ISSN 2477-1686

 

                                                                                       Vol.4. No.15 Agustus 2018

 

                                                                                              

 

Cerdas Menaklukkan Emosi

 

Oleh

 

Pradipta Christy Pratiwi

 

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan (UPH)

 

Pentingnya Emosi

 

Pernahkah Anda mendengar pernyataan seperti ini: “Sudah..sudah..tidak perlu menyelesaikan masalah pakai emosi”.  Terkadang kita keliru menafsirkan emosi yang nyatanya disamakan dengan situasi ketika marah tidak terkendali. Pada tulisan kali ini, kita akan melihat pentingnya emosi dari sudut pandang psikologi komunikasi. DeVito (2009) menyampaikan bahwa emosi merupakan bagian penting dalam komunikasi intrapersonal dan interpersonal. DeVito menggambarkan emosi kedalam primary emotions dan blended emotions. Sesuai dengan istilah yang dipakai, primary emotion terdiri dari beberapa emosi dasar seperti senang, percaya, takut, terkejut, sedih, jijik, marah dan antisipasi, sedangkan blended emotion merupakan kombinasi dari beberapa primary emotions. Misalnya, trust dan joy akan memunculkan emosi love. Ditambahkan oleh Dann (2002) bahwa kita membutuhkan emosi untuk dapat mengkomunikasikan perasaan, menetapkan batas mampu-tidak mampu melakukan sesuatu dan mengambil keputusan secara tepat.

 

Konten emosi ini penting bagi komunikasi intrapersonal. Disadari atau tidak, dalam keseharian kita selalu melibatkan komunikasi intrapersonal (DeVito, 2009), bahkan saat situasi komunikasi interpersonal. Ketika kita berbicara, kita sekaligus menjadi pendengar. Artinya, kita menganalisis input yang diperoleh dari reaksi orang lain maupun diri sendiri. Mari kita bersama simak ilustrasi situasi berikut. Suatu hari Anda sebagai pekerja harus mempresentasikan proyek penting yang akan menjadi salah satu penentu nasib perusahaan Anda. Hal ini memicu kecemasan pada Anda. Ada dua skema yang bisa terjadi, pertama,  Anda merasa termotivasi untuk mempersiapkan dengan baik. Hal ini menandakan bahwa emosi cemas mengakibatkan munculnya perilaku adaptif. Kedua, Anda tiba-tiba merasakan ketidaknyamanan seperti pusing, sakit perut, demam dan tidak mampu berkonsentrasi saat bekerja. Hal ini menggambarkan bahwa emosi cemas mengakibatkan munculnya perilaku maladaptif.

 

Kecerdasan Emosi

 

Dari ilustrasi yang dijelaskan di atas, tentu kita kemudian berpikir bahwa dampak maladaptif yang mungkin dialami bukanlah karena tidak mampu secara kognitif, namun karena keterlibatan emosi dalam situasi tersebut. Konteks ini seringkali dikaitkan dengan kecerdasan emosi. Ketika kita kurang mampu menaklukkan emosi yang kita alami maka emosi yang akan menguasai kita dan sebaliknya.

 

Dann (2002) menafsirkan kecerdasan emosional sebagai kemampuan individu untuk memecahkan masalah dan menjalani kehidupan secara lebih efektif dengan menggunakan emosi. Ketika kita mengabaikan emosi maka akan mengakibatkan masalah-masalah yang lebih serius. Pada tokoh lain yang menjadi pionir dalam berbagai penelitian emosi yaitu Peter Salovey dan John Mayer (dalam Davis, 2006) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi merupakan suatu kemampuan individu dalam memonitor perasaan diri sendiri dan orang lain, membedakan perasaan-perasaan tersebut dan menggunakannya dalam tindakan-tindakan sehari-hari.

 

Goleman (1999), tokoh yang meneruskan berbagai penelitian Peter Salovey dan Joh Mayer, menekankan kecerdasan emosi terkait erat dengan suatu keterampilan dasar, yaitu pengendalian diri. Keterampilan ini merupakan suatu hal penting yang membuat individu mengelola emosinya. Individu yang memiliki kemauan untuk mengasah keterampilan pengendalian diri kemudian akan menjadi pribadi yang berkarakter cerdas secara emosi. Selain itu juga menolong individu untuk bisa berempati dengan orang lain dan memberikan kasih terhadap orang lain.

 

Lebih lanjut, Goleman (1999) mengungkapkan adanya beberapa aspek kecerdasan emosi , yaitu:

 

  • Kemampuan mengenali emosi diri, artinya individu memiliki kebutuhan dan kesadaran akan pentingnya pengenalan perasaan atau emosi yang sedang dialami dalam suatu konteks tertentu;
  • Kemampuan mengelola emosi, hal ini terkait dengan kemampuan dalam menangani dan mengungkapkan perasaan dengan cara yang sesuai, dapat diterima secara sosial dan tidak merugikan diri sendiri;
  • Motivasi diri, artinya individu memiliki keinginan yang kuat untuk mengendalikan diri dari segala macam bentuk dorongan atau kepuasan hati sehingga individu dapat bekerja secara efektif dan produktif;
  • Kemampuan mengenali emosi orang lain, yaitu memuat keterampilan dalam bergaul, pribadi yang empatik dan peduli terhadap orang lain;
  • Kemampuan membina relasi, artinya individu telah memiliki kemampuan-kemampuan di atas dan kemudian mewujudkannya dalam upaya untuk dapat menjalin relasi dengan orang lain dan relasi tersebut mendatangkan keberhasilan atau manfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

 

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa kecerdasan emosi bukanlah suatu istilah yang rumit dan jauh dari jangkauan kehidupan sehari-hari. Justru kecerdasan emosi ini sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup kita sehari-hari bersama dengan orang lain. Hendaknya kita memahami bahwa ketika kita diharapkan cerdas mengelola emosi bukan berarti kita tidak boleh mengungkapkan emosi. Pemahaman bahwa kita tidak boleh marah adalah suatu pemahaman yang kurang tepat. Setiap emosi hendaknya diungkapkan dengan cara yang asertif, untuk mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

Relevansi dengan Generasi Saat ini

 

Sebuah film yang terinspirasi dari kejadian nyata, Bad Genius, buatan Nattawut Poonpiriya dapat menjadi refleksi kita bersama. Film ini menceritakan seorang siswa yang sangat pandai matematika dan memperoleh beasiswa penuh dari sekolahnya, namun kepandaiannya ternyata tidak menghindarkannya dari masalah dan justru ia menciptakan masalah-masalah baru dengan kepandaiannya tersebut. Ia menjadi joki jawaban ujian di sekolahnya dan bahkan untuk ujian masuk universitas yang berskala internasional. Masalah ini menggambarkan adanya ketimpangan dari aspek pengelolaan emosi dan pengendalian diri walaupun dari segi kognitif sangat baik. Inilah maksud dari Goleman (1999) bahwa kecerdasan emosi sebaiknya menjadi komplementer bagi kecerdasan kognitif. Tokoh utama yang digambarkan difilm ini bermasalah dari faktor emosional dan tidak pada faktor intelektualnya. 

 

Penelitian yang pernah dilakukan dalam sebuah skripsi Fakultas UGM 1995-1996 (dalam Martin, 2003) terhadap sejumlah siswa SMP ber-IQ di atas 120 yang gagal pada mata pelajaran matematika. Hasil riset eksperimental ini menunjukkan bahwa kegagalan tersebut terletak pada adanya perasaan cemas kalau mereka tidak paham atau membuat kesalahan. Ada pula yang disebabkan oleh rasa tidak suka terhadap guru matematika tertentu atau alasan emosional lainnya. Hal ini memberikan gambaran pada kita bahwa masalah yang terjadi bukan pada kecerdasan intelektual namun pada permasalahan emosional mereka.

 

Masalah-masalah lain yang cenderung terus menerus ada dari tahun ke tahun seperti tawuran dan bullying menjadi gambaran adanya krisis emosi yang cerdas. Bahkan untuk masalah menyontek yang sepertinya sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Baik tawuran, bullying dan menyontek merupakan masalah-masalah terkait dengan pengelolaan emosi yang tidak tepat. Ketidakmampuan dalam pengendalian diri yang kemudian menjalar pada ketidakmampuan dalam mengenali emosi diri dan orang lain, ketiadaan empati dan kepedulian bahwa tindakan yang dilakukan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Dari perbagai penjelasan yang telah dipaparkan maka kemudian penting bagi kita untuk bersama-sama dapat berkontribusi dalam membagikan pemahaman mengenai pengelolaan emosi baik lewat diskusi-diskusi kelompok kecil, seminar atau pelatihan sehingga kita terampil menaklukkan emosi, yaitu mengenali, mengelola dan mengekspresikan dengan cara yang sesuai. Dengan demikian akan semakin banyak pribadi-pribadi yang empati dan peduli terhadap sesamanya. 

 

Referensi

 

Dann, J. (2002). Memahami kecerdasan emosional dalam seminggu. Jakarta: Penerbit Prestasi Pustaka.

 

DeVito, J. A. (2009). The interpersonal communication book (12th ed.). Boston, MA: Pearson.

 

Goleman, D. (1999). Emotional intelligence: Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Martin, A.D. (2003). Emotional quality management: Refleksi, revisi, dan revitalisasi hidup melalui kekuatan emosi. Jakarta: Penerbit Arga.

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh