ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.13, Juli 2018

Mengatasi Kesepian Pada Masa Usia Lanjut

Oleh:

Selviana

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Gambaran Masa Usia Lanjut

Menjadi tua adalah suatu kepastian bagi setiap orang. Searah dengan pertambahan usia, lanjut usia (lansia) akan mengalami penurunan baik dari secara fisik maupun mental. Menurunnya kesehatan dan kemampuan fisik akan mengakibatkan lansia secara perlahan menarik diri dari hubungan dengan masyarakat sekitar, yang dapat menyebabkan menurunnya interaksi sosial. Kondisi lansia yang mengalami berbagai penurunan atau kemunduran baik fungsi biologis maupun psikis dapat mempengaruhi mobilitas dan juga kontak sosial, salah satunya adalah rasa kesepian (loneliness). Lansia yang mengalami kesepian seringkali merasa jenuh dan bosan dengan hidupnya, sehingga dirinya berharap agar kematian segera datang menjemputnya. Hal itu karena dirinya tidak ingin menyusahkan keluarga dan orang-orang disekitarnya. Tugas-tugas perkembangan pada masa lansia mengalami perubahan seiring dengan adanya penyesuaian dengan peran baru baik secara pribadi maupun dalam masyarakat. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan lansia umumnya berpotensi pada munculnya tekanan hidup karena stigma menjadi tua dianggap sebagai usia yang dikaitkan dengan kelemahan, ketidakberdayaan, dan rentan terhadap penyakit. Selain itu perubahan pada lansia seringkali mengantarkan pada perasaan ketidakberdayaan, sehingga cenderung lebih emosional, sensitif atau mudah marah. Menurut Hurlock (2004) lansia seringkali mengalami permasalahan emosional dan mental yang cukup berat. Oleh karena itu, bahaya psikologis pada lansia dianggap memiliki dampak yang paling besar dibandingkan tahap perkembangan sebelumnya. Akibatnya lansia seringkali mengalami masalah dalam menyesuaikan diri dan seringkali mengalami kesepian.

 

Fenomena Kesepian Pada Masa Usia Lanjut

 

 

Na’Imah dan Septiningsih (2016) menyebutkan fenomena kesepian pada lansia yang merupakan masalah psikologis dapat dilihat dari: a) sudah berkurangnya kegiatan dalam mengasuh anak-anak, b) berkurangnya teman atau relasi akibat kurangnya aktifitas di luar rumah, c) kurangnya aktifitas sehingga waktu luang bertambah banyak, d) meninggalnya pasangan hidup, e) ditinggalkan anak-anak karena menempuh pendidikan yang lebih tinggi, atau meninggalkan rumah untuk be-kerja, e) anak-anak telah dewasa dan membentuk keluarga sendiri. Lansia yang mengalami kesepian, biasanya melakukan kegiatan-kegiatan baik yang melibatkan fisik, psikis maupun hubungan sosial yang bertujuan untuk menghilangkan kesepiannya, atau paling tidak dapat mengurangi rasa kesepiannya.

Pengertian Kesepian

Kesepian adalah perasaan tersisihkan dari orang lain karena merasa berbeda dengan orang lain, tersisih dari kelompoknya, merasa tidak diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya, terisolasi dari lingkungan, serta tidak ada seseorang tempat berbagi rasa dan pengalaman (Sampao, 2005). Kondisi ini menimbulkan perasaan tidak berdaya, kurang percaya diri dan kurang diperhatikan. Seseorang yang menyatakan dirinya kesepian cenderung menilai dirinya sebagai individu yang kurang berharga, kurang diperhatikan dan kurang kasih sayang. Rasa kesepian akan semakin dirasakan oleh lanjut usia yang sebelumnya adalah seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan yang menghadirkan atau berhubungan dengan orang banyak.

Saran-saran yang dapat membantu Usia Lanjut mengatasi Kesepian

Beberapa saran untuk mengatasi kesepian pada masa usia lanjut, antara lain: 

  1. Dukungan keluarga (anak, cucu, dan anggota keluarga lain). Dengan keberadaan keluarga, lansia merasa mendapatkan dukungan untuk diperhatikan, sehingga dapat melanjutkan proses hidupnya. Selain itu, keberadaan anak dapat menjadi salah satu perwujudan atas rasa bakti anak kepada orang tuanya, sehingga dapat menjadi kebanggaan lansia pada anak-anaknya. Namun, ketika anak dan keluarganya menjadi beban bagi lansia, maka akan memberikan kesan tersendiri bagi lansia. Papalia, D.E, Olds, S.W.,& Feldman, R. D (2008) mengungkapkan bahwa lansia cenderung menjadi tertekan apabila anaknya memiliki masalah yang serius, salah satunya dengan ketergantungan keuangan, yang dianggap sebagai sinyal kegagalan dalam mendidik anak untuk hidup lebih mandiri. Menurut Suardiman (2011) kepuasan hidup menunjuk kepada kesejahteraan psikologis pada umumnya dikarenakan kepuasan hidup secara luas digunakan sebagai indeks kesejahteraan bagi usila.
  2. Menjalin kontak sosial dengan teman, tetangga. Misalnya aktif dalam berbagai kegiatan sosial, senam, paduan suara, menyalurkan hobi, atau kegiatan keagamaan. Kegiatan dalam kelompok akan menghadirkan nuansa kegembiraan yang setidaknya memiliki agenda kapan bisa bertemu dengan teman-teman untuk saling bertukar informasi dan bersendau gurau (Na’Imah & Septiningsih, 2016)
  3. Melakukan suatu aktivitas seperti: membaca, mendengarkan musik, menonton TV, berjalan-jalan, berbelanja, menyiram tanaman, memberi makan binatang peliharan, menyapu, menyanyi, membersihkan kamar, dan kegiatan lain. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menimbulkan rasa senang dan sibuk, sehingga dapat menghalau kesepian (Na’Imah & Septiningsih, 2016).

 

Referensi:

Hurlock, E. (2004). Psikologi perkembangan. Jakarta: Erlangga Press.

Papalia, D.E, Olds, S.W.,& Feldman, R.D. (2008). Human development. Jakarta: Kencana

Sampao, P. (2005). Relationship of health status, family relations and loneliness to depression in older adult (Tesis tidak dipublikasikan). Mahidol University, Thailand. 

Septiningsih, D ., & Na’Imah, T. (2016). Kesepian pada usia lanjut: Studi tentang bentuk, faktor pencetus dan strategi coping. Psycho Idea, 1, 1-9. 

Suardiman, S. P. (2011). Psikologi usia lanjut. Yogyakarta: UGM Press.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh