ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 60 Juni 2026
Validasi di Ujung Jempol dan Ketergantungan yang
Tak Disadari
Oleh:
Syifa Salsabila
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Di era digital saat ini, validasi tidak lagi harus diucapkan secara langsung. Ia hadir dalam bentuk sederhana seperti jumlah like, komentar, dan notifikasi yang muncul di layar ponsel. Dalam sekali sentuh, seseorang bisa merasa dihargai atau justru diabaikan. Fenomena ini menjadi semakin kuat sejak hadirnya platform berbasis video pendek seperti TikTok dan Instagram Reels. Konten yang cepat, instan, dan terus bergulir membuat pengguna terus kembali, bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk mencari pengakuan sosial. Tanpa disadari, validasi sosial kini berpindah ke ujung jempol.
Menurut Sulinta (2025) individu yang terlalu fokus pada jumlah like atau komentar cenderung menilai harga dirinya berdasarkan penilaian orang lain. Ketika respons yang diterima tinggi, mereka merasa lebih berharga. Namun sebaliknya, ketika respons minim, muncul perasaan kurang, tidak cukup, bahkan meragukan diri sendiri.
Kalau ditarik lebih dalam, kebutuhan akan validasi sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak dulu, manusia memang memiliki dorongan untuk diterima dan dihargai oleh lingkungannya. Dalam teori kebutuhan oleh Abraham Maslow, kebutuhan akan penghargaan yaitu keinginan untuk merasa diakui, dianggap penting, dan bernilai.Namun, yang membedakan hari ini adalah cara mendapatkannya. Jika dulu validasi hadir melalui interaksi nyata, kini ia datang dalam bentuk angka jumlah like, komentar, dan viewers. Sayangnya, ketika angka-angka ini mulai dijadikan tolok ukur nilai diri, maka validasi tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan bisa berubah menjadi ketergantungan.
Selain itu, Vogel et al. (2014) menunjukkan bahwa aktivitas perbandingan sosial di media sosial memiliki hubungan negatif dengan self-esteem. Individu yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih rendah. Di sisi lain, validasi digital juga terasa sulit dilepaskan karena setiap notifikasi yang muncul, baik berupa like, komentar, maupun jumlah penonton, secara tidak langsung memicu rasa senang dalam diri.
Penelitian oleh Sherman et al. (2016) menunjukkan bahwa like di media sosial dapat mengaktifkan sistem reward di otak, sehingga memperkuat perilaku untuk terus mencari validasi. Hal ini membuat setiap respons positif terasa menyenangkan dan mendorong individu untuk mengulang perilaku yang sama. Dalam perspektif psikologi perilaku, B.F.
Skinner menjelaskan bahwa perilaku yang mendapatkan penguatan (reward) cenderung akan diulang. Dalam konteks ini, like dan komentar menjadi bentuk penguatan yang membuat seseorang terus mengunggah dan mengecek respons yang diterima, sehingga tanpa disadari kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi dorongan untuk terus mencari perhatian melalui media sosial.
Menurut Leon Festinger (1954), manusia secara alami memiliki kecenderungan untuk melakukan perbandingan sosial guna memahami posisi dirinya. Namun, di media sosial, yang terlihat sering kali hanyalah versi terbaik dari kehidupan seseorang seperti pencapaian, penampilan, dan momen bahagia yang telah diseleksi. Akibatnya, perbandingan yang terjadi menjadi tidak seimbang. Seseorang mulai merasa tertinggal, kurang menarik, atau tidak cukup baik. Dalam kondisi ini, validasi dari like dan komentar menjadi semakin penting, karena digunakan untuk “menutup” rasa kurang tersebut. Sayangnya, hal ini justru memperkuat ketergantungan yang sudah terbentuk sebelumnya.
Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi perlahan memengaruhi kondisi emosional seseorang. Ketika validasi digital menjadi penting, suasana hati pun mulai ikut bergantung padanya. Unggahan yang ramai respons bisa membuat seseorang merasa senang dan percaya diri, sementara unggahan yang sepi justru memunculkan rasa kecewa, cemas, bahkan mempertanyakan diri sendiri.
Tidak sedikit pula yang mulai mengalami overthinking, memikirkan apa yang salah dari dirinya, dari konten yang diunggah, atau dari cara orang lain melihatnya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuat seseorang merasa tidak cukup baik, meskipun sebenarnya tidak ada yang benar-benar kurang dari dirinya. Tanpa disadari, perhatian yang seharusnya digunakan untuk menjalani kehidupan nyata justru tersita untuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di layar orang lain.
Berdasarkan uraian tersebut, ketergantungan terhadap validasi digital dipengaruhi oleh kebutuhan akan penghargaan, mekanisme reward, dan perbandingan sosial. Pada akhirnya, validasi dari orang lain memang terasa menyenangkan, tetapi tidak seharusnya menjadi penentu nilai diri. Karena nilai diri tidak selalu terlihat dari seberapa banyak respons yang kita terima, melainkan dari bagaimana kita memandang diri kita sendiri.
Referensi:
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
Maslow, A. H. (1987). Motivation and personality (3rd ed.). New York: Harper & Row.
Sherman, L. E., et al. (2016). The power of the like in adolescence. Psychological Science.
Skinner, B. F. (1938). The behavior of organisms: An experimental analysis. New York: Appleton-Century.
Sulinta, Feri. (2025). Ego dan sosial media. Feri Sulianta Press.
Vogel, E. A., et al. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Journal of Social and Clinical Psychology.