ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.13, Juli 2018

Pentingnya Kode Etik Profesi:

Kasus Etika Jurnalistik dalam ‘Green Zone’

Oleh:

Thomas Panji Wicaksono dan Clara Moningka

Program Studi Psikologi Fakultas Humaniora dan Bisnis

Universitas Pembangunan Jaya

 

Kode etik disusun untuk memberikan batasan pada para profesional tentang tingkah laku yang etis. Diharapkan individu dengan profesi tertentu dapat berperilaku pantas. Pada dasarnya tulisan ini mengingatkan kita kembali akan pentingnya kode etik suatu profesi. Pada tulisan ini penulis menelaah kode etik dari sudut profesi sebagai jurnalis. Saat ini kita kerap membaca berita hoax atau berita yang terkesan melebih-lebihkan atau menimbulkan kontroversi, padahal keakuratan dari berita yang ditulis oleh sebuah jurnalis adalah sebuah hal yang sangat penting. Misalnya, kode etik Society of Professional Journalists (2014) menyatakan bahwa “jurnalis harus bertanggung jawab atas keakuratan dari hasil kerja mereka, memverifikasi informasi sebelum merilisnya, dan sebisa mungkin menggunakan sumber asli.” Contoh fiktif dalam film yang secara spesifik melanggar rekomendasi ini ada dalam film Green Zone, sebuah film thriller perang yang dirils tahun 2010. Film ini dibuat berdasarkan buku non-fiksi mengenai keadaan di Green Zone (wilayah yang dikuasai oleh pasukan Amerika) di Baghdad saat invasi Irak tahun 2003 oleh Amerika Serikat.

Film ini menceritakan bagaimana pasukan Amerika berkali-kali gagal menemukan senjata pemusnah masal yang menurut informasi mereka tersembunyi di Irak. Tokoh utama di film ini (‘Miller’) adalah seorang tentara Amerika yang mulai curiga dengan ketidakakuratan informasi yang mereka peroleh. Adegan lain menunjukkan seorang jurnalis dari koran ternama Amerika di Green Zone (‘Dayne’) yang sedang mencari informasi mengenai seorang informan yang diberi nama kode ‘Magellan’. Dayne kebetulan bertemu dengan Miller, dan memintanya untuk mengkontaknya apabila ia memiliki informasi. Miller menelusuri latar belakang Dayne, dan menemukan bahwa Dayne adalah seorang jurnalis yang menulis sebuah artikel yang menyatakan bahwa Magellan membocorkan informasi mengenai adanya senjata pemusnah masal di Irak. Berita ini menjadi salah satu hal yang mendukung keputusan Amerika untuk menginvasi Irak saat itu.

Miller mengkonfrontasi Dayne mengenai keakuratan berita yang ia tulis, namun Dayne menyatakan bahwa ia memperoleh informasi mengenai Magellan dari sumber yang ‘terpercaya’, dan tidak melakukan konfirmasi mengenai kebenarannya. Miller meneruskan investigasinya, dan menemukan bahwa informasi yang disampaikan oleh ‘Magellan’ pada kenyataannya adalah sebaliknya, yaitu bahwa tidak terdapat senjata pemusnah masal di Irak. Informasi ini diputarbalikkan oleh pihak Amerika agar Amerika memiliki alasan untuk menginvasi Irak. Di akhir film, Dayne menemukan sebuah e-mail dari Miller yang menunjukkan bahwa Miller telah mengirim sebuah e-mail yang ditujukan kepada banyak jurnalis dari koran ternama lainnya yang berisi sebuah laporan terkait kebenaran di balik sosok Magellan.

Dayne tampak sebagai sosok jurnalis yang sangat ambisius dalam menemukan bahan berita yang akan mengangkat namanya. Karena ambisinya itu, ia menjadi kurang berhati-hati dalam pertimbangan etisnya. Dayne menunjukkan bahwa ia sadar bahwa informasi yang tidak ia peroleh secara langsung mengenai Magellan memang tidak didukung oleh bukti, namun ia tetap merilis berita tersebut. Ia pun terus mengejar berita mengenai Magellan hingga ke Baghdad berdasarkan informasi palsu tersebut, yang menunjukkan ambisinya untuk terus mengejar berita populer tersebut.

Tindakan Dayne juga melanggar prinsip etika dasar untuk tidak melakukan hal yang merugikan orang lain. Di satu sisi, bisa diargumentasikan bahwa berita mengenai senjata pemusnah masal berkaitan dengan bahaya yang sangat besar terhadap banyak manusia, sehingga Dayne melaporkannya tanpa bukti yang kuat mungkin dapat dibenarkan mengingat besarnya risiko yang ditanggung apabila berita itu benar. Di sisi lain, pada akhirnya berita tersebut terbukti salah, dan artikel yang Dayne tulis turut berperan dalam mendorong perang Irak yang berkaitan dengan penderitaan orang banyak. Dayne seharusnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk melaporkannya, dan mempertimbangkan risiko yang ada baik apabila ia melaporkan maupun apabila ia tidak melaporkannya.

Selain menggambarkan pelanggaran yang Dayne lakukan, akhir dari film ini juga menunjukkan konsekuensi yang ditanggung oleh pelanggar. Miller memutuskan untuk mengirim laporan yang ia tulis kepada banyak jurnalis lain selain Dayne karena Miller telah kehilangan kepercayaan terhadap Dayne. Tindakan Miller untuk mengirimnya tidak hanya ke satu jurnalis melainkan ke berbagai jurnalis dari berbagai outlet berita juga menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap jurnalisme secara umum. Dengan mengirimkannya secara masal, informasi tersebut menjadi milik publik dan semakin kecil kemungkinannya bahwa informasi tersebut akan disalahgunakan. Bagaimana Miller kehilangan kerpercayaan terhadap jurnalisme menggambarkan salah satu fungsi penting dari kode etik profesi, yaitu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap profesi tersebut.

Kode etik profesi disusun dengan maksud yang luhur, baik terhadap profesi itu sendiri maupun terhadap orang-orang yang terlibat dengannya. Kasus etika jurnalisme dalam Green Zone mengingatkan kita tentang bagaimana perilaku yang tidak sesuai sesuai kode etik dapat merugikan kedua belah pihak. Walaupun kode etik profesi bukan merupakan peraturan yang mengikat perilaku anggotanya, kode etik tetap memberikan panduan yang berguna untuk menentukan tindakan yang benar dalam suatu situasi.

Referensi

Society of Professional Journalists, 2014. SPJ Code of Ethics. Diambil April 17, 2018 dari https://www.spj.org/ethicscode.asp

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh