ISSN 2477-1686

 

                                                                                       Vol.4. No.15 Agustus 2018

 

Mengajak Berpikir Mendalam pada Generasi Phi (p)

Oleh

Eko A Meinarno, PIC Modul dan Buku K-PIN

Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak pemilu 2014 hingga saat ini berita bohong (hoaks) yang mengandung unsur kebencian amat mudah menyebar. Berita bohong itu tidak sekedar bohong, bahkan digunakan dengan intensi kuat untuk menjatuhkan nama calon yang akan dipilih (lihat Putra, 2016). Artikel ini tidak akan menjelaskan berita bohongnya, tapi lebih pada bagaimana kita membangun generasi Phi yang mampu kritis dalam menerima, mencerna dan kemudian merespon informasi yang ada.

Secara alami, setidaknya menurut saya manusia akan selalu berpikir. Hal ini dikarenakan otak sepatutnya menjalankan tugasnya. Mari kita ambil sebuah kegiatan. Jika kita menerima tugas membuat gambar pemandangan apa kiranya yang kemudian akan kita gambar? Mayoritas dari kita akan menggambar pemandangan alam (gunung atau lautan, jika ingin coba silakan lakukan pada 10 orang). Saat ditanyakan kemudian, setelah selesai menggambar, apakah terpikir untuk menggambar selain gunung/laut pasti dijawab iya. Namun karena “hanya sekedar” ikut perintah maka yang terjadi munculah kedua bentuk gambar tadi (Saya jadi teringat kisah lelucon dari buku Mati Ketawa Cara Rusia, “berapa dua kali dua? Terserah jawaban partai”. Saat itu di Uni Soviet tidak ada kebebasan berpendapat). 

Apa yang disimulasikan tadi memperlihatkan betapa individu terkadang “malas” untuk tetap berpikir, makanya yang dilakukan adalah yang termudah menggambar yang sama sejak TK. Demikian dengan informasi yang mendera. Kita mendapat informasi dengan sangat deras, nyaris tidak bisa dibendung. Tanpa pikir panjang pula kita meneruskan informasi itu tanpa tahu benar salahnya, tepat/tidak tepat dan lainnya. Apakah ada solusinya?

Gejala tadi dapat menjadi pijakan kita untuk membahas kebutuhan manusia untuk senantiasa memahami segala perwujudan kenyataan secara kritis, radikal dan sistematis (inilah yang disebut sebagai filsafat) (Takwin, 2013). Jadi jika kita berani untuk mempertanyakan perintah menggambar tadi (adakah peluang berekspresi lebih?), kemudian menerjemahkan arti pemandangan menurut diri (jika suka gambar komputer atau uang), dan kemudian menggambarkannya maka diri kita tengah berfilsafat.

Sama halnya dalam proses belajar mengajar. Para dosen dapat berfilsafat dengan cara yang sederhana saja. Ketika sebuah konsep dimunculkan, berilah peluang mahasiswa untuk memahaminya dengan upaya pencarian. Tahan sejenak diri kita sebagai dosen untuk melulu memberi informasi langsung. Beri mereka ruang untuk mencari tahu dari berbagai sumber lain sebagaimana harapan kita agar mahasiswa menjadi manusia yang kritis (Meinarno, 2017a) dan berkemampuan analisis (Meinarno, 2017a, 2017b).

Untuk dapat berfilsafat perlu berpikir kritis. Berpikir kritis adalah upaya pencarian yang aktif, sistematis, mengikuti kaidah-kaidah logika serta mempertimbangkan berbagai sudut pandang untuk mengerti dan dan mengevaluasi sesuatu informasi dengan tujuan untuk menentukan apakah informasi itu diterima, ditolak atau ditangguhkan penilaiannya (Takwin, 1997 dalam Takwin, Meinarno, Salim, Kurniawati, Diponegoro, Prasetyawati, 2011). Maka perintah menggambar pemandangan dan berapa dua kali dua tidak akan dijawab dengan sesuatu yang terberi. Pengalaman, informasi baru atau bahkan pemikiran-pemikiran baru dapat diajukan. Bisa saja jawaban lebih dari satu atau bisa saja jawabannya satu, tapi dengan metode yang beragam atau bahkan ditangguhkan dulu. Kejadian yang relatif baru adalah mengeluarkan planet Pluto dari kategori planet, padahal telah puluhan tahun Pluto dianggap planet oleh astronom.

Hal ini mirip dengan pengembangan moral, hasil penelitian Walker dan Taylor (1991) menemukan bahwa perkembangan moral anak-anak akan berkembang baik ketika orangtua mengajak diskusi dengan gaya bertanya Sokratik, penuh dukungan, dan cara berpikir moral yang tinggi. Artinya moral bukan sekedar hafalan normatif, tapi dia diasah dengan tanya jawab yang menantang. Bahwasanya berpikir kritis dalam ruang kelas, masyarakat dan bahkan untuk mengembangkan moral dibutuhkan wawasan luas dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang.

Terlalu berharga jika generasi phi ini hanya sekedar menjadi generasi pasif dan mudah termakan berita bohong. Sudah saatnya generasi phi ini membawa bangsa ini lebih maju dengan mengajak mereka berpikir lebih mendalam.

Referensi

 

Dologopolova, Z. (penyunting). (1986). Mati ketawa cara Rusia. Terjemahan. Jakarta. Pustaka Gratifipers.

Meinarno, EA. (2017a). Perubahan Cara Belajar: Intervensi Perilaku belajar mahasiswa baru. Buletin K-PIN Vol. 3 No. 6. Juni 2017.

Meinarno, EA. (2017b). Perubahan Cara Belajar: Menjalankan metode-metode pengajaran baru pada mahasiswa. Buletin K-PIN Vol.3 No. 8. Agustus 2017.

Meinarno, EA. (2018). Dari berpikir cara daftar pustaka untuk menangkal berita bohong. Buletin K-PIN. Vol.4. No.1, Januari 2018. Diunduh dari http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/231-dari-berpikir-cara-daftar-pustaka-untuk-menangkal-berita-bohong-3

Putra, I. E. (2016). Representations and discourse about religion and Chinese descendants in 2012 Jakarta's election. The Qualitative Report, 21(10), 1799.

Takwin B. (2013). Dasar-dasar filsafat. Dalam buku ajar I Kekuatan dan keutamaan karakter, filsafat, logika, dan etika. Penyunting: Bagus Takwin, Fristian Hadinata, Saraswati Putri. Universitas Indonesia. Depok.

Takwin, B., Meinarno., EA., Salim, ES., Kurniawati, F., Diponegoro, M., Prasetyawati, W. (2011). Buku Orientasi Belajar Mahasiswa: Belajar di Perguruan Tinggi. Depok. Direktorat Pendidikan Universitas Indonesia. Depok.

Walker, L.J., & Taylor, JH. (1991). Family interactions and the development of moral reasoning. Child development, 62(2), 264-283.

 

 

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh