ISSN 2477-1686

 

 

                                                                                       Vol.4. No.19 Oktober 2018

Perilaku Hidup Sehat: Sulit atau Mudah?

Oleh

Sandra Handayani Sutanto

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Fenomena sehari-hari

Menjaga dan meningkatkan kesehatan menjadi suatu hal yang seharusnya dilakukan tapi susah atau bahkan gagal dilakukan oleh sebagian besar orang. Benar begitu? Ada banyak alasan yang mendasari kegagalan seseorang untuk meningkatkan kesehatan, mulai dari alasan malas, tidak ada waktu hingga perasaan optimis bahwa diri mereka cukup sehat dan jauh dari penyakit   Pada kenyataannya (entah mau diakui atau tidak) hidup kita tidaklah sehat. Hal ini ditemui pada mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Psikologi Kesehatan. Mereka kurang minum air putih, tidak melakukan olahraga secara teratur, tidak mengonsumsi makanan kaya serat (buah dan sayur) dan kurang tidur.

Perilaku Sehat

Perilaku sehat atau perilaku hidup sehat didefinisikan perilaku yang dilakukan oleh individu untuk meningkatkan atau mempertahankan kesehatan. Sedangkan health promotion didefinisikan sebagai filosofi yang memiliki ide pokok untuk memperoleh kesehatan yang baik, wellness sebagai pencapaian personal dan kelompok (Taylor, 2012). Namun demikian, keinginan untuk mewujudkan perilaku sehat mungkin mengalami hambatan seperti masalah emosi atau kebiasaan yang tidak sehat, misalnya minum minuman manis untuk mendapatkan perasaan senang.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sehat

Sarafino dan Smith (2011) menyatakan beberapa faktor yang turut mempengaruhi perilaku hidup sehat sebagai berikut :

1.    Faktor genetika atau keturunan yang mempengaruhi perilaku hidup sehat seperti minum alkohol yang berlebih.

2.    Pembelajaran, perubahan perilaku ditentukan oleh konsekuensinya. Tiga jenis konsekuensi yang penting adalah reinforcement , punishment dan extinction. Reinforcement didapat jika melakukan sesuatu  yang memiliki konsekuensi positif, misalnya mendapat hadiah setiap kali menyikat gigi.  Hukuman atau punishment diperoleh jika melakukan tindakan yang mendatangkan konsekuensi negatif, misalnya bermain korek api dan dimarahi oleh orang tua. Konsekuensi extinction  terjadi jika konsekuensi dihilangkan dan respon yang dihasilkan bertahap menjadi negatif terutama jika tidak ada penguat yang menggantikan.

3.    Perilaku yang berhubungan dengan hidup sehat juga dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti teman atau keluarga yang akan mendorong atau mematahkan perilaku tertentu. Contohnya merokok karena pergaulan atau tidak merokok karena takut diusir dari rumah.

4.    Faktor kognitif juga turut berkontribusi dalam perilaku sehat yang akan ditampilkan. Jika memiliki pengetahuan yang benar tentang hidup sehat dan solusi yang baik maka hal tersebut akan mendorong gaya hidup sehat.

5.    Optimisme yang tidak realistis juga turut mempengaruhi perilaku hidup sehat. Jika individu sangat optimis terhadap kesehatannya, mereka cenderung abai untuk menjaga kesehatannya.

 

Teori Transtheoretical

Untuk mengubah kebiasaan buruk tidak bisa dilakukan secara instan. Individu akan mengalami beberapa tahapan saat mencoba untuk mengubah kebiasaan menjadi perilaku hidup sehat. Proschaka dkk (dalam Taylor 2012) mengutarakan tahapan untuk merubah kebiasaan yang terdiri dari :

1.    Fase pre-kontemplasi

Fase prekontemplasi terjadi saat individu tidak memiliki niatan untuk mengubah perilakunya, misal X memiliki kebiasaan minum air kurang dari 2 liter per hari

2.    Fase kontemplasi

Tahapan saat individu menyadari masalah yang dimiliki dan memikirkan hal tersebut tapi belum memiliki komitmen untuk melakukan perubahan. Contohnya X menyadari bahwa ia mulai mengalami masalah buang air kecil namun belum terpikir untuk menambah jumlah air yang harus diminum.

3.    Fase persiapan

Pada tahapan ini, individu mulai memiliki niat untuk menghentikan kebiasaan yang tidak sehat namun belum berhasil, misalnya menambah jumlah air yang akan dikonsumsi tapi belum mencapai 2 liter per hari.

4.    Tindakan

Tahapan ini terjadi ketika individu memodifikasi perilaku untuk mengatasi masalah yang dialami. Tahapan ini memerlukan komitmen waktu dan energi untuk sampai pada perubahan perilaku. Contoh perilakunya disiplin untuk meminum air sebanyak 2 liter per hari selama 1 bulan.

5.    Pemeliharaan

Pada tahapan terakhir ini individu berusaha untuk mencegah relapse dan mengkonsolidasikan hasil yang sudah dicapai. Contoh perilakunya dengan cara membawa air minum dalam botol dan mengingatkan diri sendiri untuk disiplin meminum air putih.

Terkait dengan fenomena yang sudah dijelaskan sebelumnya, mahasiswa yang memiliki gaya hidup tidak sehat membuat program peningkatan kesehatan (health promoting behaviors) yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, seperti dengan meminum air putih sebanyak dua liter, meningkatkan kebiasaan olahraga, membiasakan diri mengonsumsi buah-buahan hingga kebiasaan tidur yang cukup.

Perilaku hidup sehat memang bukan hal yang mudah, namun tidak mustahil untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hal ini dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi kebiasaan sehat yang menguntungkan buat diri kita.

 

We are what we repeatedly do. Success is not an action but a habit.

- Aristotle

 

Referensi:

 

Sarafino, E.P. , & Smith, T.W. (2011). Health psychology : Biopsychosocial interactions (7th ed.). Danvers : John Wiley & Sons, Inc 

Taylor, S.E. (2012). Health psychology (9th ed.). New York : McGraw-Hill.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh