ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 60 Juni 2026
Bertahan dalam Ketidakjelasan: Mengapa Sulit Melepaskan Hubungan yang Tidak Sehat?
Oleh:
Cindy Novelyn Widjaya & Jane Michaela
Fakultas Psikologi, UNIKA Atma Jaya Jakarta
Fenomena hubungan tanpa status yang jelas atau situationship semakin banyak ditemukan, khususnya pada generasi muda. Hubungan ini ditandai dengan kedekatan emosional yang intens tanpa adanya komitmen yang tegas dan terdefinisi. Pada fase awal, interaksi biasanya dipenuhi perasaan romantis dan afeksi yang berkembang secara natural, hingga tanpa disadari kedua individu berada dalam posisi saling nyaman meskipun tidak ada kepastian arah hubungan. Di satu sisi, dinamika ini memberikan ruang fleksibilitas, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan kebingungan, ketidakpastian, serta dinamika emosional yang kompleks. Ketika ekspektasi dan batasan tidak dikomunikasikan secara jelas, hubungan ini rentan memicu kesalahpahaman, konflik, bahkan perubahan pola keterikatan emosional. Menariknya, meskipun seringkali memunculkan kecemasan dan ketidakstabilan, banyak individu tetap bertahan dan mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari hubungan yang tidak sehat ini. Lalu, mengapa seseorang sulit melepaskan hubungan yang tidak sehat dan terus mencoba bertahan?
Fenomena hubungan tanpa status seperti situationship dapat dijelaskan melalui attachment theory yang dikemukakan oleh John Bowlby (1988). Teori ini menjelaskan bahwa pengalaman keterikatan emosional membentuk pola individu dalam menjalin hubungan dengan orang lain, terutama dalam hubungan romantis. Individu dengan kecenderungan anxious attachment umumnya memiliki rasa takut ditinggalkan serta kebutuhan yang tinggi terhadap validasi emosional. Kondisi tersebut membuat individu cenderung tetap mempertahankan hubungan meskipun hubungan tersebut menyakitkan atau tidak sehat, karena adanya ketakutan kehilangan kedekatan emosional yang telah terbentuk. Dalam konteks ini, kedua individu masih mempertahankan komunikasi meskipun hubungan telah berakhir, yang menunjukkan adanya kesulitan untuk benar-benar melepaskan keterikatan emosional satu sama lain.
Dinamika tersebut juga dapat dipahami melalui konsep intermittent reinforcement yang diperkenalkan oleh B. F. Skinner (1953). Konsep ini merujuk pada pola pemberian afeksi, perhatian, atau harapan yang tidak konsisten, tetapi justru memperkuat keterikatan individu terhadap hubungan. Dalam hubungan tanpa kepastian, pasangan dapat menunjukkan kedekatan emosional yang intens pada satu waktu, namun di waktu lain bersikap menjauh atau bahkan menyakiti. Pola yang tidak menentu ini menciptakan harapan bahwa hubungan masih dapat diperbaiki sehingga individu terus bertahan meskipun mengalami luka emosional.
Selain itu, kecenderungan people pleasing turut berperan dalam mempertahankan hubungan yang tidak memiliki kejelasan. Individu dengan kecenderungan ini umumnya mengalami kesulitan untuk menolak, menyakiti, atau melepaskan orang lain karena adanya kebutuhan untuk mempertahankan penerimaan sosial dan menghindari konflik. Akibatnya, individu lebih memilih bertahan meskipun hubungan yang dijalani tidak memberikan kepastian. Situasi tersebut kemudian membentuk pola interaksi yang membingungkan, di mana individu berada dalam posisi “menunggu” tanpa adanya keputusan yang jelas dan tegas. Penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan seperti self-silencing dan kesulitan menetapkan batasan berkaitan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah serta kualitas hubungan yang kurang optimal (Jack & Dill, 2022). Di sisi lain, berakhirnya hubungan secara formal tidak selalu diikuti dengan berakhirnya ikatan emosional. Kedekatan yang telah terbentuk sebelumnya dapat tetap bertahan sehingga individu masih terdorong untuk menjalin komunikasi dan mempertahankan keterikatan, baik secara sadar maupun tidak. Hal ini menunjukkan bahwa keterikatan emosional tidak selalu berakhir seiring putusnya status hubungan, melainkan dapat terus memengaruhi keputusan dan perilaku individu setelah hubungan tersebut berakhir (Griffith et al., 2017).
Hubungan seperti ini dapat berdampak pada kesehatan psikologis individu. Ketidakpastian hubungan yang berlangsung terus-menerus dapat memunculkan kecemasan, overthinking, ketidakamanan emosional, hingga menurunnya harga diri. Individu menjadi terbiasa menerima perlakuan yang tidak konsisten karena merasa bahwa kedekatan emosional yang sudah terjalin lebih penting dibandingkan rasa sakit yang dialami. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membentuk pola hubungan yang tidak sehat dan memengaruhi cara individu membangun relasi di masa depan.
Berdasarkan fenomena tersebut, dapat dipahami bahwa sulitnya seseorang melepaskan hubungan yang tidak sehat bukan hanya disebabkan oleh perasaan cinta semata, tetapi juga dipengaruhi oleh keterikatan emosional, pola penguatan yang tidak konsisten, serta kecenderungan untuk terus menyenangkan pasangan. Hubungan tanpa status pada akhirnya bukan sekadar “hubungan tanpa status”, melainkan juga ruang yang dapat menciptakan ketidakjelasan emosional dan membuat individu terjebak dalam hubungan yang sulit diakhiri meskipun menyadari bahwa hubungan tersebut tidak lagi sejalan dengan nilai pribadi.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hanya tentang seberapa besar rasa sayang yang dimiliki atau tentang waktu yang diberikan, tetapi juga tentang adanya kejelasan, rasa aman, konsistensi, dan keberanian untuk saling menghargai dan menjaga kebutuhan emosional satu sama lain. Bertahan dalam hubungan yang penuh ketidakpastian seringkali membuat individu lupa bahwa dirinya juga berhak mendapatkan kepastian, ketenangan, dan relasi yang tidak terus-menerus menguras energi. Menyadari bahwa suatu hubungan tidak lagi sehat memang bukan hal yang mudah, terlebih ketika keterikatan emosional sudah terbentuk begitu kuat. Namun, memahami pola hubungan yang dijalani dapat menjadi langkah awal untuk membangun batasan yang lebih sehat, mengenali kebutuhan diri sendiri serta belajar melepaskan hubungan yang justru melukai diri secara perlahan.
Jadi, apakah selama ini kita benar-benar bertahan karena cinta, atau sebenarnya karena takut kehilangan seseorang yang sudah terbiasa hadir dalam hidup kita, meskipun kehadirannya lebih banyak menghadirkan luka dibandingkan ketenangan?
Daftar Pustaka
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Maharashtra, S. M. (2024, May 7). Exploring modern romance in adolescence: The psychology of situationships. LM Psikologi UGM
Griffith, R. L., Gillath, O., Zhao, X., & Martinez, R. (2017). Staying friends with ex-romanticpartners: Predictors, reasons, and outcomes. Personal Relationships,24(3), 550–584.
Hazan, C., & Shaver, P. R. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52(3), 511–524.
Jack, D. C., & Dill, D. (2022). The silencing the self scale: Updated perspectives and applications. Psychology of Women Quarterly.
Skinner, B. F. (1953). Science and human behavior. Macmillan.