ISSN 2477-1686

Vol.4. No.1, Januari 2018

Dari Berpikir Cara Daftar Pustaka untuk Menangkal Berita Bohong

Oleh:

Eko A Meinarno

PIC Modul-Buku K-PIN

Berita bohong (hoax) bermunculan dan ternyata sangat kuat memengaruhi masyarakat. Awalnya berita yang muncul sekedar ide-ide konyol yang masih dapat dinalar dengan mudah. Perlahan isi berita bernada sumbang dari satu kelompok terhadap kelompok lawannya, atau tulisan seakan ilmiah yang berdasar ilmiah padahal jelas tidak tepat. Sampai yang terakhir adalah upaya penghasutan dan penyerangan terhadap kelompok lain. yang menarik adalah, dapat dkatakan berita bohong ini nyaris tanpa cerna langsung ditelan. Bahkan yang lebih mengerikan adalah berita bohong malah disebarluaskan tanpa disaring lebih dulu.  

Asumsi sederhananya bahwa informasi yang ditelan mentah-mentah dan kemudian disebarkan tanpa adanya kontrol dikarenakan tidak adanya upaya alami dari individu untuk kembali memeriksa apakah informasi yang didapat benar atau salah. Apakah hal ini akan terus dibiarkan? Padahal kerugian yang ditimbulkan jauh lebih banyak daripada keuntungannya. Lalu apakah ada langkah dari perguruan tinggi dalam menahan laju berita bohong? 

Perguruan tinggi sebenarnya tidak langsung menjadi benteng dari serangan penyebaran berita bohong. Namun ada modal perguruan tinggi yang dapat menjadi penahan laju penyebaran berita bohong itu. Hal ini terlihat dari upaya perguruan tinggi membangun ilmuwan yang jujur akademis. Di perguruan tinggi mahasiswa diajak untuk menjadi manusia yang kritis (Meinarno, 2017a) dengan harapan bahwa karakterisik yang terbangun adalah mahasiswa berkemampuan analisis (Meinarno, 2017a, 2017c).

Rujukan atau yang ditulis di skripsi/tesis/disertasi atau artikel jurnal atau buku sebagai daftar pustaka amatlah penting. Di situ penulis atau peneliti menunjukkan kejujuran akademiknya. Ia atau mereka perlihatkan apa yang mereka baca dan rujuk untuk membangun logika yang diajukan. Penggunaan daftar pustaka tidak sebatas untuk kajian yang dianggap mendukung tulisan, bahkan juga digunakan untuk yang menentang temuan atau argumentasi peneliti. 

Di era milenial ini, rujukan tak hanya ada di perpustakaan fisik (walau ini tetap dibutuhkan di semua perguruan tinggi). Salah satu cara untuk mendapatkan rujukan dapat lihat internet. Diantaranya yang sederhana adalah melalui “Mbah Google” (Meinarno, 2017b) atau bahasa ilmiahnya mesin pencari. Namun dari sekian juta sumber yang ada bagaimana memilihnya? Tentu rujukan yang digunakan tidak boleh sembarangan. Ada kriteria-kriteria tertentu agar sebuah rujukan dianggap layak. 

Kriteria itu antara lain: otoritas, isi, kemutakhiran, navigasi (Naibaho, Wahyuli, Hevita, Aries, & Pawoko, 2012). Otoritas dapat kita lihat dari nama domain situs beberapa domain yang digunakan untuk sitasi umumnya berupa domain akhiran .edu, .gov, .org, .int, .museum. Isi data dilihat dari bagaimana tata bahasa yang digunakan bahkan menuliskan rujukannya. Secara sederhana wikipedia.org dapat menjadi contoh situs yang menuliskan rujukan untuk paparannya. Kemutakhiran dapat dilihat dari kapan revisi terakhir situs itu. Terakhir adalah navigasi, yang memudahkan pembacanya untuk akses dan mengetahui jaringan yang tersambung di dalam atau di luarnya.  

Jika merujuk penjelasan tentang kriteria sumber dari internet khususnya pada mahasiswa maka logika sederhananya, latihan menulis karya akan terbawa dalam kehidupan sehari-harinya. Ketika mahasiswa (atau lulusan mahasiswa alias sarjana) menerima berita bohong sepantasnya ia/mereka tidak akan mudah menjadi penyebar berita bohong. Secara individual ia akan mencoba mencari sumber lain untuk menegaskan atau menolak apa yang ia terima. Jika tidak dapat dipertanggungjawabkan maka ia akan tidak lanjutkan penyebaran info tadi. Analisis dan pikiran kritisnya akan menahan dirinya untuk menjadi bagian guncangan masyarakat akibat sebaran berita tadi

Tulisan ini mungkin sangat tidak psikologis. Akan tetapi penulis mengajak untuk kembali ingat bahwa pendidikan selama di perguruan tinggi bukan semata ilmu spesifiknya yang ditimba, tapi ketrampilan memilih dan memilah yang logis dan benar juga kompetensi yang disiapkan selama mahasiswa kuliah. Pada merekalah masa depan bangsa ini bergantung. 

Referensi

Meinarno, EA. (2017a). Perubahan Cara Belajar: Intervensi Perilaku belajar mahasiswa baru. Buletin K-PIN Vol. 3 No. 6. Juni 2017. ISSN 2477-1686.     

Meinarno, EA. (2017b). Perubahan Cara Belajar: Intervensi Perilaku belajar mahasiswa baru. Buletin K-PIN Vol.3 No. 7. Juli 2017. ISSN 2477-1686.

Meinarno, EA. (2017c). Perubahan Cara Belajar: Menjalankan metode-metode pengajaran baru pada mahasiswa. Buletin K-PIN Vol.3 No. 8. Agustus 2017. ISSN 2477-1686.

Naibaho, K., Wahyuli, L., Hevita LM., Aries, M., Pawoko, S. (2012). Information literacy. Dalam Buku Orientasi Belajar Mahasiswa (OBM). Program Pengembangan Kepribadian Pendidikan Tinggi Universitas Indonesia. Penerbit FKUI. Jakarta.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh