orang lain, mengatakan “halo” atau “selamat pagi” bila bertemu seseorang. Atau cium tangan, bila bertemu dengan orang yang lebih tua (sesuai dengan kebiasaan dan norma yang berlaku). Biasanya orang tua (pengasuh, guru) mencontohkan perilaku itu agar anak langsung menirunya (Ariela, 2018).

Untuk menanamkan perilaku berani dan mandiri, orang tua dapat melibatkan anak-anak dalam kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan anak (seperti membersihkan tempat tidur, meja makan, mengurus adik dll.) agar anak melakukannya dengan senang hati, dan menjadikannya sebagai kebiasaan. Untuk menanamkan perilaku berbagi dan welas asih dengan sesama, orang tua dapat mengamati anak ketika bermain bersama teman atau saudaranya. Orang tua juga dapat selaraskan dengan keterampilan sosial seperti kapan anak harus berbagi mainan dengan anak lain, kapan ia harus mempertahankan miliknya (lihat Aspek Ketrampilan Sosial dari Gresham dalam Wasito dan Indrijati, 2017). Ini perlu observasi cermat dan contoh langsung.   

Perilaku lain seperti berlaku jujur, tekun, perilaku hemat, sederhana, dapat juga dicontohkan dengan keteladanan orang tua. Selain melalui keteladanan, anak di bawah usia 3 tahun dapat juga dibacakan dongeng yang menggambarkan tokoh-tokoh dengan perilaku terpuji, ini juga merupakan pendidikan karakter melalui tokoh-tokoh dalam cerita. Untuk usia di bawah 3 tahun, dapat dikatakan bahwa orang tua dapat sepenuhnya mengatur, menyediakan lingkungan positif bagi anak.

Pendidikan Karakter untuk Usia Anak hingga Remaja

Bila pada usia di bawah 3 tahun orangtua dapat mengontrol lingkungan, mengharapkan anak akan mematuhi dan meniru apa yang dicontohkan orang tua, maka makin besar seorang anak dan makin berkembang penalaran dan pemikirannya, orang tua tidak lagi dapat berharap anak akan selalu menuruti contoh orang tua. Mungkin anak bertanya mengapa ia harus sopan kepada orang yang tidak sopan, mengapa ia harus jujur padahal orang lain tidak, dsb. Sesuai dengan pendapat Piaget, anak semakin dapat berpikir logis, dan dapat melakukan perbandingan-perbandingan (Piaget dalam Papalia et al 2003). Meskipun pikiran anak masih konkrit, tapi makin lama ia makin dapat berpikir abstrak. Orang tua sebaiknya menjelaskan agar anak paham bahwa kebiasaan yang semula diajarkan dan diturutinya, mempunyai tujuan baik dan bermanfaat, agar perilaku dan kebiasaan yang telah terbentuk bertahan karena motivasi internal anak, bukan karena disuruh atau diharuskan oleh orang tua.

Komunikasi orang tua-anak menempatkan orang tua mampu mendengarkan dan menghargai pendapat anak. Lebih dari itu, orang tua yang juga mampu berperilaku terbuka, jujur dan asertif untuk menjelaskan sudut pandangnya, sangat diperlukan (Chandra, 2009; Markam & Rahmawati, 2018).

Melalui keteladanan orang tua, atau cerita-cerita dan contoh-contoh nyata perilaku lainnya yang dapat dikembangkan antara lain perilaku tekun, ingin tahu, cermat dan teliti, mengejar yang terbaik/kesempurnaan. Dalam kaitan dengan pelajaran di sekolah, sikap ingin tahu dan mengejar yang terbaik, berperilaku cermat dan teliti sangat perlu untuk persiapan karir/bekerja kelak.

Anak usia 3 tahun ke bawah dibacakan cerita atau dongeng oleh orang tua untuk mengembangkan perilaku positifnya. Semakin bertambah usia, maka semakin diperluas wawasan, misalnya dengan menganjurkan anak membaca sendiri kisah-kisah nyata tentang pahlawan, orang-orang sukses, dan seterusnya.

Keterlibatan dalam kegiatan sehari-hari pada usia di bawah 3 tahun dapat diperluas dengan keterlibatan dalam kegiatan sosial di sekolah, di masyarakat, atau dunia kerja. Ini penting untuk membangun kecintaan, komitmen dan keterlibatan yang tulus dalam segala sesuatu yang dikerjakannya kelak.

Telah dikemukakan di atas bahwa pada usia 3 tahun perkembangan moral, penilaian baik-buruknya suatu perilaku masih bersifat egosentris atau ditentukan oleh orang tua. Namun semakin anak dewasa, semakin pemikirannya terasah. Apa yang baik atau buruk ditentukan bersama, berdasarkan kesepakatan (Selviana, 2017), konvensi, peraturan dll. Jadi tidak lagi sekedar karena pendapat orang tua (Kohlberg dalam Papalia et al 2003). Di sini kemungkinan terjadi konflik dengan orang tua, yang harus dapat diselesaikan secara bijaksana.

Penelitian Zubaidi (2008) dengan mahasiswa di Jakarta menunjukkan bahwa perilaku moral, yang diharapkan oleh Kohlberg berkaitan dengan tingkat penalaran tingkat tinggi, ternyata lebih berkaitan dengan pola asuh orang tua dan religiositas mahasiswa. Diperlukan lebih banyak lagi penelitian tentang hal ini agar dapat menjelaskan bagaimana pengembangan perilaku moral sebaiknya dilakukan. Contoh perilaku dan sikap di atas sedikit banyak menggambarkan keutamaan: “kearifan dan pengetahuan”, “keteguhan hati/keberanian”, “perikemanusiaan”, “keadilan” (Peterson dan Seligman, 2004 dalam Markam, 2018).

Penutup

Semua keluarga ingin membesarkan anaknya menjadi anak yang baik, pandai, “berkarakter”, artinya agar anaknya mempunyai dorongan dari dalam untuk berperilaku baik. Apa yang dianggap baik oleh keluarga dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang lebih luas; kebaikan-kebaikan ini disampaikan kepada anak oleh orang tua melalui keteladanan dan pembelajaran.

Artikel ini hanya membahas sebagian kecil dari apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter dalam keluarga. Masih diperlukan banyak kajian Indonesia tentang keluarga, kekuatan karakter, interaksi antara masyarakat, keluarga dan anak. Faktor lainnya seperti nilai-nilai dan pendidikan moral menjadi penting agar pemahaman tentang kekuatan karakter dan kebajikan universal menjadi lebih mantap.

*Naskah ini adalah bagian dari makalah yang berjudul Keluarga dan Pembentukan Karakter yang dipaparkan pada seminar dan lokakarya bagi guru-guru, dalam rangka pendidikan karakter di sekolah. Acara diselenggarakan oleh Yayasan Jati Diri Bangsa (2010). Naskah awal disunting dan dilengkapi oleh Eko A Meinarno.

Referensi:

Ariela, J. (2018). Mengajarkan empati kepada anak-anak. Buletin KPIN Vol.4. No.6, Maret. http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/254-mengajarkan-empati-kepada-anak-anak.

Chandra, J. S. (2009). Mother’s teaching strategies and critical thinking in very young children. Dalam building Asian families and Communities in the 21st Century. Penyunting Jas Laile Suzana Jaafar dan Sherri McCarthy. Newcastle: Cambridge Scholar Publishing.

Markam, S. S. (2018). Karakter: Sebuah pengantar . Buletin KPIN. Vol.4. No.10, Mei.http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/273-karakter-sebuah-pengantar-2.

Markam, S. S., Rahmawati, S. W. (2018). Keluarga dan pembentukan karakter. Buletin KPIN. Vol.4. No.12, Juni. http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/284-keluarga-dan-pembentukan-karakter.

Newman, B. M., & Newman, P. R. (2017). Development through life: A psychosocial approach. Cengage Learnin

Papalia et al. (2004). Human development. New York. McGraw Hill.

Rahmawati, S. (2017) Integrated Role Model: Saat bersatunya kata dan perbuatan adalah niscaya. Buletin KPIN Vol.3. No.9, September. http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/195-integrated-role-model-saat-bersatunya-kata-dan-perbuatan-adalah-niscaya.

Selviana. (2017). Pentingnya kelekatan orang tua dengan remaja. Buletin KPIN Vol.3. No.1, Januari. http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/150-pentingnya-kelekatan-orang-tua-dengan-remaja.

Wasito, D. R., & Indrijati, H. (2017). Efektivitas pembelajaran kooperatif (cooperative learning) untuk meningkatkan keterampilan sosial pada siswa taman kanak-kanak. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology, 4(2), 160-174.

Zubaidi, A. (2009). Kajian terhadap perkembangan moral generasi muda. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh