ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 53 Maret 2026

Ketika Teman Sebaya Menjadi Penopang:

Adaptasi Psikologis Mahasiswa Magang

 

Oleh:

Made Mika Cahyani Dewi & Tience Debora Valentina

Program Studi Sarjana Psikologi, Universitas Udayana

 

Kebijakan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak tahun 2020 menjadi tonggak penting dalam transformasi pendidikan tinggi di Indonesia. Melalui kebijakan ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk menempuh pembelajaran di luar kampus, salah satunya melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB), guna memperoleh pengalaman nyata di dunia kerja dan mengembangkan kompetensi non-akademik (Kemendikbudristek, 2020). Program MSIB dirancang untuk mendorong pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), di mana mahasiswa tidak hanya menguasai pengetahuan teoretis, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta kesiapan kerja (Susilawati & Setyowati, 2019).

 

Partisipasi mahasiswa dalam MSIB terus meningkat. Data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (2024) menunjukkan lonjakan jumlah peserta dari sekitar 13.000 mahasiswa pada angkatan awal menjadi hampir 48.000 mahasiswa pada angkatan keenam. Namun, peningkatan partisipasi ini juga diiringi dengan berbagai tantangan psikologis. Transisi dari lingkungan kampus ke dunia kerja menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi, termasuk penyesuaian terhadap ritme kerja yang dinamis, tuntutan profesionalisme, serta ekspektasi kinerja yang berbeda dari sistem perkuliahan (Vercelli et al., 2024). Kondisi ini berpotensi memicu stres, kecemasan, dan kelelahan mental, terutama pada mahasiswa yang belum terbiasa dengan tekanan kerja (Sudrajat & Dzikria, 2021).

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan mahasiswa dalam menjalani program magang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan teknis, tetapi juga oleh ketersediaan sumber daya psikologis dan sosial yang mendukung proses adaptasi. Salah satu sumber daya penting yang berperan dalam membantu mahasiswa menghadapi tuntutan tersebut adalah dukungan sosial, khususnya dari teman sebaya. Dukungan sebaya mencakup dukungan emosional, informasional, dan instrumental yang diperoleh dari individu dengan pengalaman dan posisi yang relatif setara (Sarafino & Smith, 2011). Dalam program magang MBKM, teman sebaya menjadi sumber dukungan yang relevan karena mahasiswa menghadapi tantangan dan tekanan yang serupa. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sebaya berkaitan dengan penurunan tingkat stres serta peningkatan kemampuan adaptasi mahasiswa (Wentzel et al., 2017). Melalui berbagi pengalaman, saling memberi umpan balik, dan validasi emosional, mahasiswa dapat membangun rasa kebersamaan serta meningkatkan keyakinan diri dalam menghadapi tuntutan magang.

 

Lebih dari sekadar relasi sosial, dukungan sebaya dalam konteks magang berfungsi sebagai mekanisme pembelajaran sosial dan regulasi emosi bagi mahasiswa. Melalui interaksi dengan teman sebaya, mahasiswa memperoleh ruang untuk mengekspresikan kesulitan, merefleksikan pengalaman, serta mempelajari strategi koping yang efektif dari individu lain yang berada dalam situasi serupa. Dukungan ini membantu mahasiswa mengurangi persepsi isolasi, meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging), serta memperkuat kepercayaan diri dalam menghadapi tuntutan kerja. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang merasakan dukungan sebaya yang kuat cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik dan menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran berbasis pengalaman (Wentzel & Muenks, 2016; Tinto, 2017).

 

Dalam program magang MBKM yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab personal, keberadaan dukungan sebaya juga berkontribusi pada pembentukan ketangguhan psikologis mahasiswa. Dukungan emosional dan informasional dari teman sebaya memungkinkan mahasiswa memaknai tantangan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai kegagalan personal. Proses saling menguatkan ini mendorong berkembangnya sikap adaptif, persistensi, dan kemampuan untuk bangkit kembali ketika menghadapi kesulitan, yang merupakan karakteristik utama dari resiliensi (Masten, 2014; Ungar, 2011). Dengan demikian, dukungan sebaya tidak hanya berperan dalam membantu mahasiswa bertahan selama masa magang, tetapi juga dalam membentuk kesiapan psikologis jangka panjang untuk menghadapi dinamika dunia kerja.

 

Referensi:

 

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. (2024). Buku panduan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) edisi 2024. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Kemendikbudristek. (2020). Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Masten, A. S. (2014). Ordinary magic: Resilience in development. The Guilford Press.

Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2011). Health psychology: Biopsychosocial interactions (7th ed.). United States of American: John Wiley & Sonc, Inc

Sudrajat, A., & Dzikria, A. (2021). Kendala Implementasi Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Perguruan Tinggi. Research and Development Journal of Education, 7(123–135)

Susilawati, L., & Setyowati, E. (2019). Pengembangan media pembelajaran blended learning synchronous versus asynchronous berbasis Edmodo pada mata kuliah penulisan karya ilmiah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Budi Utomo Malang. In Prosiding Conference on Research and Community Services, 1(123-128).

Ungar M. (2011). The social ecology of resilience: addressing contextual and cultural ambiguity of a nascent construct. American Journal of Orthopsychiatry, 81(1-17). https://doi.org/10.1111/j.1939-0025.2010.01067.x

Vercelli, D., Andreas, J., & Irene, I. (2024). Gambaran work-life balance pada mahasiswa magang MSIB Batch 6 di Jakarta. Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan, 17(1–13).

Wentzel, K. R., & Muenks, K. (2016). Peer influence on students’ motivation and engagement. Educational Psychologist 51(1), 4–23.