ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 60 Juni 2026
Sindrom Rumput Tetangga:
Menelisik Krisis Apresiasi Masyarakat Urban Medan terhadap Skena Musik Lokal
Oleh:
M Zulfikar Triadi Sucipto
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Kota Medan sejatinya tidak pernah mengalami kekeringan talenta. Mulai dari gemerlap panggung pencarian bakat nasional hingga denyut skena musik independen maupun major label yang terus bergerilya di sudut-sudut kota, nama-nama besar seperti Lyodra Ginting, Basboi, hingga Oslo Ibrahim menjadi bukti tak terbantahkan bahwa kualitas musisi asal Medan memiliki daya tawar yang tinggi di kancah nasional. Namun, sebuah anomali yang cukup ironis muncul tepat di jantung kota ini: apresiasi masyarakat urban Medan justru sering kali terasa dingin saat menyikapi karya anak daerahnya sendiri, sementara musisi dari luar daerah khususnya ibu kota, dengan mudahnya merajai daftar putar harian mereka. Jika terus dibiarkan, sindrom "rumput tetangga lebih merdu" ini berisiko memicu brain drain, sebuah eksodus talenta di mana Medan hanya akan berakhir sebagai kota pabrik pengekspor seniman, namun gagal membangun fondasi industri kreatifnya sendiri. Fenomena ini bukanlah sekadar perkara selera audio yang dangkal, melainkan sebuah teka-teki psikologi sosial yang mencerminkan bagaimana masyarakat kota ini menegosiasikan identitasnya.
Jika kita membedah anomali ini melalui lensa klasik Teori Identitas Sosial yang digagas oleh Tajfel dan Turner, situasi di Medan merupakan sebuah penyimpangan. Teori tersebut pada dasarnya memprediksi adanya kecenderungan individu untuk membanggakan dan mendukung kelompoknya sendiri (in-group favoritism) demi mendongkrak harga diri. Akan tetapi, masyarakat urban Medan justru mempertontonkan kecenderungan sebaliknya, yakni favoritisme terhadap kelompok luar (out-group preference). Alih-alih merangkul identitas kulturalnya dengan bangga, banyak individu melakukan disidentifikasi simbolik dengan menjauhkan diri dari embel-embel "produk lokal". Sikap apatis ini secara psikologis berakar pada ketakutan akan alienasi sosial; ada kecemasan bawah sadar bahwa berafiliasi dengan karya musisi daerah akan membuat mereka dilabeli sebagai individu yang tertinggal zaman, kurang pergaulan, atau tidak kosmopolitan di mata rekan sebayanya.
Ketakutan akan pelabelan sosial ini menjadi semakin kompleks jika kita melihatnya dari kacamata sosiolog Pierre Bourdieu yang disandingkan dengan realitas era digital kiwari. Dalam struktur masyarakat urban, daftar putar musik di platform streaming bukan lagi sekadar kumpulan hiburan, melainkan sebuah modal simbolik yang bernilai tinggi. Sebagaimana temuan Webster (2020), algoritma platform musik digital saat ini secara aktif membentuk selera dan mempertegas segregasi kelas sosial penggunanya. Mengonsumsi dan memamerkan musik dari musisi ibu kota yang terus-menerus didorong oleh algoritma "Top Hits" memberikan suntikan gengsi sosial tersendiri. Masyarakat urban tanpa sadar terjebak dalam sebuah filter bubble (gelembung filter) digital; mereka terkurung mendengarkan hal yang sama demi mendapatkan ilusi rasa aman secara kelas sosial. Di titik ini, musik telah beralih fungsi menjadi alat tawar-menawar status yang efektif untuk memproyeksikan citra bahwa mereka adalah bagian dari denyut tren global, bukan sekadar "anak daerah".
Lebih dalam lagi, dinginnya apresiasi ini juga sangat dipengaruhi oleh internalisasi stereotip inferioritas yang bisa dijelaskan lewat Stereotype Content Model dari Fiske dan rekan-rekannya. Dalam mengevaluasi karya seni lokal, masyarakat urban sering kali terjebak dalam bias kognitif yang memisahkan kehangatan (warmth) dan kompetensi (competence). Mereka mungkin menaruh simpati dan merasa dekat dengan musisi lokal karena kesamaan logat atau budaya. Namun ironisnya, di saat yang bersamaan, mereka meragukan apakah kualitas rekaman, penulisan lirik, atau musikalitas band lokal tersebut benar-benar setara dengan standar industri di pusat. Pandangan miring ini nyaris tidak pernah didasari oleh penilaian objektif melalui proses mendengarkan karya secara utuh, melainkan lebih banyak disetir oleh konstruksi sosial warisan masa lalu yang menanamkan doktrin imajiner bahwa segala hal yang datang dari ibu kota sudah pasti lebih superior.
Pada akhirnya, fenomena krisis apresiasi ini adalah cermin dari bagaimana kita memandang diri dan komunitas kita sendiri. Upaya memutus rantai ini tidak bisa melulu dibebankan pada pundak para seniman. Di saat para musisi independen lokal telah memeras keringat membangun ekosistemnya secara mandiri, mulai dari memikirkan tata visual yang matang, merangkai siaran pers yang profesional, hingga mengeksekusi aksi panggung yang memukau, masyarakat urban perlu meresponsnya dengan mendobrak gelembung algoritma mereka melalui kebiasaan mendengarkan secara berkesadaran (conscious listening). Mendukung skena lokal bukanlah sebuah sikap kedaerahan yang sempit, melainkan sebuah pengakuan objektif terhadap kompetensi talenta yang bernapas di udara yang sama dengan kita. Ketika kita mulai memiliki keberanian untuk memutar dan membanggakan karya musisi kota sendiri tanpa dibayangi ketakutan akan kehilangan gengsi, di saat itulah krisis apresiasi ini berakhir, dan identitas sosial kita benar-benar pulih serta berdaya.
Referensi:
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. G. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241–258). Greenwood.
Fiske, S. T., Cuddy, A. J. C., & Glick, P. (2007). Universal dimensions of social cognition: warmth and competence. Trends in Cognitive Sciences, 11(2), 77–83.
Hogg, M. A. (2006). Social identity theory. In P. J. Burke (Ed.), Contemporary social psychological theories (pp. 111–136). Stanford University Press.
Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. Organizational behavior and human performance, 25(2), 77-94.
Webster, J. (2020). Taste in the platform age: Music streaming services and new forms of class distinction. Information, Communication & Society, 23(13), 1909-1924.