ISSN 2477-1686

 Vol.4. No.12, Juni 2018

Serat Wedhatama Sebagai Salah Satu Warisan Budaya Jawa

Oleh:

Pradipta Christy Pratiwi1

Universitas Pelita Harapan (UPH)

Yohanes Suwanto2

Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)

Setiap kita terlahir dalam suatu lingkup latar belakang yang tidak dapat terelakkan, hal itu dinamakan budaya. Melalui usaha memahami latar belakang budaya kita, terdapat peluang untuk dapat lebih memahami diri kita sendiri dengan lebih komprehensif. Bolehlah kita menggunakan istilah yang disampaikan Myers (2013), bahwa budaya merupakan segala bentuk perilaku, ide-ide, sikap-sikap dan tradisi-tradisi yang menguat dan dimiliki oleh suatu kelompok individu dan diturunkan pada generasi-generasi berikutnya. Dari penjelasan tersebut, kita memahami adanya aspek produk dan aspek waktu yang menyertainya. Sebuah budaya menghasilkan suatu produk yang khas dan dipertahankan pada jangka waktu yang lama. Dalam proses tersebut, terdapat suatu penerimaan, upaya dan penghayatan dari individu sebagai pihak yang merasa menjadi bagian dari budaya itu.

Mubarok (dalam Urbayatun & Diponegoro, 2015) memberikan kritik psikologi modern yang berasal dari aliran Barat. Ia menilai bahwa masyarakat Barat cenderung bersifat sekuler, oleh karena itu tidak cocok apabila kita menggunakan konsep dan nilai budaya Barat. Perlu disadari bahwa teori-teori psikologi tidak bersifat universal dan mungkin saja dapat mengeliminasi kualitas-kualitas khas yang dimiliki oleh budaya kita sendiri. Dengan demikian, tampaklah kebutuhan bagi kita untuk dapat memahami, menganalisa dan menyelesaikan suatu gejala dengan sudut pandang budaya yang khas sesuai latar belakang individu. Kemudian muncullah upaya-upaya indigenous psychology, yang bertujuan memahami manusia sesuai dengan konteks budayanya. Salah satunya, perkawinan antara psikologi dan budaya jawa. Orang-orang Jawa banyak menghasilkan produk budaya, seperti: batik, wayang, bahasa, literasi dan banyak hal lainnya. Karya-karya ini tentunya bukanlah suatu karya yang baru, bahkan justru sudah ada dari berabad-abad yang lalu. Hasil budaya Jawa yang dinilai cukup berpengaruh salah satunya adalah karya sastra bernama Serat Wedhatama. Pada tulisan ini, diharapkan para pembaca memperoleh kesempatan untuk mengenal salah satu warisan budaya asli Indonesia tersebut.

Apa itu Serat Wedhatama?

Penjelasan Serat Wedhatama dari sudut pandang semantik yang dibagi kedalam tiga buah suku kata yaitu serat (tulisan), wedha (pengetahuan) dan tama (baik, tinggi dan luhur). Serat Wedhatama adalah sebuah karya sastra yang memuat pengetahuan dalam mencapai keluhuran hidup umat manusia (Wibawa, 2013). Serat Wedhatama berisikan ajaran yang ditulis oleh Mangkunegara IV sebagai seorang raja yang pandai menulis sastra Jawa, serat ini bersumber dari budaya Jawa itu sendiri (Sumarno, 2012). Serat Wedhatama ini juga sebuah ajaran yang mengajarkan cara manusia berelasi dengan sesama manusia, manusia berelasi dengan Tuhan serta cara manusia berelasi dengan dirinya sendiri (Asdi, dalam Urbayatun & Diponegoro, 2015).

Terdapat lima pupuh dalam Serat Wedhatama, yaitu Pangkur, Sinom, Pucung, Gambuh dan Kinanthi. Pangkur rmenjelaskan cara untuk memiliki identitas atau menjadi pribadi dengan figur yang baik. Sinom berisi tentang kewajiban, hak dan dasar-dasar spiritual dalam menjalani kehidupan. Pocung memuat makna pentingnya perjuangan manusia dalam mendapatkan kekuasaan, kekayaan dan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan. Gambuh membantu dalam memahami agama meliputi sembah catur (raga, cipta, jiwa, rasa). Kinanthi mengajarkan konsep menjalankan hidup dengan baik (Pujiartati, dalam Pujiartati & Sariyatun, 2017).

Nilai Luhur yang Terkandung dalam Serat Wedhatama 

Pada literasi yang disebut Serat Wedhatama ini, memuat nilai-nilai ajaran luhur yang memberikan gambaran cara menjalani hidup dengan baik. Contoh satu dari 100 bait Serat Wedhatama dalam pupuh/tembang Pangkur (Wibawa, 2013; Sumarno, 2012):

Mingkar mingkuring angkara

Akarama karenan Mardi siwi

Sinawung resmining kidung

Sinuba sinukarta

Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung

Kang tumrap ing tanah Jawa

Agama ageming aji

(Terjemahan: Menghindar dari kejahatan, karena senang mendidik anak, dibuat dalam bentuk nyanyian yang indah, dibuat baik dan indah, agar sejahtera pada perilaku ilmu luhur, yang diterapkan di tanah Jawa, Agama sebagai pegangannya)

Berdasarkan kutipan bait Pangkur di atas, menggambarkan keterkaitan antara ajaran yang ingin disampaikan dengan ilmu psikologi. Apabila ahli Barat mengenalinya sebagai psikologi transpersonal, maka kita dapat membahasakannya sebagai psikologi spiritual (Urbayatun & Diponegoro, 2015). Pupuh tersebut mengingatkan masyarakat Jawa agar selalu ingat dan berpegang pada agama, yang apabila lebih ditafsirkan secara lebih spesifik adalah Tuhan. Dengan memiliki relasi yang dekat dengan Tuhan, manusia menghindarkan diri dari segala bentuk kejahatan dan berperilaku sesuai nilai-nilai luhur. Hal ini terkait dengan religiusitas dalam konsep psikologi positif, bahwa individu cenderung mencari relasi dengan ‘spiritual being’ yang memiliki derajat lebih tinggi daripada dirinya. Compton & Hoffman (2013) mencatat berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa religiusitas memiliki korelasi dengan kesejahteraan psikologis dan kesehatan mental yang lebih baik.

Relevansi dan Kontribusi untuk Generasi Saat ini

Zaman modern saat ini, teknologi dan sains telah sangat berkontribusi untuk mendatangkan kemudahan bagi manusia. Bukan berarti kemudian dari segala kemudahan yang ada lantas tidak ada kesulitan. Arif (2016) menyampaikan bahwa manusia modern ini sulit mencapai makna dalam hidupnya, salah satunya karena usaha-usaha manusia untuk mencapai self-sufficiency tanpa melibatkan figur Tuhan yang berkuasa atas manusia. Dengan implementasi Serat Wedhatama, kita memiliki peluang untuk membantu membentuk pola pikir dan perilaku para generasi berikutnya untuk terus menyadari kodrat manusia sebagai ciptaan-Nya.

Penjelasan lain, Serat Wedhatama mengandung tuntunan perilaku yang dapat menjadi landasan strategi pengembangan pendidikan karakter yang berbasis budaya lokal, yaitu budaya Jawa (Sumarno, 2012). Pada penelitian Pujiartati & Sariyatun (2017) menyimpulkan bahwa implementasi nilai-nilai Serat Wedhatama dalam pembelajaran sejarah dapat menjadi satu proses pengembangan karakter pada generasi muda untuk menghadapi globalisasi. Ajaran Serat Wedhatama sebagai hasil perenungan Mangkunegara IV yang berisikan petunjuk perilaku bagi masyarakat Jawa ini masih relevan untuk dijadikan bahan kajian penelitian lebih lanjut pada generasi masa kini (Urbayatun & Diponegoro, 2015), misalnya terkait dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Referensi:

Arif, I. S. (2016). Psikologi positif: Pendekatan statistik menuju kebahagiaan. Jakarta: PT Gramedia.

Compton, W. C. & Hoffman, E. (2013). Positive psychology: The science of happiness and flourishing (2th Ed.). Wadsworth: Cengage Learning.

Myers, D. G. (2013). Social Psychology (11th Ed.). New York: McGraw-Hill, Inc.

Pujiartati, R. & Sariyatun. (2017, Maret).  Dekonstruksi nilai-nilai etika dan moral dalam serat wedhatama sebagai media pembelajaran sejarah. Paper dipresentasikan dalam Seminar Pendidikan Nasional: Pemanfaatan Smartphone untuk Literasi Produktif Menjadi Guru Hebat dengan Smartphone, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Sumarno. (2012). Nilai-nilai Budaya Jawa dalam Serat Wedhatama. Jurnal Partrawidya, 15(2), hal. 271-298.

Urbayatun, S. & Diponegoro, A. M. (2015). Terapan ajaran dalam serat wedhatama untuk mengatasi problem psikologis pada ibu-ibu wilayah cangkringan, sleman, pasca erupsi merapi. Paper dipresentasikan dalam Seminar Nasional: Selamatkan Generasi Bangsa dengan Membentuk Karakter Berbasis Kearifan Lokal, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Wibawa, S. (2013). Filsafat Jawa dalam Serat Wedhatama. Jurnal Ikadbudi, Vol. 2, Desember 2013.

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh