ISSN 2477-1686

Vol.3. No.10, September 2017

Belajar Islam di Media Sosial

Nuri Sadida

Fakultas Psikologi, Universitas Yarsi

Media sosial hari ini dianggap dapat memenuhi banyak kebutuhan masyarakat. Mulai dari kebutuhan mencari informasi, berkomunikasi, berinteraksi, pengungkapan diri (self disclosure), bahkan hingga kebutuhan beragama. Aktivitas di media sosial yang memenuhi kebutuhan beragama seseorang adalah menelusuri (browsing) materi agama, berdiskusi tentang agama, dan juga self-disclosure seputar agama yang dituangkan dalam status tulisan, gambar, atau pun video.

Materi Agama dalam Media Sosial

Lalu lintas materi agama di lini masa media sosial masyarakat Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan isu-isu sosial-politik yang marak sejak 2014 di Indonesia yang berkaitan dengan Agama. Materi Agama yang dimaksud adalah Agama Islam dikarenakan penduduk Indonesia di dominasi pemeluk Agama Islam.Beberapa isu seputar pencalonan pemimpin kepala Negara hingga kepala Daerah tidak lepas dari pembahasan tuntunan Islam di dalamnya.Maraknya bahasan Islam ini di kemudian hari mendorong kesadaran masyarakat, baik masyarakat umum hingga pemuka agama Islam, untuk mengkaji agama Islam lebih jauh dalam forum nyata maupun forum maya di media sosial.

Dampak Positif dan Negatif Materi Agama di Media Sosial

Pada survey tidak terstruktur yang penulis lakukan di media sosial Facebook, beberapa pengguna media sosial merasa dengan maraknya materi Islam yang mereka baca di lini masa media sosial, membuat mereka semakin tertarik mempelajari Islam, merasa memiliki pemahaman yang semakin baik tentang Islam, dan merasa perilaku sehari-hari mereka menjadi lebih sesuai dengan tuntunan Islam.Materi-materi Islam di media sosial juga dianggap membantu bagi mereka yang merasa memiliki keterbatasan waktu untuk hadir di forum kajian.Tentu hal ini menjadi hal yang positif dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Namun di sisi lain, muncul juga kekhawatiran sebagian masyarakat lain akan tumbuhnya ekstrimisme agama yang terkait dengan meningkatnya terror atas nama Agama di Indonesia, maraknya ujaran kebencian, hingga berita bohong di media sosial. Kekhawatiran tersebut juga menjadi perhatian pemerintah yang kemudian berujung pada keluarnya aturan tentang ujaran kebencian, hingga yang terbaru muncul wacana pengawasan aktivitas beragama di sekolah dan ormas-ormas Islam.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah materi-materi Agama Islam yang masyarakat pelajari di media sosial lebih banyak berdampak positif atau negatif? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mempelajari dahulu dampak dari penggunaan media sosial terhadap perilaku sehari-hari. Menurut Lin &Utz (2005) dalam studinya tentang pengaruh penggunaan media sosial Facebook pada emosi, pada dasarnya pengguna Facebook lebih merasakan emosi positif ketika berselancar di Facebook, terutama ketika pengguna membaca status terbaru yang bersifat positif. Hanya saja, menurut studi yang sama, apabila seseorang terlalu intens menelusuri Facebook, dampaknya justru akan menyebabkan seseorang menjadi lebih mudah sedih dan depresi. Pusat riset PEW Global pada tahun 2015 jugamenyatakan bahwa masyarakat di Negara berkembang merasakan bahwa pengaruh penggunaan Internet lebih membawa dampak positif pada pengetahuan, namun membawa dampak negatif terhadap pembentukan moral.

Perlunya Sikap Bijaksana dalam Membaca Materi di Media Sosial

Beberapa studi tersebut membuat kita menyimpulkan bahwa timbulnya dampak positif atau negatif pada diri kita setelah mempelajari materi-materi di media sosial, dalam hal ini salah satunya materi Agama Islam, bergantung pada situasi dan kebiasaan seseorang dalam menggunakan media sosial. Pengaruh positif mempelajari  Islam timbul ketika seseorang berinteraksi dengan materi positif oleh lingkaran dekatnya di media sosial, khususnya ketika lingkaran dekatnya di media sosial bersifat homogeny dan religius (Bobkowski& Pearce, 2011). Akan tetapi dampak negatif dapat timbul ketika pengguna media sosial terpapar oleh materi negatif dari jejaring sosial yang tidak dekat, khususnya ketika terpapar dalam waktu yang intensif (Lin &Utz, 2005).

Agar pengguna media sosial dapat lebih meningkatkan manfaat mempelajari Islam, ada baiknya pengguna memahami kebiasaan para ilmuwan Muslim dalam mempelajari dan memahami ilmu baru. Menurut Azhari (2017) selaku ilmuwan sejarah Islam yang mengutip dari kitab Al Majruhin karya Ibnu Hibban, ulama besar seperti Yahya bin Ma'inberkata "Kalau kami belum menulis Hadits dari 30 jalur, maka kami belum memahaminya". Masih menurut Azhari (2017), dari Kitab Fathul Mughits karya As Sakhowi, ulama Abu Hatim ArRazi berkata “Kalau kami belum menulis Hadits dari 60 jalur riwayat, maka kami belum memahaminya”. Hal ini mencerminkan pentingnya kehati-hatian dalam mempelajari Islam. Kehati-hatian dalam menyerap ilmu pada akhirnya akan bermanfaat menekan kebiasaan negatif yang berkembang seperti maraknya ujaran kebencian atau berita-berita bohong.

Dengan demikian walaupun media sosial hari ini dipandang sebagai salah satu media yang efektif untuk mempelajari Islam, namun media sosial tidak dapat dijadikan sebagai media yang utama untuk memenuhi seluruh aspek kebutuhan beragama seseorang. Agar pengguna media sosial mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh, lebih utama masyarakat mempelajari Islam secara langsung pada pemuka agama, mengikuti kelas-kelas formal, dan literature teks dari ulama terpercaya.

Referensi :

Ashari, B. (2017). Beginilah Kami Diajarkan Dalam Ilmu Hadits (1). Diakses 11 Juli 2017

dari fan page facebook Budi Ashari.

Bobkowski, P. S. & Pearce, L. D. (2011).Baring Their Souls in Online Profiles or

Not? Religious Self-Disclosure in Sosial Media. Journal for the Scientific Study of Religion. Vol. 50, No. 4, pp. 744-762.

Lin, R. &Utz, S. (2015). The emotional responses of browsing Facebook: Happiness,

envy, and the role of tie strength. Journal Computers in Human Behavior 52 (2015) 29–38.

PEW Global (2015).Influence of Internet in Emerging and Developing Nations.Diakses

Dari http://www.pewglobal.org/2015/03/19/3-influence-of-internet-in-emerging-and-developing-nations/

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh